Diposting Jumat, 6 Agustus 2010 jam 9:35 pm oleh The X

Fakta Ilmiah Kawah Putih Ciwidey

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 6 Agustus 2010 -


Kemaren, tanggal 1 Agustus 2010, tim penulis faktailmiah.com berkesempatan melakukan observasi langsung kawah putih Ciwidey. Pertama-tama, warnanya gak putih sama sekali, tapi biru pantai. Oke, itu cuma masalah warna. Apasih fakta ilmiah kawah putih Ciwidey?

Kawah Putih Ciwidey berada pada ketinggian 2359 meter, dengan koordinat 7.15o S dan 107.37o E. Coba kamu cek di google earth. Kawah putih ciwidey merupakan kawah dari gunung Patuha. Tipe gunung Patuha sendiri adalah stratovolkano andesitik.

Secara geologis, gunung berapi Patuha adalah bagian dari pengunungan busur aktif Sunda, yang terbentuk dari subduksi lempeng India-Australia di bawah lempeng Eurasia. Vulkanisme di daerah ini berawal dari zaman Pliosen Atas- Pleistosen Bawah, dan memunculkan sistem gunung berapi yang unik beserta danau-danau kawahnya. Daerah Jawa Barat sendiri memiliki 25 gunung berapi, 5 diantara memiliki danau kawah.

Peneliti Badan Vulkanologi Indonesia sudah banyak melakukan penelitian di kawah ciwidey. Kawah ini mengandung asam dengan pH=<0.5–1.3, Muatan belerang=2500–4600 ppm (part per million) dan kandungan Cl=5300–12 600 ppm. Kandungan belerang dan klornya tinggi, sementara terdapat beberapa manifestasi hidrotermal. Nah, kalau anda berdiri dekat dengan kawah, terdapat endapan lumpur belerang. Ini merupakan sisa-sisa produksi belerang dari endapan danau kawah.

Ada kontribusi magma yang jelas pada uap yang dilepaskan di Kawah Putih, berdasarkan pH yang sangat rendah dan tingkat klorida yang tinggi di air danau di Kawah. Kelompok mata air panas berada di bagian utara Kawah Putih di Cimanggu, Rancawalini dan Barutunggul. Mata air ini melepaskan air pH netral Na-HCO3-SO4-Cl. Mata air hangat lainnya ada di Cisaat, tenggara Kawah Cibuni dan di Cibunggaok, barat daya Gunung Urung. Gas dingin ada di Kawah Tiis, sekitar 3 kilometer barat daya Gunung Urug. Dua mata air mineral melepaskan air sulfat-klorida-asam muncul sekitar 1.5 km di timur Kawah Putih. Keberadaan daerah termal aktif dan vulkanisme yang sangat muda membuat daerah ini menarik untuk pariwisata.

Kawah Putih Ciwidey memiliki lebar 300 meter. Saat kamu mencelupkan air ke dalamnya, rasa airnya biasa saja. Ini karena suhu air hanya sekitar 26–34°C, sama dengan udara sekitar. Globula belerang yang mengambang dengan inklusi sulfida umum ditemukan di kawah ini. Yang unik dari kawah ini adalah konsentrasi oksianion belerang yang tinggi, dengan kandungan S4O62? +S5O62? +S6O62? =2400 – 4200 ppm. Fumarol Subaerial yang panas (<93°C) di pinggir kawah memiliki rasio molar yang rendah, yaitu SO2/H2S < 2, yang merupakan kondisi yang memungkinkan untuk menghasilkan spesies oksianion belerang yang teramati. Data isotop belerang dari sulfat yang terlarut dan belerang asli menunjukkan fraksinasi 34S (?SO4–Se lebih besar atau sama dengan 20‰), mungkin merupakan hasil dari disproporisonasi SO2 di dalam atau di dasar danau. Air danau menunjukkan kekayaan 18O dan D relatif dengan perairan meteorik setempat, sebagai hasil dari efek gabungan antara perncampuran fluida berat secara isotop dari dasar danau dan air meteorik, dan fraksionasi yang diinduksi oleh penguapan di permukaan danau. Sistematika isotop stabil yang digabungkan dengan pertimbangan keseimbangan energi mendukung adanya siklus fluida yang sangat cepat pada sistem danau. Tinggi permukaan danau dan konsentrasi unsur menunjukkan pergolakan musiman yang kuat, dan mengindikasikan rendahnya waktu tinggal air di danau ini.

