Diposting Minggu, 1 Agustus 2010 jam 12:50 am oleh The X

Film horor masa depan akan lebih menyeramkan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 1 Agustus 2010 - Berkat penerapan neurologi dalam pembuatan film horor. Begini kisahnya.


“Dengan melihat jumlah total reaksi otak dari daerah otak dari daerah seperti amygdala, daerah pengatur rasa takut, dan daerah Brodmann 10, dalam menjalankan fungsi dan ingatannya, kita dapat menganalisa apakah sebuah trailer menghasilkan keterlibatan emosional yang tinggi” demikian kata Martin Lindstrom, seorang pakar ilmu syaraf dan pengarang Buyology, buku yang membahas perilaku konsumsi berdasarkan perspektif ilmu syaraf.

Tahun 2009, Peter Katz, seorang produser film independen, tertarik dengan ilmu syaraf dan membayangkan apa yang akan ditunjukkan oleh fMRI saat seseorang dipertontonkan film horor terbarunya, Pop Skull. Ia mendekati Devin Hubbard, seorang pakar syaraf dan juga pengusaha aplikasi yang dibangun berdasarkan ilmu syaraf, MindSign. Katz berpendapat kalau bagian dari otak bernama amygdala, bertanggung jawab terhadap perasaan horror yang kita peroleh saat menonton film. Bila fMRI menunjukkan adanya aktivitas di amygdala, ada alasan kuat yang menunjukkan kalau orang tersebut sedang ketakutan. Dengan ini, maka anda akan tahu, bagaimana menjadikan sebuah trailer film dapat mengaktifkan amygdala, dan berarti memunculkan rasa takut.

Hasil penelitian Katz dan Hubbard mengejutkan. Adegan seseorang yang ditembak tangannya saat memanjat dinding menghasilkan aktivitas amygdala yang lebih besar daripada adegan dimana seorang tokoh jahat melompat dari tebing. Ini bertentangan dengan standar film horor biasa.

Beberapa bulan kemudian, Katz menunjukkan hasil eksperimennya pada dua bersaudara, Drew dan John Dowdle, sutradara film Zombie box office, Quarantine dan kepada M. Night Shyamalan, produser film horror Devil. Karena tertarik, Dowdle bersaudara meminjam potongan film dari film horor pembunuhan berantai, The Pughkeepsie Tapes. Enam orang menyaksikan film tersebut di dalam fMRI untuk di scan otaknya, sembari menikmati film horor. Mereka kemudian mengedit bagian yang kurang horor menjadi lebih horror lagi, sehingga saat di tonton, adegan yang pada awalnya tidak terlalu mengaktifkan amygdala, menjadikan amygdala sangat aktif, dan efeknya, para penonton tampak lebih ketakutan.

Ini menjadi metode baru bagi para pembuat film horror di masa depan. Sebelumnya, orang menilai sebuah film horor atau tidak berdasarkan penilaian subjektif, namun dengan adanya metode MindSign, setiap orang tidak lagi dapat berbohong atau salah menilai, mereka pasti ketakutan. Ada juga cara sebaliknya, yaitu mengurangi rasa takut, caranya dengan memberi filter hijau pada gambar, sehingga tidak terlalu menyeramkan.

Namun satu hal yang lebih horor dari semata mengaktifkan amydala, yaitu adegan yang mengaktifkan amygdala dan daerah ingatan di otak. Dengan demikian, bukan saja anda ketakutan saat menonton film horor tersebut, tapi juga dapat mengingat adegan tersebut besok dan tahun depan, adegan horor yang tetap terbayang di otak anda.

Dan, dan yang lebih horor lagi, adalah dengan memakai teknologi 3 Dimensi. Teknologi ini membuat orang bukan hanya merasa sebagai penonton, tapi juga berada di dalam film. Mengerikan? Tentu saja, well, beneran deh, horor masa depan bisa sangat horor.

Referensi

Popular Science, June 2010

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Fans Facebook

Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.