Diposting Minggu, 22 Agustus 2010 jam 11:53 am oleh The X

Optika Adaptif

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 22 Agustus 2010 -


Astrofisika bermasalah dalam hal melihat benda langit. Salah satu solusinya adalah meluncurkan teleskop ke luar angkasa, walaupun hanya semata teleskop optik. Contohnya Teleskop Ruang Angkasa Hubble. Solusi ini sayangnya sangat mahal. Solusi lainnya adalah memperbaiki desain observatorium untuk meminimalkan gradien suhu yang dapat menghasilkan turbulensi.

Gambar 1. Teleskop Utara Gemini di Mauna Kea, Hawaii. Terdapat sisi terbuka yang membantu meminimalkan turbulensi lokal.

Walau begitu, ada solusi yang lebih efektif lagi untuk masalah melihat ini, yaitu optika adaptif. Saat ini, optika adaptif diterapkan dalam fasilitas-fasilitas utama untuk melihat dekat infra merah, dimana atmosfer lebih stabil. Optika adaptif adalah sebuah metode mengoreksi penglihatan real time dengan membuat penyetelan cepat pada cermin yang dapat diubah bentuknya. Contoh sistem adaptif dapat dilihat dalam gambar berikut.

Gambar 2. Diagram sederhana sistem optika adaptif

Setelah melewati apartur teleskop, sinyal bersama dengan sinyal referensidari sebuah sumber titik, dicerminkan dari sebuah cermin yang dapat diubah bentuk. Sinyal referensi ini kemudian memisah menuju ke sebuah ‘sensor muka gelombang’ yang mengambil sampel muka gelombang dalam jangka waktu mili detik. Sensor muka gelombang memecah sinyal referensi menjadi banyak citra lewat lensa-lensa. Bila muka gelombangnya planar, maka citra sinyal referensi dipasang dengan jarak yang sama di detektor, namun jika muka gelombangnya menyimpang, maka citra dipasang tidak dalam jarak yang sama.

Setelah analisa ruang, sebuah sinyal dikirim ke aktuator di ujung cermin yang dapat dibentuk yang menyetel bentuk cermin untuk mengkompensasi distorsi muka gelombang. Karena sinyal astronomis juga tercermin dari cermin yang sama, citranya kemudian terkoreksi.

Agar sistem ini bekerja, sinyal referensi harus terang dan cukup dekat jaraknya di langit (< 1’) ke sumber astronomis yang diamati sehingga kedua sinyal lewat pada atmosfer dan jalur optik yang sama. Walau begitu, ada sedikit sekali bintang terang di langit yang berada dekat dengan sumber astronomi acak.

Solusinya adalah membuat sebuah bintang pemandu laser. Sebuah sinar laser dipancarkan ke langit dan merangsang atau menghamburkan partikel di atmosfer pada ketinggian sekitar 100 km, dan membentuk sumber mirip titik yang berfungsi sebagai referensi. Bintang yang alami mesti tetap dipakai untuk informasi posisi mutlak, namun ia tidak mesti terang atau dekat dengan sumber target.

Kualitas citra yang telah dicapai oleh optika adaptif cukup memuaskan dan teknik ini menjanjikan kemajuan yang lebih besar saat teknologi semakin canggih. Saat ini, sistem optika adaptif telah ditambahkan pada teleskop yang telah ada dan akan menjadi bagian dari teleskop masa depan.

Gambar 3. Contoh kemajuan yang dapat dihasilkan lewat optika adaptif. Citra di kiri menunjukkan banyak bintang berkerumun di daerah pusat galaksi. Citra ini tampak lepas dari fokus karena dilihat. Di kanan, medan yang sama setelah dilihat menggunakan optika adaptif. Citra bintang kini menunjukkan pola difraksi teleskop dan resolusi mendekati batas difraksi.

Referensi

  1. Goncharov, A. V., Owner-Petersen, M., Andersen, T., & Beckers, J. M., 2002, Optical Engineering 41, 1065–1072, Donald C. O’Shea, Ed
  2. Irwin, J. 2007. Astrophysics: Decoding the Cosmos. Wiley
  3. University of California Regents Center of Adaptif Optics. 2003. How Does an Adaptive Optics System Work?
The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.