Diposting Sabtu, 28 Agustus 2010 jam 9:08 pm oleh The X

Seni Hipnotis

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 28 Agustus 2010 -


Kemarin saya mendengar berita penggunaan hipnotis untuk merampok  dan penggunaan hipnotis untuk berhenti merokok. Pembaca situs faktailmiah juga menyarankan mengulas sisi ilmiah dari seni hipnotis tersebut. Jadi atas dasar tersebut kami membuat artikel tentang seni hipnotis ditinjau dari, well, tentu saja, sisi ilmiah.

Di Internet ternyata ada banyak situs penelitian terpercaya yang membahas dan meneliti  hipnotisme dari segi ilmiah, terutama medis dan neurologi. Salah satu situs tersebut adalah HypnosisandSuggestion.org yang dibuat oleh Dr Matt Whalley. Dan bukan itu saja, ada banyak laporan penelitian dari ilmuan lain yang menegaskan kalau hipnotisme adalah hal yang berguna bagi kesehatan. Ambil contoh penelitian Pusat Medis Beth Israel Deaconess dan Sekolah Medis Harvard yang menemukan kalau hipnosis dapat membuat pasien lepas dari rasa sakit dan rasa takaut saat melakukan biopsi payudara. Teknik hipnotisme yang digunakan sebagai standar adalah memerintahkan pasien memutar mata mereka ke atas, menutup mata mereka, bernapas mendalam, berfokus pada sensasi mengambang dan merangsang dengan latar yang nyaman untuk semua naluri mereka. Rasanya hal ini lebih dekat pada relaksasi seperti “katakanlah anda mengatakan santai bu, tenang aja, gak apa-apa koq.”

Studi lain dari Universitas Liverpool menunjukkan kalau hipnotis dapat memperlambat pengaruh dementia dan meningkatkan kualitas hidup penderitanya. Sama halnya dengan penelitian biopsi payudara di atas, hipnotisme disini bertindak sebagai penenang. Dementia adalah penyakit terkait dengan syaraf, dan berarti pikiran. Penderita dementia mengalami penurunan kemampuan kognitif yang cepat, dengan kata lain, dementia adalah penyakit cepat pikun. Menyadari kalau ia cepat pikun bisa membuat penyakit ini semakin parah. Apa yang dilakukan ilmuan dari Universitas Liverpool adalah membuat pasien lebih berkonsentrasi pada hal-hal menyenangkan seperti sosialisasi misalnya, dan melupakan penyakitnya. Paling tidak, dampak dari pikiran sadar pasien menghilang dan penjalaran dementia melambat.

Buat anak-anak juga bisa. Penelitian Universitas Medis Upstate SUNY menunjukkan kalau hipnotisme dapat menghilangkan beberapa gejala anak yang menderita penyakit pernapasan. Gejala tersebut seperti batuk-batuk atau merasa susah bernapas serta membuat anak tenang saat diperiksa dokter. Well, oke kalau merasa tenang saat diperiksa, bagaimana dengan batuk-batuk? Terasa aneh karena batuk-batuk tampaknya tidak berasal dari pikiran, tapi lebih pada pengaruh alergen atau zat tertentu. Sebenarnya ada hubungan dengan pikiran koq.  Coba anda tidur, tidak batuk-batuk kan? Saat anda tidur, pikiran anda menjadi tenang dan dalam kondisi santai. Begitu juga hipnotis membuat pikiran anak tenang dan batuk-batuknya menjadi berkurang.

Pengaruh hipnotis pada anak penderita gangguan pernapasan juga berlaku pada anak penderita sindrom Tourette. Tim peneliti Sekolah Medis Universitas Case Western Reserve dan Rumah Sakti Bayi dan Anak Pelangi milik Universitas tersebut mengajarkan anak-anak untuk menghipnotis diri mereka sendiri. Hasilnya, gejala sindrom Tourette berkurang dan anak-anak merasa lebih nyaman dalam hidup mereka sehari-hari. Penyakit lain diantaranya sindrom iritasi perut dan mungkin epilepsi. Hipnotis juga dapat mengurangi rasa sakit saat melahirkan.

Yup, memang seperti itulah hipnotis yang dipahami dunia medis, membuat pasien tenang. Dampaknya seperti obat bius atau gas tertawa. Karena lebih sederhana ketimbang obat bius, penggunaannya sudah ada sejak awal sejarah kedokteran modern. Ia berasal dari abad ke-18 dimana seorang dokter Austria bernama Franz Mesmer menerapkan teknik untuk membuat pasien merasa tenang dengan membawanya ke kondisi trance. Sesuai nama beliau, Franz Mesmer memberi nama teknik ini, Mesmerisme. Sayangnya istilah ini tidak populer dan orang lebih mengenalnya dengan nama hipnotisme.

