Diposting Selasa, 24 Agustus 2010 jam 6:09 pm oleh The X

Struktur dan Komposisi Debu Ruang Antar Bintang

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 24 Agustus 2010 -


Butiran besar, yang disebut juga butiran klasik, berukuran 0.1 mikron yang seukuran dengan partikel asap. Butiran sangat kecil berukuran 0.01 mikron yang seukuran virus kecil. Namun, kontinum ukuran partikel  tampaknya ada dalam distribusi hukum pangkat sehingga ada lebih banyak butiran lebih kecil dan ada lebih sedikit butiran besar, yaitu n(a) sebanding dengan a^(-q) dimana n(a) adalah kepadatan jumlah per jangkauan ukuran satuan (per cm kubik cm) dari butiran dengan radius a dan q adalah indeks hukum pangkat yang harus di sesuaikan dengan data. Dengan mengabaikan beberapa kerumitan, sebuah fungsi yang sesuai dengan data pada jangkauan a = 0.005 mikron hingga 0.25 mikron memiliki nilai q = 3.5

Komposisi butiran lebih sulit dipastikan karena beberapa tampilan spektrum teramati dari partikel padat ini. Karbon tampaknya berperan penting dan dengan kecenderungannya untuk berikatan dengan atom karbon lainnya, unsur ini dapat berkombinasi dalam beraneka jenis cara, termasuk struktur yang sangat beraturan (kristalin) seperti intan nano, grafit dan fullerenes, dan juga struktur  tak beraturan (amorfos).

Gambar 1. Sketsa tiga bentuk beraturan atom karbon dalam bentuk padat

Karbon juga dengan mudah membentuk cincin hidrogenasi, yang disebut polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH), yang umumnya dilihat di bumi dalam asap kendaraan. Beberapa versi PAH, walau mungkin tidak berbentuk sama, dapat berada di media antar bintang, seperti yang teramati dalam tampilan spektrum mid-infra merah. PAH adalah planar, bukannya tiga dimensi, dan dipandang sebagai molekul besar, terdiri dari sekitar 50 atom, bukannya struktur tiga dimensi yang kita identifikasikan dengan butiran debu padat. PAH karenanya berada dalam daerah transisi antara molekul dan debu. Komponen debu lainnya kemungkinan adalah silikat, sekelompok komposisi kimia yang melibatkan SiO4. Ia tampaknya berstruktur amorfos, ketimbang kristalin, dan juga mungkin mengandung magnesium (Mg) dan besi (Fe). Kategori ketiga adalah es, sepeti fase padat air (H2O), metana (CH4) dan amonia (NH3).

Struktur butiran kurang dapat dipastikan. Selimut kaya karbon pada inti silikat adalah salah satu kemungkinan. Es dapat juga membentuk selimut pada inti karena mereka bergerak lebih mudah antara fase gas dan padat. Seperti ditunjukkan gambar 1, butiran debu kecil kemungkinannya berbentuk bola yang seragam. Jelas kalau ada sebagian butiran yang bentuknya tegak, karena ini menjelaskan fakta kalau penghamburan dari debu menghasilkan cahaya terpolarisasi.

Gambar 2. Contoh-contoh konfigurasi polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH) yang dapat menjadi molekul terbesar di ruang antar bintang.

Referensi

  1. http://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/
  2. Irwin, J. 2007. Astrophysics: Decoding the Cosmos. Wiley
  3. Whittet, D. C. B., 2003. Dust in the Galactic Environment, 2nd Ed., Institute of Physics Publishing
The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.