Gas yang bertanggung jawab atas pH yang rendah di air (yang mencapai pH 1 di kawah putih Ciwidey) disebabkan oleh fumarol. Fumarol adalah lobang yang mengirimkan gas seperti CO2 dan SO2 dari dalam tanah. Fumarol dapat juga mengeluarkan gas dan uap pada suhu 100 hingga 1000 derajat Celsius. Tercatat pada tahun 1919, kalau 1,3 juta ton HCl, 0.2 ton HF dan 0,3 juta ton H2S dilepaskan oleh fumarol. Tidak heran mengapa jenis bangunan geologis ini memberi makan keasaman danau ini sehingga menjadi danau yang indah dan luar biasa.

Struktur Belah Danau Kawah Ciwidey

Kawah Putih biasanya tertutup awan. Pada bulan juli dan agustus, suhunya dapat mencapai 10 derajat celsius di waktu siang dan turun menjadi 5 derajat celsius di waktu malam. Secara administratif, daerah ini berada di daerah Ranca Bali, sekitar 44 km dari kota Bandung, di desa Sugih, kecamatan Pasir Jambu. Kata Patuha berasal dari kata Pak Tua, atau Patua. Penduduk setempat sering menyebutnya gunung sepuh. Di masa lalu penduduk menganggap gunung Patuha dan kawah putih adalah tempat suci, sehingga tidak ada orang yang berani kesana. Bahkan burung tidak berani terbang di atasnya.

Keindahan kawah putih ditemukan pertama kali oleh Dr Franz Wilhelm Junghuhn (1809 – 1864). Beliau adalah seorang botanis dari Jerman. Saat meneliti daerah Patuha, sebagai orang rasional, dia tidak percaya dengan legenda penduduk sekitar. Saat ia masuk kedalam hutan, ia menemukan danau kawah yang indah. Danau ini mengandung lava dan bau belerang yang kuat. Ia juga menemukan tingkat belerang yang padat sehingga membuat burung tidak mau terbang di atasnya.

Setelah itu Belanda membangun tambang belerang, Zwavel Ontgining Kawah putih, yang beroperasi hingga Jepang tiba. Di zaman Jepang, namanya menjadi Kawah Putih Kenzanka Yokoya Ciwidey dan dikendalikan langsung oleh pemerintah militer jepang. Hingga sekarang, terowongan tambang belerang itu masih ada, dengan tulisan “Jangan terlalu lama berada di depan goa”. Kami mengira kalau itu merupakan petunjuk kalau rame yang antri di depan goa. Hehe. Anyway, sebenarnya peringatan itu dibuat karena bahaya yang muncul pada kesehatan karena menghisap belerang terlalu lama.

Jalan Menuju Kawah Ciwidey

Di sekitar daerah kawah putih, terdapat beberapa kuburan leluhur seperti Eyang Ronggo Sadena, Eyang Ngabai, Eyang Baskom, Eyang Jaga Satru, Eyang Camat, Eyang Barabak, dan Eyang Jambrong. Salah satu puncak dari Gunung Patuha diberi nama Eyang Jaga Satru. Di duga terdapat sejenis domba putih, yang diberi nama domba lukutan, hidup di daerah ini.

