Diposting Senin, 16 Agustus 2010 jam 8:48 am oleh The X

Organ yang Rumit Tidak Dapat Ber Evolusi

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 16 Agustus 2010 -


Menurut Harun Yahya dalam Pendahuluan buku berjudul Keajaiban Desain Alam: “Darwin tidak mampu, atau mungkin tidak ingin menemukan alat tubuh seperti itu, ketika tingkat pengetahuan di abad ke-19 masih amat hijau. Namun, ilmu pengetahuan di abad ke-20 telah mempelajari hingga perincian terkecil dan membuktikan bahwa sebagian besar struktur kehidupan menunjukkan kerumitan yang tak tersederhanakan. Karenanya, Teori Darwin telah “dengan mutlak” jatuh, tepat seperti yang ia takutkan.”

Evolusi Mata

Hal ini menunjukkan ketidak pahaman Harun Yahya terhadap evolusi dan cara berargumen secara baik. Sesuatu yang benar, belum tentu sederhana. Bisa jadi sangat rumit. Beberapa ilmuan besar setengah mati berusaha menemukan mekanisme yang rumit di alam, termasuk evolusi. Saat mereka melihat kerumitan itu, mereka bukan menyerah, tapi mencari tahu. Hasilnya sains kita telah begitu maju saat ini.

Pohon Evolusi Mata

Begitu juga dengan teori evolusi. Kenyataannya, beberapa organ rumit, yang bebelumnya di klaim sebagai tidak dapat berevolusi, telah terbukti berevolusi, termasuk mata, mekanisme pertahanan kumbang pengebom, lidah pelatuk, dll (lihat referensi di bawah).

Mekanisme evolusioner memang terjadi pada kerumitan, karena mutasi yang tak mematikan akan cenderung menambah komponen baru pada sistem sederhana daripada membuang komponen lama dan mengganti dengan yang baru (Soyer and Bonhoeffer 2006). Abstract dari Lenski et al. (2003, 139) dapat dikutip seluruhnya:

Sebuah tantangan lama pada teori evolusi adalah apakah ia dapat menjelaskan asal dari fitur organisme rumit. Kami memeriksa isu ini memakai organisme digital — program komputer yang mereplikasi diri, bermutasi, berkompetisi dan berevolusi. Populasi organisme digital sering mengalami evolusi pada kemampuan melakukan fungsi logika rumit yang membutuhkan eksekusi koordinasi banyak instruksi genomik. Fungsi rumit berevolusi dengan membangun sebuah fungsi yang lebih sederhana yang telah berevolusi sebelumnya, menunjukkan bahwa ini juga dibantu secara selektif. Walau begitu, tidak ada tahap intermediet tertentu yang mendasar untuk mengevolusi fungsi rumit. Genotip pertama mampu melakukan fungsi rumit berbeda dari leluhur mereka yang tidak dapat dalam hanya satu atau dua mutasi, namun berbeda dari nenek moyangnya dalam banyak mutasi yang juga penting bagi fungsi baru. Dalam beberapa kasus, mutasi yang merusak saat muncul memberikan sebuah batu loncatan dalam evolusi fitur rumit. Penemuan ini menunjukkan bagaimana fungsi rumit dapat berasal dari mutasi acak dan seleksi alam.

Referensi:

  1. Lenski, R. E., Ofria, C., Pennock, R.T., Adami, C. 2003. The evolutionary origin of complex features. Nature 423: 139-144.
  2. Soyer, O.S., Bonhoeffer, S. 2006. Evolution of complexity in signaling pathways. Proceedings of the National Academy of Science USA 103: 16337-16342.

