Diposting Rabu, 11 Agustus 2010 jam 11:56 am oleh The X

Perbedaan jenis kelamin dalam sudut pandang ilmiah

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 11 Agustus 2010 - Banyak kebingungan mengenai apa yang sesungguhnya berbeda karena alami (genetik) dengan yang berbeda karena lingkungan (masyarakat). Faktailmiah membahasnya


Tidak diragukan lagi kalau pria dan wanita berbeda dalam banyak hal. Perbedaan ini secara nyata terlihat dalam biologisnya. Sebagai contoh, sebagian besar laki-laki umumnya lebih tinggi dari 99% populasi perempuan di dunia. Peran biologis yang nyata antara pria dan wanita tampak pada kenyataan kalau hanya wanita yang melahirkan, sementara hanya pria yang tidak mengalami menstruasi. Walau begitu pengaruh sosial budaya membawa pada perbedaan yang lebih dari sekedar perbedaan alamiah ini. Perbedaan sosial budaya dapat diperbaiki dengan jalan revolusi sosial budaya, sementara itu perbedaan biologis, tidak dapat. Perbedaan biologis bersifat warisan, atau apa yang orang religius katakan sebagai kodrat.

Sebelum beranjak pada masalah-masalah sosial budaya, penulis akan memaparkan beberapa fakta ilmiah mengenai perbedaan jenis kelamin secara biologis yang baru saja diketahui dunia ilmiah dan berarti, hal-hal yang tidak dapat diubah lewat revolusi sosial budaya. Dalam daftar ini, terdapat sebuah sebab transisi yang disebut sebab evolusioner. Sesuatu yang disebabkan oleh evolusi merupakan gabungan dari biologis dan lingkungan. Sebagaimana kita ketahui bahwa evolusi terjadi karena faktor mutasi genetik (biologis) yang diseleksi oleh alam (lingkungan). Hal ini dapat diubah, namun perlu waktu sangat panjang, sepanjang evolusi manusia yang sudah ratusan ribu hingga jutaan tahun.

  1. 25 persen wanita dalam masyarakat, menjadi semakin cerdas saat mengalami menstruasi sementara 25 persen lainnya, menjadi semakin tidak cerdas saat mengalami menstruasi. 50 persen sisanya tidak terpengaruh oleh menstruasi. Hal ini disebabkan hormon estrogen yang berpengaruh terhadap fungsi kognitif. Pria tidak memiliki masalah ini, semata karena tidak mengalami siklus menstruasi.
  2. Wanita lebih peka terhadap rangsangan dengan menggunakan jari mereka. Hal ini disebabkan oleh ukuran jari wanita yang lebih kecil daripada jari pria, bukan karena wanita secara naluriah lebih peka.
  3. Wanita lebih cenderung mengalami kegemukan dan gangguan pola makan. Hal ini karena wanita lebih cenderung menyukai sebuah jenis makanan dari pada pria. Dasar dari perbedaan ini adalah genetik.
  4. Pria yang ingin bertattoo lebih sehat secara genetik daripada pria tidak ingin tattoo. Hal ini dengan syarat bahwa naluri untuk membuat rajah (tattoo) tersebut datang dari keinginan sendiri. Sebaliknya, wanita yang ingin bertattoo tidak lebih sehat secara genetik dengan wanita yang tidak ingin bertattoo.
  5. Wanita lebih mudah kecanduan alkohol dan narkotika dari pada pria. Walau begitu, pria lebih mungkin mengkonsumsi alkohol dan narkotika. Dengan kata lain, pria mudah tergoda, wanita tidak, tapi sekali tergoda, wanita akan lebih sulit lepas daripada pria. Hal ini karena pengaruh hormonal.
  6. Pria lebih mungkin mengalami buta warna daripada wanita. Hal ini karena dua gen yang memungkinkan mata membedakan warna berada di kromosom X sementara pria hanya memiliki satu kromosom X dan wanita memiliki dua kromosom X.
  7. Wanita yang sedang menstruasi cenderung membeli atau memakai pakaian yang lebih seksi untuk berkompetisi dengan wanita lainnya. Dasar dari perbedaan ini adalah evolusi
  8. Pria lebih senang membuat lelucon, wanita lebih senang mendengarkan lelucon. Hal ini menjadi hal penting dalam pembinaan hubungan antar pria dan wanita. Dasar dari perbedaan ini adalah evolusi
  9. Ibu hanya menghabiskan 22 persen waktunya bersama anak untuk kegiatan seperti membaca, bermain dan menggambar. Ayah menghabiskan 40 persen waktunya bersama anak untuk kegiatan ini. Ini menunjukkan kalau ayah cenderung menantang anak untuk mengembangkan dirinya, sementara ibu lebih cenderung menunjukkan kasih sayang terhadap anaknya. Dasar dari perbedaan ini adalah evolusi.
  10. Pria cenderung berbicara mengenai hirarki kekuasaan sementara wanita lebih cenderung bicara mengenai masalah hubungan kesetaraan. Dasar perbedaan ini adalah evolusi
  11. Laki-laki lebih cenderung melakukan tindak pidana (11 %) dari pada perempuan (1.7%). Hal ini karena pengaruh biologis, bukannya lingkungan, yaitu adanya hormon testosteron pada laki-laki.
  12. Wanita lebih memilih-milih pasangan daripada pria. Hal ini membuat lebih sedikit wanita yang mendekati laki-laki ketimbang laki-laki mendekati wanita. Walau begitu, wanita tidak memilih pria dari penampilan yang keren atau tidak keren, tapi dari bahasa tubuh, kepercayaan diri, kemampuan humoris, daya seni dan warna pakaian yang dominan merah. Dasar perbedaan ini adalah evolusi

