Diposting Jumat, 3 September 2010 jam 5:59 pm oleh The X

Resiko Seorang Astronot

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 3 September 2010 -


Sekarang laporan kesehatan mereka baru dirilis karena para astronot meminta penundaan sepuluh tahun sebelum publik tahu. Dan sekarang kita tahu masalahnya, apa akibat nyata dari hidup di luar angkasa.

Sebelum ke luar angkasa, para astronot tentunya mengikuti tes kesehatan. Tes ini penting untuk memeriksa bagaimana kondisi sebelum, selama dan sesudah misi antariksa.  Hanya orang yang super sehat yang boleh menjadi astronot. Berikut apa saja hasil tes kesehatan mereka selama dalam  misi.

Selama tujuh misi yang berlangsung dari 14 hingga 189 hari, hanya ada sedikit masalah kesehatan yang dialami para astronot. Itu selama di luar angkasa. Biasalah, seperti yang kita rasakan, sakit kepala, insomnia atau sembelit. Masalah biasa dan sebelum berangkat mereka sudah dibekali segala jenis obat.

Sekarang mereka pulang. Bagaimana kesehatan mereka saat hidup kembali di bumi?

Bahkan walaupun saat berangkat para astronot adalah orang yang super sehat, saat pulang? Well, tubuh mereka sudah beradaptasi dengan kondisi tanpa berat. Di ruang angkasa pengaruh gravitasi bumi begitu kecil sehingga praktis mereka tidak bermasalah dengan berat. Saat mereka pulang, sistem tubuh mereka mengalami kejutan. Shock!

Jantung sudah beradaptasi dengan gravitasi rendah, ia tidak bekerja keras untuk memompa darah ke kepala. Akibatnya tingkat hemoglobin dan tekanan darah mereka rendah. Dan begitu keluar dari kapal untuk menginjakkan kaki di bumi mereka bisa kesulitan berdiri. Kalaupun berdiri mereka akan sempoyongan dan bahkan pingsan.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak gravitasi mikro pada tulang dan otot. Secara normal mereka menopang berat tubuh. Di ruang angkasa, mereka cenderung meluruh karena tidak ada beban tanggungan. Untuk mencegahnya, astronot harus latihan di treadmills dan sepeda statis saat di ruang angkasa. Walaupun begitu, tetap saja mereka kehilangan sekitar 2 persen massa tulangnya setiap bulan!

Logo Misi Apollo

Hal yang sama juga dirasakan oleh astronot dari ISS. Otot mereka memiliki kekuatan 30% hingga 40% di bawah kekuatan otot normal. Setara dengan kakek-kakek berusia 80 tahun!

Ini mengapa kita sampai sekarang belum mengirim orang ke Mars. Ke Bulan sih bisa, misi Apollo 11 (http://www.faktailmiah.com/2010/08/30/neil-armstrong-pernah-mendarat-di-bulan.html) misalnya, hanya memakan waktu 8 hari pulang pergi (termasuk 21 jam 36 menit di permukaan bulan). Ingat gravitasi bulan hanya seperenam bumi.  Tapi kalau ke Mars, dengan teknologi sekarang waktu perginya saja perlu 9 bulan. Katakanlah ia sehari saja di Mars, pulang lagi perlu 9 bulan, jadinya 1 tahun setengah. Tapi mereka mungkin akan lama di Mars. Masalahnya, bahkan saat berada dalam gravitasi Mars, yang 38% bumi, (2.2 kali lipat bulan) para astronot akan terlalu lemah untuk bekerja dan bisa pingsan dan patah tulang.

Gimana orang biasa mau pergi ke planet lain coba, kalau astronot saja jadi bakal seperti kakek-kakek gitu kekuatannya? Ada teknik sih disarankan para ilmuan. Mulai dari penggunaan pemutar sentrifugal raksasa untuk meniru efek gravitasi hingga pengembangan sebuah pil yang dapat memblokade lenyapnya massa tulang dan otot. Tapi ada juga yang bilang, kalau gitu olahraga saja yang lebih keras lagi. Dan satu lagi masalah bagi astronot, mereka cenderung kehilangan nafsu makan. Bayangkan saja, tiap hari makanannya hanya pasta doang. Yup, makanan astronot hanya berbentuk odol. Walaupun rasanya macem-macem. Hal ini agar dapat dicerna tubuh. Seperti orang yang gak punya gigi gitu, tapi masih mending ga punya gigi, masih bisa makan nasi biarpun hanya ditelan. Usus astronot tidak bakal mampu mencerna nasi. Makan pasta terus tentu membuat selera makan lenyap dan ini juga yang membuat mereka tambah lemah. Saat ini para ilmuan sedang mengembangkan makanan pasta yang super kaya dengan protein untuk astronot, jadi biarpun hanya makan sedikit, kebutuhan gizi untuk regenerasi otot mereka mereka mencukupi.

