Teknologi Hidung Super
Suka dengan artikel ini?
Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh. Login
Selasa, 7 September 2010 - Rekayasa genetika pada sel telur kodok membawa pada perkembangan sebuah hidung buatan supersensitif.
Shoji Takeuchi dari Universitas Tokyo, Jepang, mengatakan kalau hidung elektronik masa kini, yang dipakai untuk mengendus makanan busuk di industri kurang teliti. Hidung elektronik tersebut mengandung batang-batang kuartz yang dirancang untuk bergetar pada frekuensi berbeda saat mereka tersentuh oleh zat target. Namun ini bukanlah sistem yang tangguh, karena dua zat yang sedikit berbeda, dengan berat molekul yang sama, dapat terikat pada batang ini dan menghasilkan impresi yang salah.
Takeuchi percaya kalau tidak ada yang lebih hebat dari biologi untuk membedakan berbagai bio molekul, seperti tanda-tanda penyakit di napas kita. Karena ini, timnya mengembangkan sebuah sensor bau hidup.
Pertama, telur yang belum matang, atau oosit, dari kodok cakar Afrika, Xenopus laevis, direkayasa secara genetik untuk mengekspresikan protein yang bertindak sebagai reseptor bau. Tim ini lalu meletakkan sel yang telah dimodifikasi tersebut diantara elektroda-elektroda dan mengukur arus listrik yang dihasilkan saat dia merespon pada berbegai molekul yang terikat dengan reseptornya. Mereka mengatakan kalau metode ini dapat membedakan berbagai biomolekul yang nyaris identik.
Sebagai buktinya, Takeuchi telah membuat sebuah robot yang menggoyangkan kepalanya saat feromon ngengat tercium olehnya.
Referensi
- Frog Cells Help e-Nose Smell. New Scientist 28 August 2010
- Nobuo Misawa, Hidefumi Mitsuno, Ryohei Kanzaki, and Shoji Takeuchi. Highly sensitive and selective odorant sensor using living cells expressing insect olfactory receptors PNAS 2010 107 (35) 15340-15344; http://www.pnas.org/content/early/2010/08/16/1004334107.full.pdf+html
- Urutan Genom Coelacanth Menginformasikan Evolusi Vertebrata Darat
- Misi Kepler NASA: Tiga Planet Berukuran Super-Bumi Ditemukan Dalam Zona Layak Huni
- Teknik Ultra-cepat Menyingkap Prinsip-prinsip Perancangan dalam Biologi Kuantum
- Studi Telur Mengungkap Eratnya Hubungan Evolusi Antara Burung dan Dinosaurus
- Ilmuwan Membentuk Sel-sel Saraf Baru – Langsung di Dalam Otak
- Ilmuwan Temukan Kemungkinan untuk Menciptakan Bahan Bakar dari Karbon Dioksida di Atmosfer
- Metascreen Ultra-tipis: Setahap Mewujudkan Mantel Tembus Pandang ala Harry Potter
- Kehadiran Manusia di Kepulauan Pasifik Sebabkan Kepunahan Massal Burung
- Kehidupan Ditemukan Dalam Ekosistem Terluas di Bumi, Jauh di Kedalaman Kerak Samudera
- Ilmuwan Menghidupkan Kembali Embrio Katak yang Telah Punah