Demikian perbedaan jenis kelamin yang telah diketahui memiliki sebab biologis dan evolusioner. Daftar selanjutnya adalah perbedaan jenis kelamin yang semata berdasarkan pengaruh sosial budaya. Pengaruh sosial budaya yang dimaksud disini adalah pengaruh masyarakat yang bersifat baru, terutama baru berkembang dalam beberapa puluh tahun terakhir, ketika negara-negara berada dalam satu kawasan global (globalisasi). Perbedaan jenis kelamin berbasis sosial budaya itu antara lain:

  1. Laki-laki cenderung lebih mudah cemburu daripada wanita. Hal ini tampaknya berasal dari rasa kesendirian yang lebih kuat pada pria single daripada wanita single. Walau demikian, penelitian menunjukkan kalau perbedaan gender ini lebih bersifat kultural daripada genetik.
  2. Lingkungan umumnya menjadikan pria bersifat maskulin dan wanita feminin. Dalam suku Arapesh, baik pria maupun wanita bersifat feminin. Pria dan wanita suku Mundugumar sama-sama bersifat maskulin. Dan dalam suku Tchambuli, keadaanya malah terbalik, pria bersifat feminin dan wanita bersifat maskulin. Hal ini membuktikan kalau peran gender bukanlah sebuah warisan biologis atau genetik, tapi semata pengaruh lingkungan.
  3. Wanita yang berwajah cantik seringkali mengalami diskriminasi dalam pekerjaan sehingga mereka sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan dan bakat mereka sendiri. Penemuan ini tampak lebih disebabkan oleh lingkungan modern daripada evolusioner.
  4. Anak laki-laki lebih aktif dari perempuan dan anak perempuan lebih pandai dalam berbicara daripada anak laki-laki. Walau demikian hal ini hanya akibat lingkungan semata. Tidak ada bukti genetik ataupun syaraf yang mendukung adanya perbedaan gender ini. Anak laki-laki juga tampak lebih agresif dari pada wanita, dan anak perempuan tampak lebih memiliki empati dari laki-laki. Pernyataan ini juga semata pengaruh lingkungan.
  5. Wanita lebih mungkin mendapatkan penyakit kejiwaan daripada pria. Walau begitu, pria lebih mungkin bunuh diri daripada wanita. Hal ini karena wanita saat mengalami depresi dan penyakit kejiwaan lainnya, segera mengkomunikasikan masalahnya dengan temannya, sementara pria tidak. Perbedaan ini berasal dari kemampuan wanita untuk berkomunikasi yang lebih baik dan seperti yang telah disebutkan, semata karena pengaruh lingkungan.

Dengan berfokus semata pada perbedaan jenis kelamin yang disebabkan oleh sosial budaya, aktivis gerakan emansipasi wanita atau feminisme dapat lebih efektif dalam mengubah sudut pandang masyarakat dan karenanya, lebih efisien pula dalam menggunakan sumberdaya yang ada.