Model termodinamika fluida danau menunjukkan kalau air danau terjenuhkan dengan fase-fase silika, barite, pyrite dan beragam sulfida Pb, Sb, Cu, As, Bi bila diasumsikan kalau yang jenuh adalah belerang. Fase pengembunan yang diramalkan oleh perhitungan model sesuai dengan kimia kaya belerang di endapan dasar dan fase mineral nya. Sebagian besar kimiawi air danau dapat dijelaskan dengan disolusi batuan kongruen dengan kombinasi pengayaan dari gas atau brine fumarolik yang masuk serta pembuangan unsur-unsur oleh fase mineral yang mengembun, seperti ditunjukkan oleh perbandingan fluida, batuan vulkanis dan endapan dasar danau.

Mata air yang ada di berbagai ketinggian berbeda komposisinya dan konsisten dengan disolusi sebagai faktor dominan dan mobilitas unsur tergantung pH. Pelepasan dari air kaya sulfat dan klorida yang hangat pada elevasi tertinggi dan dekat mata air netral pada permukaan bawah dapat mengandung sedikit air danau kawah. Proses terinduksi fluida asam di Patuha membawa pada penumpukan unsur-unsur yang biasanya berasosiasi dengan endapat bijih epitermal gunung berapi. Dispersal logam beerat dan unsur yang potensial beracun dari gunung berapi lewat sistem pengairan setempat adalah masalah lingkungan yang serius.

Interaksi hidrotermal batuan-air di sistem Kawah Putih menjadi salah satu contoh formasi endapan bijih gunung berapi. Presipitasi belerang asli dan sulfida lainnya dari air danau menumpuk sebagai endapan kaya belerang di dasar danau. Endapan ini ditambang pada paruh pertama abad ke-20 dan menjadi 90% produksi belerang indonesia (Hindia Belanda) di masa itu. Rembesan danau ke fraktura gunung juga menjadi mekanisme lain formasi bijih hidrotermal di gunung berapi ini.

Air yang merembes dari Kawah putih juga berbahaya bagi kesehatan manusia. Air asam yang merembes ini menambah tingkat keasaman mata air gunung Patuha. Mata air ini sendiri mengalirkan airnya menjadi sungai Ciwidey dan Citarum, yang airnya dipakai penduduk setempat untuk pengairan. Walau begitu, hipotesa rembesan air danau melalui batuan vulkanik yang lolos air memerlukan penelitian lebih lanjut.

Biota yang tinggal di danau dengan pH rendah sangat sedikit. Ikan mustahil ada, karena pH untuk ikan, paling rendah adalah 4,5. Hanya ada beberapa jenis mikroba, terutama dari jenis Archaea yang bisa bertahan hidup pada pH sangat rendah. Sebagai contoh danau Goang yang memiliki pH 2.5. Tidak ada ikan sama sekali di danau ini. Fitoplankton yang ada hanyalah satu spesies yaitu heterococcales. Zooplanktonnya hanya satu jenis rotifer dan satu spesies vorticella. Fauna air lain adalah nematoda, dua jenis larva diptera, satu trichoptera, satu zygoptera, kepiting kecil (Sundatelphusa) dan satu kopepod siklopoid (Paracyclops). Jika untuk pH 2,5 saja biota yang ada sesedikit ini, apa lagi untuk pH 1 seperti Kawah Putih Ciwidey. Bisa jadi hanya ada satu jenis mikroba saja dari takson Archaea. Di sekitar danau terdapat hutan yang lebat. Di hutan ini terdapat jenis surili (Presbytis comata Desmarest 1822). Kera yang cukup eksotis dan biasa juga disebut Owa Jawa.

Pemandangan Kawah Putih Ciwidey

Selain kawah putih Ciwidey, terdapat juga kawah Patuha, 600 meter di sebelah barat laut kawah putih. Kawah ini kering, berbeda dengan kawah putih yang berbentuk danau. Dalam danau ini sekitar 8 meter kalau ada airnya. Kawah putih sendiri merupakan daerah sistem vulkanis yang relatif stabil, tanpa ada aktivitas magma atau phreatic sejak 1600 masehi. Walau begitu, aktivitas magmanya jelas dalam bentuk larutan air danau hyper asam yang berasal dari kondensasi gas SO2, H2S dan HCl yang ada di dekat dasar danau.

