Diposting Minggu, 22 Agustus 2010 jam 10:08 am oleh The X

Asal Usul Nol

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 22 Agustus 2010 -


Tidak ada yang tahu seberapa pentingnya “tidak ada” sampai kita memberinya lambang. Tanpa nol, bilangan negatif dan imajiner tidak ada artinya, dan mustahil untuk memecahkan persamaan kuadrat, tipe persamaan utama dalam matematika terapan. Tanpa nol yang bertindak sebagai petunjuk tempat, seperti nol dalam 10 dan 100, semua perhitungan aritmatik harus menggunakan sempoa. Charles Seife, pengarang buku Zero: The Biography of a Dangerous Idea mengatakan “Kalau kita tidak punya nol, sistem bilangan kita tidak akan lengkap. Ia pada akhirnya runtuh tanpa adanya nol.”

Nol datang ke dunia pada sekitar tahun 300 Sebelum Masehi. Saat itu bangsa Babilonia mengembangkan nol purba, dua garis yang ditekan dalam tablet tanah liat, yang bertindak sebagai penunjuk tempat untuk sistem bilangan mereka yang rumit, sistem bilangan berbasis 60 atau sexagesimal. Di abad ke lima, konsep nol bermigrasi ke India dan membuat keabadian simbolis dalam bentuk titik yang diukir di dinding Kuil Chaturbhuja di Gwalior. Lalu seperti kerikil yang jatuh ke permukaan kolam, simbol nol mengembang menjadi “0” dan menjadi bilangan dengan sifat-sifatnya sendiri; sebagai bilangan genap yang merupakan rata-rata dari -1 dan 1. Tahun 628, matematikawan Brahmagupta menjelaskan sifat menakutkan dari nol; mengalikan apapun dengan nol, akan tidak menghasilkan apa-apa. Secara independen, bangsa Maya di Amerika juga menemukan nol untuk membantu studi astronomi mereka.

Seiring berjalannya waktu, perluasan kekhalifahan Islam membawa kembali nol dari India ke Timur Tengah dan kemudian di bawa ke koloni Islam di Spanyol. Ia kemudian secara resmi menjadi satu dari 10 bilangan Arabik, sebagaimana yang kita gunakan sekarang. Para sarjana Eropa saat itu masih bergelantungan pada bilangan Romawi. Dunia Eropa merangkul nol secara resmi saat matematikawan Italia, Fibonacci (Leonardo dari Pisa), memasukkannya dalam buku ajar matematika tahun 1202.

Referensi

  1. Borrell, B. 2010. Zero: How Nothing Became Something. Scientific American August 2010, p. 53
  2. Seife, C. 2000. Zero: The Biography of a Dangerous Idea. Penguin Books
The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.