Referensi

  1. Archer, J. 2004. Sex Differences in Aggression in Real-World Settings: A Meta-analytic Review. Review of General Psychology, Vol. 8, pages 291–322; 2004.
  2. Baron-Cohen, S., Knickmeyer, R.C., Belmonte, M.K. 2005. Sex Differences in the Brain: Implications for Explaining Autism. Science,Vol. 310, pages 819–822; November 2005.
  3. Bennet, S., Ferrington, D. P., Huesmann, L.R. 2005. Explaining Gender Differences in Crime and Violence: The Importance of Social Cognitive Skills. Aggression and Violent Behavior, Vol. 10, pages 263–288; 2005.
  4. Bressler, E.R., Martin, R.A., Balshine, S. 2006. Production and Appreciation of Humor as Sexually Selected Traits. Evolution and Human Behavior, Vol. 27, pages 121–130; 2006.
  5. Browne, K. 1992. An Introduction to Sociology. Cambridge: Polity Press.
  6. Crick, N.R., Grotpeter, J.K., 1995. Relational Aggression, Gender, and Social-Psychological Adjustment. Child Development, Vol. 66, No. 3, pages 710–722; 1995.
  7. Durante, K., Griskevicius, V., Hill, S.E., Perilloux, C., Li, N. 2010. Ovulation, Female Competition, and Product Choice: Hormonal Influences on Consumer Behavior. Journal Consumer Research, August 2010
  8. Elliot, A. J., & Niesta, D. (2008). Romantic red: Red enhances men’s attraction to women. Journal of Personality and Social Psychology, 95, 1150-1164.
  9. Finkel, E.J., Eastwick, P.J. 2009. Arbitrary Social Norms Influence Sex Differences in Romantic Selectivity. Psychological Science, Vol. 20, No. 10, pages 1290–1295; October 2009.
  10. Goel, N., Bale, T.L. 2009. Examining the Intersection of Sex and Stress in Modeling Neuropsychiatric Disorders. Journal of Neuroendocrinology, Vol. 21, No. 4, pages 415–420; March 2009.
  11. Goldstein, J.M., Jerram, M., Abbs, B., Whitfield-Gabrieli, S., Makris, N. 2010. Sex Differences in Stress Response Circuitry Activation Dependent on Female Hormonal Cycle. Journal of Neuroscience, Vol. 30, No. 2, pages 431–438; January 2010.
  12. Grucza, R.A., Norberg, K.A., Bierut, L.j. 2009. Binge Drinking Among Youth and Young Adults in the United States: 1979–2006. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 2009 July; 48(7): 692–702.
  13. Grucza, R.A. et al. 2008. A Risk Allele for Nicotine Dependence in CHRNA5 Is a Protective Allele for Cocaine Dependence. Biological Psychiatry, Volume 64, Issue 11, Pages 922-929 (1 December 2008)
  14. Hyde, J. S. 2005. The Gender Similarities Hypothesis. American Psychologist, Vol. 60, pages 581–592; 2005.
  15. Jacobs, G.H., Williams, G.A., Cahill, H., Nathans, J. 2007. Emergence of Novel Color Vision in Mice Engineered to Express a Human Cone. Science, Vol. 315, pages 1723–1725; March 2007.
  16. Johnson, S.K., Podratz, K.E., Dipboye, R. L., Gibbons, E. 2010. Physical Attractiveness Biases in Ratings of Employment Suitability: Tracking Down the ‘Beauty is Beastly’ Effect. The Journal of Social Psychology, 2010; 150 (3): 301
  17. Kawakami, K., Phills, C.E., Steele, J.R., Dovidio, J.F. Close Distance Makes the Heart Grow Fonder: Improving Implicit : Racial Attitudes and Interracial Interactions through Approach Behaviors. Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 92, No. 6, pages 957–971; June 2007.
  18. Koziel, S., Kretschmer, W., Pawlowski, B. 2009. Tattoo and piercing as signals of biological quality. Medical Image Analysis. Volume 31, Issue 3, Pages 187-192 (May 2010)
  19. Leskinen, E.A., Cortina, L.M., Kabat, D.B. 2010.Gender Harassment: Broadening Our Understanding of Sex-Based Harassment at Work. Law and Human Behavior, 2010;
  20. Levy et al. Sex Differences in Jealousy: A Contribution From Attachment Theory. Psychological Science, 2009;
  21. Manson, J.E. 2008. Prenatal Exposure to Sex Steroid Hormones and Behavioral/Cognitive Outcomes. Metabolism: Clinical and Experimental, Vol. 57, Supplement 2, pages S16–S21; 2008.
  22. Moss-Racusin et al. When men break the gender rules: Status incongruity and backlash against modest men. Psychology of Men & Masculinity, 2010; 11 (2): 140
  23. Nenko, I., Jasienska, G. 2009. Fertility, body size, and shape: An empirical test of the covert maternal depletion hypothesis. American Journal of Human Biology 21:4, 520-523
  24. Parke, R. 2004. Fathers, Families, and the Future: A Plethora of Plausible Predictions. Merrill-Palmer Quarterly, Vol. 50, No. 4, pages 456–470; October 2004.
  25. Peters, R.M., Hackeman, E., Goldreich, D. Diminutive Digits Discern Delicate Details: Fingertip Size and the Sex Difference in Tactile Spatial Acuity. The Journal of Neuroscience, December 16, 2009, 29(50):15756-15761
  26. Tannen, D. 2001. You Just Don’t Understand: Women and Men in Conversation. Harper Paperbacks, 2001.
  27. Young, E.A., Becker, J.B. 2009. Sex Matters: Gonadal Steroids and the Brain. Neuropsychopharmacology, Vol. 34, pages 537–538; 2009.
  28. Zahn-Waxler, C., Shirtcliff, E.A., Marceau, K. 2007. Disorders of Childhood and Adolescence: Gender and Psychopathology. Annual Reviews of Clinical Psychology, Vol. 4, pages 11.1–11.29; December 2007.
The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Fans Facebook

Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.