Diposting Senin, 16 Agustus 2010 jam 8:23 am oleh The X

Warna samudera mempengaruhi jalur badai

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 16 Agustus 2010 -


Ada penemuan baru dari NASA. Perubahan warna air samudera dapat berpengaruh drastis pada kekuatan badai. Dalam simulasi, para ilmuan mengubah warna samudera di daerah Pasifik Utara, dan akibatnya, badai menurun hingga 70 persen. Ini artinya penurunan besar yang mencakup lebih dari separuh kekuatan angin badai di dunia!

Warna ini hubungannya dengan apa? Klorofil. Yup. Topan sangat dipengaruhi oleh muatan klorofil, pewarna hijau yang membantu organisme bersel satu bernama fitoplankton untuk mengubah cahaya matahari menjadi makanan, untuk dimakan oleh mahluk hidup lain di lautan. Klorofil inilah yang menentukan warna samudera.

“Kita menyangka samudera itu biru, sebenarnya, samudera itu tidak benar-benar biru, warnanya agak kehijauan,” demikian kata Anand Gnanadesikan, peneliti di Laboratorium Dinamika Fluida Geofisika NASA di Princeton, New Jersey. “Fakta kalau samudera tidaklah berwarna biru memiliki pengaruh langsung terhadap distribusi siklon tropis.”

Klorofil samudera seperti ditunjukkan oleh satelit SeaWiFS NASA, dimana warna biru gelap menunjukkan rendahnya kadar klorofil (Credit: NASA)

Dalam penelitian mereka yang diterbitkan dalam Jurnal ilmiah, Geophysical Research Letters, tim Gnanadesikan menjelaskan bagaimana penurunan konsentrasi klorofil berakibat pada penurun aktivitas pembentukan badai di daerah yang warnanya berkurang. Walaupun studi ini melihat pada pengaruh penurunan populasi fitoplankton (dan berarti warna hijau samudera), para ilmuan berpendapat kalau populasi fitoplankton global perlahan menurun dalam abad terakhir.

Gnanadesikan membandingkan tingkat pembentukan badai dalam model komputer dengan dua skenario. Skenario pertama, ia memodelkan kondisi nyata menggunakan konsentrasi klorofil di Pasifik Utara yang ditangkap oleh citra satelit. Ia lalu membandingkannya dengan skenario dimana konsentrasi di beberapa tempat Gyre Subtropis Pasifik Utara – pola aliran searah jarum jam besar yang mencakup Pasifik Utara – di setel ke nol.

Dalam skenario kedua, ketiadaan klorofil di gyre subtropis mempengaruhi pembentukan badai lewat modifikasi sirkulasi udara dan pola persebaran panas, baik di dalam maupun di luar gyre. Faktanya, sepanjang khatulistiwa, pola baru yang berada di luar gyre membawa pada peningkatan pembentukan badai hingga 20 persen. Namun, peningkatan ini disertai penurunan 70 persen badai di utara, di atas dan di dekat gyre. Ini artinya, akan lebih banyak badai menyerang filipina dan Vietnam, namun lebih sedikit badai yang akan menyerang China selatan dan Jepang.

Dalam skenario tanpa klorofil, sinar matahari mampu memasuki samudera lebih dalam lagi, sehingga air di permukaan samudera lebih dingin. Penurunan suhu permukaan ini mempengaruhi pembentukan badai lewat tiga cara:

  1. Air dingin memerlukan energi yang lebih sedikit
  2. Perubahan pola sirkulasi udara
  3. Dan akibatnya udara yang lebih kering membuat badai sulit tumbuh

Perubahan sirkulasi udara ini memacu angin yang kuat muncul, yang cenderung mencegah badai berkembang membentuk superstruktur yang memungkinkannya berkembang menjadi besar.

Penurunan badai di Pasifik Utara hanyalah satu contoh bagaimana mengubah konsentrasi klorofil dapat berpengaruh besar. Dampak yang dihadapi berbagai daerah di samudera tergantung lagi pada arus setempat dan kondisi samudera, demikian tutur Gnanadesikan.

Ketiadaan klorofil sepenuhnya di bagian samudera akan menjadi perubahan yang drastis. Namun pengaruh potensialnya masih penting untuk dipertimbangkan. Gyre Pasifik Utara yang ia pelajari telah menjadi “Gurun Pasir Biologis Samudera.” Jadi kejutannya adalah, “bahkan di daerah yang tampaknya cerah ini, pemanasan termediasi biologi tetap penting.”

Penelitian ini ditopang oleh pendanaan dari NOAA, dengan dukungan tambahan dari NASA. Bila anda tertarik membaca secara lengkap hasil penelitiannya, kunjungi tautan yang diberikan pada referensi d ibawah ini. Artikel ini diterjemahkan dari Sciencedaily.com dengan sedikit adaptasi.

Referensi Jurnal :

A. Gnanadesikan, G. A. Vecchi, W. G. Anderson, R. Hallberg, K. Emanuel. How ocean color can steer Pacific tropical cyclones. Geophysical Research Letters, 2010;

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.