Hasil penelitian ilmiah yang menjelaskan evolusi Mata

  1. Gehring WJ (2005). “New perspectives on eye development and the evolution of eyes and photoreceptors”. J. Hered. 96 (3): 171–84.
  2. Halder, G; Callaerts, P; Gehring, WJ (1995). “New perspectives on eye evolution”. Current opinion in genetics & development 5 (5): 602–9.
  3. Halder, G.; Callaerts, P.; Gehring, W. (1995). “Induction of ectopic eyes by targeted expression of the eyeless gene in Drosophila”. Science 267 (5205): 1788.
  4. Haszprunar (1995). “The mollusca: Coelomate turbellarians or mesenchymate annelids?”. in Taylor. Origin and evolutionary radiation of the Mollusca : centenary symposium of the Malacological Society of London. Oxford: Oxford Univ. Press.
  5. Kozmik, Z; Daube, Michael; Frei, Erich; Norman, Barbara; Kos, Lidia; Dishaw, Larry J.; Noll, Markus; Piatigorsky, Joram (2003). “Role of Pax Genes in Eye Evolution A Cnidarian PaxB Gene Uniting Pax2 and Pax6 Functions”. Developmental Cell 5: 773–785.
  6. Nilsson, D-E; Pelger S (1994). “A pessimistic estimate of the time required for an eye to evolve”. Proc R Soc Lond B 256 (1345): 53–58.
  7. Nilsson, DE (1996). “Eye ancestry: old genes for new eyes”. Current biology : CB 6 (1): 39–42.
  8. Parker, A. R. (2009). “On the origin of optics”. Optics & Laser Technology.
  9. Scotland, R. (2010). “Deep homology: A view from systematics”. BioEssays : news and reviews in molecular, cellular and developmental biology 32 (5): NA–ME.
  10. Zinovieva, R. (1999). “O-Crystallin, arginine kinase and ferritin from the octopus lens”. Biochimica et Biophysica Acta (BBA) – Protein Structure and Molecular Enzymology 1431: 512–517.
  11. Tomarev, SI; Callaerts, P; Kos, L; Zinovieva, R; Halder, G; Gehring, W; Piatigorsky, J (1997). “Squid Pax-6 and eye development”. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 94 (6): 2421–6.
  12. Gehring, W. J. (13 January 2005). “New Perspectives on Eye Development and the Evolution of Eyes and Photoreceptors”. Journal of Heredity (Oxford Journals) 96 (3): 171–184.
  13. M F Land; R D Fernald (1992). “The Evolution of Eyes”. Annual Review of Neuroscience 15: 1–29.
  14. Fernald, Russell D. (2001). The Evolution of Eyes: How Do Eyes Capture Photons? Karger Gazette 64: “The Eye in Focus”.
  15. Fernald RD (1997). “The evolution of eyes”. Brain Behav. Evol. 50 (4): 253–9.
  16. Schoenemann, B.; Liu, J. N.; Shu, D. G.; Han, J.; Zhang, Z. F. (2008). “A miniscule optimized visual system in the Lower Cambrian”. Lethaia 42: 265.
  17. Lamb TD, Collin SP, Pugh EN (December 2007). “Evolution of the vertebrate eye: opsins, photoreceptors, retina and eye cup”. Nat. Rev. Neurosci. 8 (12): 960–76.

