Diposting Rabu, 28 Juli 2010 jam 12:39 pm oleh The X

Tiga Ikan Bertulang Rawan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 28 Juli 2010 - Seperti dari namanya, kerangka ikan bertulang rawan terbuat dari tulang rawan, jenis tulang yang elastis dan lembut.


Walau begitu, rahang dan giginya biasanya kuat dan tajam. Tubuh mereka tertutuk sisik yang keras. Ciri tubuhnya berbeda dengan ikan bertulang sejati, yaitu mereka tidak memiliki kelenjar renang. Kelenjar renang ini penting untuk membantu ikan mengapung. Karena ikan bertulang rawan tidak memilikinya, maka ia harus terus bergerak agar dapat mengapung. Sirip pektoral, ekor dan kepalanya yang lempeng memberikan bentuk tubuh streamline, bujur arus. Chondrichthyes merupakan salah satu hewan yang paling purba yang sebagian besar tubuhnya tidak ber evolusi.


Daerah yang ber evolusi nyata hanyalah inderanya. Fosil salah satu potongan tulang belakang hiu telah ditemukan berasal dari zaman Paleozoikum, yang terletak antara 245 hingga 540 juta tahun lalu. Ia ditemukan dalam endapan Kent di Inggris. Darah hiu masa kini mengandung konsentrasi urea yang tinggi, yang merupakan bentuk adaptasinya dengan air asin. Inilah perbedaan dasar antara hiu modern dan leluhurnya yang hidup di air tawar.

1. Hiu


Ikan ini hidup di perairan tropis, walaupun ada juga yang pergi mengembara hingga ke perairan sub tropis atau bahkan air tawar. Mereka memiliki bentuk tubuh tegak, silinder dan moncong yang tajam, dengan mulut berada di bawahnya. Tiap sisi kepala memiliki lima hingga tujuh celah insang. Berat normal hiu (superordo Selachimorpha) adalah 1.2 ton. Hiu seperti ikan lainnya adalah hewan berdarah dingin. Artinya suhu tubuh mereka sama dengan suhu lingkungannya. Mereka memiliki gigi yang berbentuk segitiga. Semua ikan jenis chondrichthyes, termasuk hiu, kehilangan giginya dan menumbuhkan gigi baru hingga ia mati. Hiu juga memiliki ampullae lorenzini, sebuah indera pelacak sinyal listrik yang dikeluarkan tubuh mangsanya. Indera lainnya yang kuat adalah penciuman dan garis lateral. Otot tubuhnya dapat membangkitkan panas. Untuk berkembang biak, hiu memiliki sirip pelvic yang termodifikasi menjadi alat kelamin jantan. Sirip ini akan masuk ke tubuh betinanya, yang kemudian akan menghasilkan telur. Pada beberapa spesies hiu, anak mereka berkembang di dalam tubuh induknya dalam struktur yang mirip dengan plasenta pada manusia. Anaknya sendiri memiliki tubuh yang langsung sama dengan tubuh hiu dewasa. Kulit hiu umumnya terdiri dari ribuan sisik yang saling kunci yang disebut dentikel atau sisik placoid.
2. Pari

Raja clavata (credit: cefas)

Ikan ini memiliki dua sirip pektoral yang menyatu di depan tubuhnya. Mereka memakainya untuk berenang di air. Gerakannya seperti terbang di dalam air. Tubuh lainnya bergerak sama seperti sebuah cambuk. Mata mereka berada di bagian atas tubuh; mulut dan insangnya di bagian bawah. Contohnya adalah pari punggung duri (Raja clavata). Pari ini hidup di samudera yang dingin dalam kedalaman hingga 200 meter. Pari memiliki lima hingga enam baris insang.
3. Hiu Hantu

Hydrolagus melanophasma, salah satu spesies hiu hantu (credit: MBARI)

Hiu hantu adalah ikan laut dalam. Seperti hewan pra sejarah, mereka memiliki kepala yang besar dan sirip pektoral yang besar pula. Mereka memiliki duri di depan sirip dorsal pertama. Ujung tubuhnya menyempit menjadi ekor yang diakhiri dengan sebuah benang yang tipis. Contohnya adalah chimaera (Rhinochimaera pacifica) yang hidup di kedalaman hingga 1500 meter di Pasifik. Panjangnya mencapai 1.2 meter.
Referensi
1. Catalina Pimiento, Dana J. Ehret, Bruce J. MacFadden, Gordon Hubbell, Anna Stepanova. Ancient Nursery Area for the Extinct Giant Shark Megalodon from the Miocene of Panama. PLoS ONE, 2010; 5 (5): e10552
2. Encyclopaedia britannica. 2010. Fish and Amphibians
3. Giovanni Bianucci, Barbara Sorce, Tiziano Storai, Walter Landini. Killing in the Pliocene: shark attack on a dolphin from Italy. Palaeontology, 2010; 53 (2): 457
4. James, K.J., Ebert, D.A., Long, D.J., Didier, D.A. 2009. A new Species of chimaera, Hydrolagus melanophasma sp.nov. (Chondrichthyes: Chimaeriformes: Chimaeridae), from the eastern North Pacific. Zootaxa 2218: 59-68 (2009)
5. Meyer et al. Seasonal cycles and long-term trends in abundance and species composition of sharks associated with cage diving ecotourism activities in Hawaii. Environmental Conservation, 2009; 1

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Fans Facebook

Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.