Diposting Minggu, 1 Agustus 2010 jam 12:40 am oleh The X

Fakta Ilmiah Keong Racun

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 1 Agustus 2010 -


Wahaha. Gue tahu, ini judul lagu yang lagi ngetop sekarang. Karena penulis faktailmiah juga rada suka ama lagu dan videonya, well, ga ada salahnya juga bikin artikel tentang keong racun. Lagian, begitu gue cari di google tentang keong racun, semuanya tentang satu topik aja. Kasihan yang lagi beneran nyari fakta tentang keong racun.

Gue juga sempet masem saat denger liriknya. I mean, kenapa sih cowok di analogikan dengan keong racun. Gak cool banget. Nama ilmiah keong racun itu Lissachatina fulica. Kamu kalau tau namanya, well, bisa disingkat Tina, atau Lisa kalau mau. You know, seperti Suparjo, disingkat Parjo. Ya ada sih yang pake nama ilmiah Achatina fulica, tapi tetap aja ada kalau disingkat bisa jadi Tina. Hehe

Iya mungkin kenapa sang penyanyi menganalogikan pria mata ke-ranjang (bukan pria mata keranjang) sebagai keong racun karena keong racun merupakan hama. Saya bisa menambahkan lagi, keong racun sebenernya bukan asli Indonesia, beliau datang dari Afrika. Waw. Dari Afrika jauh-jauh ke mari. Afrika timur tepatnya.

Sepertinya tulisan gue seperti bernada protes gender, seolah gue adalah orang yang lagi diomongin di lagu itu (halah, kepedean). Tapi serius nih, keong racun itu hermafrodit. Dia laki-laki sekaligus perempuan.

Keong racun bisa tersebar begitu cepat ke penjuru dunia dari Afrika timur sana karena kemampuan reproduksinya yang cepat. Setiap ketemu keong sejenisnya dan mereka pengen kawin, dua-duanya bisa hamil! Dan lebih parah lagi, hamilnya 12 kali setahun. Lebih parah lagi, sekali hamil bisa ngeluarin 100 sampai 400 anak. Dan umur mereka rata-rata sembilan tahun. itu berarti 108 kali beranak, dengan total anak 10 ribu hingga 40 ribu ekor. Bayangkan!

Ambil saja contoh nasib Amerika Serikat. Tahun 1966, seorang anak cowok menyelundupkan tiga ekor keong racun dari Hawaii ke Miami. Kenapa keong racun itu bisa ada di hawaii padahal asalnya dari Afrika, itu gak tau deh. Yang jelas, sang nenek kasihan ama tuh keong. Jadi diambilnya keong racun itu dari cucunya yang nakal, terus dilepaskannya ke kebun. Tujuh tahun kemudian, 18 ribu ekor keong racun ditemukan di Florida, membantai banyak tanaman. Perlu 10 tahun dan lebih dari 10 miliar rupiah (1 juta USD) untuk menghapus hama ini dari Florida.

Hopeless GALS (Giant African Land Snail)

Tapi cewek, please deh. Keong racun bukan satu-satunya keong hama di Indonesia. bahkan, keong racun adalah keong paling sopan, karena dia berpakaian rapi. Rumahnya itu loh. keren kan. Garis-garis. Keong hama lainnya gak sopan. Yang ada keong setengah telanjang atau Parmarion popularis, dan keong telanjang. Tau nama ilmiah keong telanjang? Vaginula bleekeri. Hahaha. Nama ilmiahnya itu loh.

C’mon gals. Dalam bahasa Inggrisnya, keong racun itu adalah Giant Africa Land Snail, disingkat apa, coba tebak? C’mon Gals, bisa kan menebaknya?

Keong racun not that bad. Walaupun dia hama yang memakan 500 jenis tanaman, dan menjangkitkan penyakit eosinophilic meningitis karena merupakan vektor parasit nematoda Angiostrongylus cantonensis, tapi kalau hati-hati memasaknya bisa jadi makanan yang lezat, baik untuk manusia, dan umm, ternak. Hehe.

So, itulah keong racun, alias lisa, alias tina, alias Gals. Dia raksasa, dari afrika, hanya aktif di malam hari, hermafrodit, hama, rajin bereproduksi, tapi lebih sopan dan eksotis, dibandingkan dengan Vaginula bleekeri. Umm, bahkan ada Asosiasinya lagi, ABI. Alias Asosiasi Bekicot Indonesia.

Bacaan lanjut

  1. Blog Asosiasi Bekicot Indonesia. http://bekicotfansclub.blogspot.com
  2. Khalil., Sofyan, L.A., Aboenawan, L. 1991. Mempelajari Jenis Pakan Yang Disukai Dan Memberikan Pengaruh Yang Baik Terhadap Pertumbuhan Bekicot (Achatina fulica). Institut Pertanian Bogor.
  3. Pracaya, 1999. Hama dan Penyakit Tanaman. Niaga Swadaya.
  4. US Department of Agriculture, Animal and Plant Health Inspection Service. Giant African Land Snail. http://www.manandmollusc.net/GALS.html
  5. Wade, C. 2010. Evolutionary Relationships in the Pulmonate Land Snails and Slugs (Pulmonata: Stylommatophora). Institute of Genetics, the University of Nottingham

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Fans Facebook

Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.