Hasil penelitian ilmiah yang menjelaskan evolusi kumbang pengebom

  1. Aneshansley, Daniel J. & T. Eisner, 1969. Biochemistry at 100C: explosive secretory discharge of bombardier beetles (Brachinus). Science 165: 61-63.
  2. Aneshansley, D.J., T.H. Jones, D. Alsop, J. Meinwald, & T. Eisner, 1983. Thermal concomitants and biochemistry of the explosive discharge mechanism of some little known bombardier beetles. Experientia 39: 366-368.
  3. Dean, Jeffrey, D.J. Aneshansley, H.E. Edgerton, T. Eisner, 1990. Defensive spray of the bombardier beetle: a biological pulse jet. Science 248: 1219-1221.
  4. Dettner, Konrad, 1987. Chemosystematics and evolution of beetle chemical defenses. Annual Review of Entomology 32: 17-48.
  5. Eisner, Thomas, 1958. The protective role of the spray mechanism of the bombardier beetle, Brachynus ballistarius Lec. Journal of Insect Physiology 2: 215-220.
  6. Eisner, Thomas, 1970. Chemical defense against predation in arthropods. In Sondheimer, E. & J. B. Simeone, Chemical Ecology, Academic Press, NY, pp. 157-217.
  7. Eisner, Thomas, T.H. Jones, D.J. Aneshansley, W.R. Tschinkel, R.E. Silberglied, J. Meinwald, 1977. Chemistry of defensive secretions of bombardier beetles (Brachinini, Metriini, Ozaenini, Paussini). J. Insect Physiol. 23: 1382-1386.
  8. Eisner, Thomas & Daniel J. Aneshansley, 1982. Spray aiming in bombardier beetles: jet deflection by the Coanda effect. Science 215: 83-85.
  9. Eisner, Thomas, D.J. Aneshansley, M. Eisner, A.B. Attygalle, D.W. Alsop, J. Meinwald, 2000. Spray mechanism of the most primitive bombardier beetle (Metrius contractus). Journal of Experimental Biology 203: 1265-1275.
  10. Eisner, Thomas, George E. Ball, Braden Roach, Daniel J. Aneshansley, Maria Eisner, Curtis L. Blankespoor, & Jerrold Meinwald, 1989. Chemical defense of an Ozaenine bombardier beetle from New Guinea. Psyche 96: 153-160.
  11. Erwin, Terry L., 1967. Bombardier beetles (Coleoptera, Carabidae) of North America: Part II. Biology and behavior of Brachinus pallidus Erwin in California. Coleopterists’ Bulletin 21: 41-55
  12. Erwin, Terry Lee, 1970. A reclassification of bombardier beetles and a taxonomic revision of the North and Middle American species (Carabidae: Brachinida). Quaestiones Entomologicae 6: 4-215.
  13. Forsyth, D.J., 1970. The structure of the defence glands of the Cicindelidae, Amphizoidae, and Hygrobiidae (Insecta: Coleoptera). J. Zool. Lond., 160: 51-69.
  14. Kanehisa, Katsuo & Masanori Murase, 1977. Comparative study of the pygidial defense systems of carabid beetles. Appl. Ent. Zool., 12(3): 225-235.
  15. Kofahl, Robert E., 1981. The bombardier beetle shoots back. Creation/Evolution 2(3): 12-14.
  16. Lawrence, J.F. & E.B. Britton, 1991. Coleoptera. In CSIRO, The Insects of Australia, vol. 2, Cornell Univ. Press, Ithaca, NY, pp. 543-683.
  17. Lumsden, Richard, 1995, quoted by Alters, Brian J., 1995, A content analysis of the Institute for Creation Research’s Institute on Scientific Creationism. Creation/Evolution 15(2): 1-15.
  18. Moore, Barry P., 1979. Chemical defense in carabis and its bearing on phylogeny. In Erwin, T.L., G.E. Ball, D.L. Whitehead, & A.L. Halpern, eds, Carabid beetles: Their evolution, natural history, and classification. Junk, The Hague. pp. 193-203.
  19. Schildknecht, H. & Holoubek, K., 1961. Die bombardierkafer und ihre explosionschemie. Angewandte Chemie 73(1): 1-7.
  20. Weber, Christopher Gregory, 1981. The bombardier beetle myth exploded. Creation/Evolution 2(1): 1-5.

Hasil penelitian ilmiah yang menjelaskan evolusi Lidah Pelatuk

  1. Benz, B.W., Robbins, M.B., Peterson, A.T. 2006. Evolutionary history of woodpeckers and allies (Aves: Picidae): Placing key taxa on the phylogenetic tree. Mol. Phylogenet. Evol. 40(2): 389–399.
  2. , WJ 1999. Functional and Evolutionary Morphology of Woodpeckers. The Ostrich, 70: 23-31 – A complete and up-to-date functional analysis of woodpecker tongue and skull adaptations.
  3. Homberger, DG and Meyers, RA. 1989. Morphology of the Lingual Apparatus of the Domestic Chicken, Gallus gallus, With Special Attention to the Structure of the Fasciae, The American Journal of Anatomy, 186: 217-256 – Very detailed anatomical description of the jaw and tongue structures of the most studied avian species.
  4. Lucas, FA. 1895. The Tongues of Woodpeckers. U.S. Dept. of Agriculture. Division of Ornithology and Mammalogy. Bulletin no. 7 - Nice diagrams of the hyoids of different species, as well as adult vs. hatchling flickers.

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.