Diposting Senin, 26 Juli 2010 jam 11:32 pm oleh The X

Tiga Ikan dengan Mekanisme Bertahan Hidup Paling Aneh

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 26 Juli 2010 -


Untuk menghadapi musuh-musuhnya, ikan mengembangkan sejumlah strategi untuk bertahan hidup. Sebagian dengan cara lari dengan kecepatan tinggi, sebagian dengan bersembunyi di dasar samudera, sebagian lagi mengaduk-aduk pasir sehingga tak terlacak. Ada juga yang memiliki racun, ada yang menggembungkan tubuhnya atau menyalakan organ cahayanya di daerah samudera dalam untuk membutakan musuhnya. Berikut tiga yang menurut faktailmiah paling aneh

  1. Ikan Landak (Diodon hystrix)

Ikan landak saat tenang (credit: Maestro percador)

Ikan Landak dalam kondisi menggembung (credit: JJ Photo)

Dari namanya sudah jelas mekanisme bertahan hidupnya seperti apa. Ikan landak merupakan kerabat dekat Nyonya Puff (Ikan Buntal). Perbedaannya terletak pada, well, duri. Ikan ini saat merasa terancam akan menyedot air hingga ia menggembung tiga kali lebih besar dari ukuran semula. Ini penting saat ia berada di dalam mulut predator. Mulut sang predator tidak akan muat sehingga predator tidak jadi memangsanya. Tapi itu belum seberapa. Sisik di tubuhnya termodifikasi menjadi duri. Duri ini saat sang ikan mengembang, akan menjadi tegak. Hal ini dimungkinkan oleh tulang punggung dan kerangkanya yang merupakan tulang yang elastik. Tulang-tulang ini menyesuaikan diri dengan perut yang berisi air sehingga ikut melengkung. Ikan landak bahkan mampu menggelembung walau berada di luar air. Ia tinggal menghirup udara. Saat tidak lagi terancam, sang ikan kembali ke kondisi awalnya. Durinya terbaring tidur dan ia sulit dibedakan dengan ikan lainnya. Diameternya saat mengembang bisa mencapai 90 meter. Predator yang tidak sempat memasukkan sang ikan pada mulutnya sudah cukup takut untuk memangsanya. Tempat dimana durinya tidak ada hanya di ekornya.

  1. Belut Taman Laut (Taenioconger hassi)

Belut taman laut berbeda dengan belut lainnya. Jika belut lainnya senang hidup dengan horisontal, berbaring di dasar laut, maka belut taman laut justru senang hidup vertikal. Ia mengubur tubuhnya ke dasar laut seperti sebuah tongkat, dengan menyisakan kepala di atas permukaan pasir. Hidup yang berkoloni membuat belut-belut ini seolah seperti rerimbunan ganggang. Hewan malang yang mengira rerimbunan ini tempat yang bagus untuk bernaung malah akan menjadi mangsa bagi para belut. Lubang yang menjadi tempat menancapnya belut taman laut merupakan lubang yang lebih dalam dari panjang tubuhnya. Saat ada predator, maka sang belut tinggal menarik dirinya masuk ke dalam lubang ini. Lalu bagaimana belut ini bisa berada sebagian di luar lubang tanpa terjatuh? Bagian tubuh yang berada di luar lubang mengeras menggunakan otot-ototnya. Karenanya dia tidak akan meluncur turun, walaupun dinding bagian bawah ruang yang kosong terlapisi lendir tubuhnya yang licin.

  1. Ikan Tang Kuning (Zebrasoma flavescens)

Ikan tang bisa dikatakan sebagai ayam jantan dari laut. Pasalnya, sang ikan memiliki semacam taji di ekornya. Taji ini lebih tajam dan mengarah ke samping. Mungkin seperti ninja di film Naruto. Saat ada musuh, dia bergerak ke arahnya sambil menyabitkan pisau di ekornya ke musuh. Selain itu, sang ikan juga suka menyatu dengan kumpulan ikan lainnya. Ikan-ikan ini harus menjaga jarak agar tidak bersenggolan dengan ikan tang. Di sisi lain, dengan adanya ikan tang dalam kumpulan ikan, bisa jadi predator akan menjauh karena jera dengan sang ninja. Ikan ini sendiri vegetarian. Jadi jelas taji ini untuk pertahanan semata. Ikan Tang memiliki ukuran lumayan besar, panjangnya bisa mencapai 50 cm.

Referensi

  1. Cramer, P. 2006. Protecting the self: Defense Mechanism in Action. Guilford Press.
  2. Encyclopaedia Britannica Science. 2004. Fish and Amphibians.
  3. USGS. 2003. Zebrasoma flavescens (Bennet 1828)
The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.