Diposting Sabtu, 28 Agustus 2010 jam 9:35 pm oleh The X

Teleskop

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 28 Agustus 2010 -


Walaupun teknologi yang diperlukan untuk mengumpulkan cahaya dan kualitas hasilnya sangat beraneka ragam sepanjang pita gelombang, prinsip dasarnya sama: tugas teleskop adalah mengumpulkan sebanyak mungkin cahaya dan memfokuskannya pada sebuah detektor, membentuk citra, bila mungkin. Untuk tujuan ilmiah, ada dua penyusun utama dalam proses ini: sebuah permukaan yang mengumpulkan cahaya dan memfokuskan cahaya tersebut yang disebut sebagai obyektif (juga disebut lensa, atau cermin atau antena utama, tergantung apa yang dipakai), dan sebuah alat (detektor) yang mendeteksi dan mengubah sinyal yang diperoleh ke bentuk lain, biasanya digital, untuk disimpan dan dianalisa komputer. Ini analog dengan mata manusia. Pupil membuka sehingga cahaya dapat masuk, dan bertindak sebagai pengumpul. Lensa dan cairan dalam mata bertugas memfokuskan lalu retina menjadi detektor dengan tumpukan batang dan kerucutnya. Detektor mata kemudian mengubah cahaya menjadi sinyal listrik yang dikirim ke otak untuk di analisa. Teleskop karenanya bisa dikatakan sebagai mata raksasa.

Gambar 1 memberikan diagram sebuah teleskop sederhana yang menggunakan lensa sebagai obyektif. Walau begitu, hasil ini juga dapat dicapai dengan instrumen pemantul. Karena sinyal astronomi berasal dari sangat jauh, muka gelombang yang datang dari sebuah sumber pada sudut apapun di langit akan sejajar bidang. Ini artinya berkas cahaya yang melacak arah muka gelombang juga sejajar satu sama lain, dan dipotong oleh seluruh apertur, seperti ditunjukkan. Ini juga berarti kalau posisi dari sumber yang difokuskan di balik lensa adalah panjang fokus aktual lensa, f, dan disinilah detektor harus diletakkan.

Gambar 1. Diagram teleskop optik sederhana, menunjukkan hubungan antara panjang fokus, skala linier di detektor, dan skala sudut di langit. Catat kalau sudutnya dibesarkan. Sinar dari titik yang sangat jauh, A, semua jatuh ke sejajar obyektif satu sama lain dalam sudut yang sama. Hal yang sama juga terjadi pada sinar dari titik B. Sinar yang ditunjukkan melewati pusat lensa yang tidak mengalami pembelokan karena simetri lensa. Bila pengamatan visual yang diinginkan, perlu meletakkan sebuah lensa (yang disebut okuler) di bidang fokus teleskop bukannya detektor. Okuler kemudian akan membelokkan cahaya kembali sehingga manusia dapat melihat citranya.

Geometri diagram menunjukkan bagaimana ukuran sudut benda langit, theta, terkait dengan ukuran linier detektor, l, dimana tangen theta sama dengan ukuran liner detektor dibagi fokus. Theta dapat dianggap sama dengan tangen theta karena kecil. Karenanya teleskop dengan fokus yang lebih panjang menghasilkan citra yang lebih besar di detektor. Karena fokus nilainya tetap untuk teleskop, begitu juga kuantitas theta per ukuran liner yang kadang disebut skala lempeng instrumen optik.

Teleskop ditandai berdasarkan diameter dan rasio fokusnya. Rasio fokus adalah rasio panjang fokus dengan diameter obyektif. Sebagai contoh, sebuah teleskop 3 m f/5 berarti diameter teleskopnya 3 meter dan panjang fokusnya 5 x 3 = 15 meter.

Teleskop yang lebih besar dapat mendeteksi sinyal yang lebih redup dan juga menghasilkan citra yang lebih jelas dan detil, atau disebut resolusi tinggi. Namun terdapat kendala-kendala lain yang membatasinya.

Referensi

  1. Irwin, J. 2007. Astrophysics: Decoding the Cosmos. Wiley
The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.