Referensi

  1. Aryawijaya, R. 1996.Status of geothermal resource development and future outlook in Indonesia. Book Title: 1995 – 1996 APEC Energy R & D and technology trasfer and renewable energy resource assessment seminar proceedings. p. 214 – 226.
  2. Dam, M.A.C. 1994. The Late Quaternary evolution of the Bandung Basin, West-Java, Indonesia. PhD thesis, Vrije Universiteit Amsterdam. Pp. 252.
  3. Harjanti, T.D. 1996. Perilaku makan dan jenis makanan surili (Presbytis comata Desmarest 1822) di hutan Brussel, Gunung Patuha, Ciwidey, Jawa Barat. B.Sc Thesis. Universitas Padjajaran, Bandung
  4. J. Green dan Hasiana Kramadibrata. 2006. A note on Lake Goang, an unusual acid lake in Flores, Indonesia. Freshwater Biology. Volume 20 Issue 2, Pages 195 – 198
  5. McBirney, 1979. William Volcanology. San Francisco: Freeman.
  6. Matthias Koschorreck,Katrin Wendt-Potthoff, dan Walter Geller. 2003.
  7. Microbial Sulfate Reduction at Low pH in Sediments of an Acidic Lake in Argentina. Environ. Sci. Technol., 2003, 37 (6), pp 1159–1162
  8. Purwantoro, T., Silaban, M.S.P. dan Rachman, A. 2010, Potencies and Development Plan of The Patuha Geothermal Field, submitted to the 39th IAGI Annual Convention and Exhibition, 18-21 October 2010, Senggigi Lombok, West Nusa Tenggara
  9. Rodhe, H., et. Al. “The Global Distribution of Acidifying Wet Deposition.” Environmental Science & Technology. v. 36 no. 20 (October 15 2005) p. 4382-8.
  10. Rowland, Scott. 2004. “What causes an acid lake? Do they take a long time to form or can a regular lake become one?” University of Hawaii. 04/17/04. http://volcano.und.edu/vwdocs/frequent_questions/grp4/question235.html
  11. Sitherland, Lin. 1995. The Volcanic Earth.Sydney: UNSW.
  12. T. Sriwana, M. J. van Bergen, S. Sumarti, J. C. M. de Hoog, B. J. H. van Os, R. Wahyuningsih, M. A. C. Dam. 1998a. Volcanogenic pollution by acid water discharges along Ciwidey River, West Java (Indonesia). Journal of Geochemical Exploration, Volume 62, Issues 1-3, June 1998, Pages 161-182
  13. T. Sriwana 1998b. Volcanogenic pollution: element accumulation and dispersal around Patuha Volcano and Ciwidey River, West Java, Indonesia. Ph.D. Thesis, Utrecht University, Faculty of Earth Sciences
  14. T. Sriwana, M. J. van Bergen, J. C. Varekamp, S. Sumarti, B. Takano, B. J. H. van Os., M. J. Leng. 2000.Geochemistry of the acid Kawah Putih lake, Patuha Volcano, West Java, Indonesia. Journal of Volcanology and Geothermal Research. Volume 97, Issues 1-4, April 2000, Pages 77-104
  15. T. Sriwana, M. J. Van Bergen dan S. Darma. 2001. Penyebaran Unsur Kimia Dari Daerah Kenampakan Panasbumi Dan Lumpur Belerang Di Gunung Patuha, Ciwidey, Jawa Barat. Proceeding Of The 5th Inaga Annual Scientific Conference & Exhibitions Yogyakarta, March 7 – 10, 2001

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.