Ini juga mengapa menjadi astronot bukanlah hal yang gampang. Proses seleksinya gila-gilaan. Saat seleksi astronot untuk stasiun ruang angkasa MIR tahun 1988 hingga 1999, ada 1065 kandidat dari seluruh Eropa. Kandidat ini bukan kepengen sendiri loh, tapi dicalonkan oleh masing-masing pihak yang terlibat. Dari 1065 orang ini, akan diseleksi 13 orang saja. Cara seleksinya? Sebagian besar gugur saat tes akademik dan profesional serta sejumlah besar  tes kesehatan. Kedengarannya biasa saja, tapi itu baru tes pertama dan disini sudah gugur 793 orang.

Kandidat yang tersisa diuji lagi kesehatan fisik dan jiwanya. Pandangan dan pendengaran harus tajam dan ukuran tubuhnya harus pas dengan kapsul Soyuz yang sempit dan akan mengantarkan mereka ke Mir. Mereka harus tahan dalam kondisi terbalik sambil diputar dengan kecepatan 30 putaran per menit. Yang mabok? Out!

Bumi dilihat dari bulan

Kandidat lalu diletakkan dalam mesin pemutar sentrifugal dan diputar hingga 8 kali kekuatan gravitasi bumi selama 30 detik. Pingsan? Out!

Sisanya disuruh duduk di sebuah kamar yang kondisinya sama dengan berada pada ketinggian 10 ribu meter. Lalu kamar mesin ini dikondisikan seperti membawa orang ke permukaan bumi hanya dalam waktu 30 detik! Itu artinya sama dengan naik kendaraan berkecepatan 1200 km/jam. Pingsan? Out!

Sisanya disuruh lari sesuai dengan usianya. Kalau usianya 40 tahun, ia harus lari 1 kilometer dalam waktu maksimal 4 menit 10 detik, dan harus lari cepat (sprint) menempuh 100 meter dengan waktu maksimal 16.8 detik. Gak mampu? Out!

Di final mereka akan di wawancarai oleh para manajer antariksa Eropa. Dan disinilah mereka akan ditentukan siapa pemenangnya.

Setelah terpilih, mereka belum tentu pasti berangkat. Mereka harus ikut program latihan dasar. Setelah program selesai, mereka dikirim ke fasilitas Star City di dekat Moscow. Disini mereka harus ikut program latihan khusus misi. Calon astronot tinggal di fasilitas selama berbulan-bulan dan mengikuti berbagai pemeriksaan kesehatan. Dan akhirnya, dua atau tiga minggu sebelum hari peluncuran, mereka dikarantina total untuk menghindari infeksi apapun. Barulah pada hari H mereka nongol, berpakaian keren dan siap berangkat ke luar angkasa dan mengabdikan diri bagi sains dan negara dengan resiko mendadak jadi kakek-kakek berusia 80 tahun.

Tertarik?

Referensi silang

  1. Clément, G.; Hamilton, D.; Davenport, L.; Comet, B. 2010. Medical survey of European astronauts during Mir missions. Advances in Space Research, Volume 46, Issue 7, p. 831-839.
  2. Compton, W.D. 1989. Where No Man Has Gone Before: A History of Apollo Lunar Exploration Missions, NASA SP-4214 in the NASA History Series.
  3. Fitts, R.H., Trappe, S.W., Costill, D.L., Gallagher, P.M., Creer, A.C., Colloton, P.A., Peters, J.R., Romatowski, J.G., Bain, J.L., Riley, D.A. 2010. Prolonged Space Flight-Induced Alterations in the Structure and Function of Human Skeletal Muscle Fibres J Physiol
  4. Marchant, J. 2010. Space trips make us Weak at the Knees.  New Scientist, 28 August 2010, pp.8-9
The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.