Dan mengesankannya, tim peneliti Universitas Macquarie membuktikan kalau hipnotis dapat membalikkan kondisi kejiwaan. Dengan kata lain, ia bisa membuat orang gila. Umm, menjadikan orang normal mendadak gila mungkin berlebihan. Maksudnya tim peneliti Macquarie menunjukkan kalau orang normal yang dihipnotis dapat mempercayai hal yang tidak ada. Mereka berkhayal dan menganggap khayalan itu nyata. Dalam penelitian tim Macquarie, partisipan di hipnotis dan ditunjukkan cermin. Partisipan percaya kalau orang yang ada di cermin bukanlah dirinya, tapi orang lain! Salah seorang partisipan bahkan spontan mengatakan, “siapa tuh?” begitu cermin dibuka di depannya.

Bagaimana tim Macquarie dan ilmuan lainnya memakai hipnotisme untuk mencapai tujuannya adalah hal yang menunjukkan kalau hipnotisme lebih merupakan seni. Ia dapat dikombinasikan dengan berbagai hal untuk mencapai tujuan. Tentunya ada prinsip-prinsip dasar yang membedakan hipnotis dari metode lainnya.

Semua yang digambarkan di atas adalah penelitian instrumental, artinya menerapkan hipnotisme bukannya mempelajari apa itu hipnotisme. Penelitian yang mempelajari apa itu hipnotisme disebut penelitian intrinsik.

Sumbangan penelitian intrinsik hipnotis datang dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Weizmann. Para ilmuan menunjukkan sebuah film pada dua kelompok partisipan, satu yang mudah dihipnotis dan satu yang sulit dihipnotis. Seminggu kemudian, para partisipan di undang kembali untuk melakukan pindai (scan) otak. Sebelum otak mereka dipindai, mereka dihipnotis. Tujuan hipnotis ini adalah meminta mereka melupakan film tersebut. Tapi selain perintah melupakan film tersebut, partisipan juga diberi kunci untuk mengingat kembali. Seperti di acara reality show itu loh, dimana orang yang dihipnotis dikatakan “Kalau saya menjentikkan jari saya, maka kamu akan bangun.” Setelah dihipnotis demikian, partisipan dimasukkan dalam mesin pindai otak. Dalam proses pindai otak, partisipan diminta mengingat film tersebut, kemudian diberi kunci lalu diminta lagi mengingat. Mengejutkannya, partisipan yang mudah terhipnotis justru memberikan ingatan yang tidak akurat, dibandingkan orang yang sulit dihipnotis. What the hell? Anda ingat acara reality show dimana orang yang dihipnotis diminta mengingat kejadian tertentu dan mengatakannya dengan lancar. Percaya atau tidak, apa yang dikatakannya belum tentu benar!

Penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Weizmann menunjukkan kalau ingatan seseorang yang dihipnotis tidaklah sehebat orang yang sadar. Mereka hanya terlihat ingat karena mereka sugestif. Bagi orang yang sadar, saat ia lupa, ia akan mengambil waktu berpikir untuk mengingat kembali, atau sekedar mengatakan kalau ia lupa. Bagi orang yang di hipnotis, tidak ada pilihan tersebut. Ia tidak dapat berpikir mendalam karena dalam kondisi hipnotis dan juga tidak dapat mengatakan kalau ia lupa karena tekanan pertanyaan dari ahli hipnotis. Akibatnya, ia mengarang. Ia mengambil potongan ingatan dari hal yang tidak berhubungan, katakanlah masa kecilnya, atau bahkan film lain yang kebetulan mirip. Itu mengapa anda tidak menemukan teknik hipnotis di pakai di pengadilan untuk mewawancara korban. Ia tidak handal untuk ingatan.

So jadi apa itu hipnotis? Penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Weizmann menunjukkan kalau hipnotis ada hubungannya dengan amnesia. Tapi, sayangnya, penelitian ini tidak berhasil menemukan pola umum kondisi hipnotis. Saat sugestinya di ubah, bukannya untuk melupakan atau mengingat, tapi untuk berhenti merokok atau melakukan sesuatu, pola pindai otak juga berubah. Begitu juga sampai sekarang, belum ada hasil penelitian neurologi yang menunjukkan adanya pola yang sama pada hasil pindai otak untuk seluruh jenis sugesti saat seseorang dihipnotis.

Orang bisa memakan bawang dan mengiranya apel gara-gara di hipnotis,  orang bisa mengira dirinya berada di atas langit-langit rumah dan ketakutan padahal ia berada di lantai biasa. Ada satu kesamaan diantara orang-orang yang terhipnotis ini, mereka tidak cepat bosan. Yup, mereka adalah orang yang terbiasa melakukan rutinitas berulang-ulang. Anda mungkin pernah membaca pembahasan faktailmiah.com mengenai Latah. Hipnotisme hampir serupa. Mereka bekerja pada orang yang mudah menerima sugesti dari luar. Beberapa teknik sugesti dapat digunakan untuk mengendalikan orang tersebut dan teknik ini secara kumulatif di sebut hipnotis.

Akibatnya, beberapa orang tidak dapat dihipnotis. Bila seseorang tidak mau menyerahkan kontrol dirinya pada orang lain, ia tidak dapat dihipnotis. Jadi bagaimana ahli hipnotis melakukan hipnotisme untuk mencapai tujuannya? Well, tentu saja dengan cara mendapatkan kepercayaan dari target. Mereka membangun kepercayaan dalam diri target sehingga target merasa orang ini tidak akan menyakitinya. Perilaku defensif hilang dan target menjadi santai. Maka dimulailah pengambilan kontrol tersebut.

Banyak orang memakai hipnotis untuk pertunjukan panggung. Berbeda dengan ahli sulap, ahli hipnotis mempertunjukkan apa adanya berdasarkan keahlian dan kemampuan menghibur. Tentu saja, ada orang yang menggabungkan keduanya, hipnotis plus sulap, sehingga masyarakat kebingungan, koq bisa orang yang dihipnotis melayang di udara?

Setiap orang yang menghibur di panggung tentunya berusaha tampil sebaik mungkin. Bagi seorang ahli hipnotis, ini berarti menghilangkan sebanyak mungkin penghalang. Mereka berusaha terlihat mendapatkan penonton secara acak, namun sebenarnya memilih penonton yang paling siap untuk dihipnotis. Caranya sederhana, pengamatan gerakan fisik, bukan sederetan wawancara atau kuesioner. Bahasa tubuh merupakan salah satu hal yang harus dikuasai ahli hipnotis panggung (dan juga pria yang ingin mendapatkan wanita, eh, itu beda :P)

Hipnotisme karenanya lebih bersifat seni daripada sains, dan mungkin sedikit hal yang dapat dilakukan sains untuk menjadikannya kuantitatif atau dapat dipelajari dengan baik. Hipnotisme walaupun nyata, ia hampir sepenuhnya subjektif. Akibatnya ia semata sebuah bentuk kekuatan sugesti, sebuah demostrasi keinginan untuk yakin atau melakukannya, sebagaimana diperintahkan sang penghipnotis. Dan hanya sekitar satu dari lima orang dalam masyarakat yang merupakan orang yang mudah dihipnotis.

Referensi

  1. Anbar et al. Adding Hypnosis to the Therapeutic Toolbox of Pediatric Respiratory Care. Pediatric Asthma Allergy Immunology, 2010; 100204180550001
  2. Barnier, A.J., Cox, R.E., O’Connor, A., Coltheart, M., Langdon, R., Breen, N., & Turner, M. (2008). Developing hypnotic analogues of clinical delusions: Mirrored-self misidentification. Cognitive Neuropsychiatry, 13, 406-430.
  3. Borrows, G.D., Stanley, R.O., Bloom, P.B. 2001. International Handbook of Clinical Hypnosis. John Wiley & Sons;
  4. Carrol, R.T. 2003. The Skeptic’s Dictionary.
  5. Dawson, M. 2006. On Stage Hypnosis.
  6. Derbyshire; Whalley, MG; Stenger, VA; Oakley, DA (2004). “Cerebral activation during hypnotically induced and imagined pain”. NeuroImage 23 (1): 392–401.
  7. Duff, S. & Nightingale, D. (2007) Alternative Approaches to Supporting Individuals With Dementia: Enhancing Quality of Life Through Hypnosis. Alzheimer’s Care Today vol 8 issue 4 pp 321-331
  8. Friesen, W. 2001. Hypnotize Your Lover Deeper.
  9. Galea, A. 2004. Hypnotism: Entertainment or Science?
  10. Gonsalkorale, W.M. & Whorwell, P.J (2005). Hypnotherapy in the treatment of irritable bowel syndrome. European journal of gastroenterology & hepatology, 17, 15-20.
  11. Harris, T.  “How Hypnosis Works”  07 August 2001.
  12. Hewitt, W.W. 2002. Hypnosis for Beginners: Reach New Levels of Awareness & Achievement. Llewellyn Publications
  13. Jones, T. 2000. Hypnosis: A Comprehensive Guide. Crown House Publishing
  14. Lang, E.V., Berbaum, K.S., Faintuch, S et al. Adjunctive self-hypnotic relaxation for outpatient medical procedures: A prospective randomized trial with women undergoing large core breast biopsy. Pain, December 2006
  15. Lazarus JE, Klein SK. 2010. Nonpharmacological treatment of tics in Tourette syndrome adding videotape training to self-hypnosis. J Dev Behav Pediatr. 2010 Jul-Aug;31(6):498-504.
  16. Mendelsohn, A., Chalamish, Y., Solomovich, A., Dudai, Y. 10 January 2008. Mesmerizing Memories: Brain Substrates of Episodic Memory Suppression in Posthypnotic Amnesia. Neuron. 57(1) pp. 159 – 170
  17. Olson, D.M., Howard, N., Shaw, R.J. Hypnosis-provoked nonepileptic events in children. Epilepsy & Behavior, Volume 12, Issue 3, April 2008, Pages 456-459
  18. Raz; Fan, J; Posner, MI (2005). “Hypnotic suggestion reduces conflict in the human brain”. Proceedings of the National Academy of Sciences 102 (28): 9978–9983.
The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.