Diposting Minggu, 25 Juli 2010 jam 2:02 pm oleh The X

Hubungan Situs Porno dengan Kekerasan Seksual

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 25 Juli 2010 -


Saat ini di buat, pemerintah sedang berencana untuk memblokir situs porno. Beberapa pihak mendukung, dan lainnya tentu saja, menolak. Kami dari faktailmiah.com menyelidiki apa saja fakta ilmiah di balik keputusan ini. Intinya, apakah pornografi dan pelecehan seksual memang memiliki korelasi yang nyata, atau ia hanya sebuah langkah politik tanpa dukungan ilmiah.

Sebelumnya mari kita periksa apa saja pro dan kontra non ilmiah yang berkembang di kalangan masyarakat, beserta counter argument masing-masing.

Pro Pornografi

  1. Ini hanya usaha politik untuk mempromosikan ideologi tertentu. Pada gilirannya, bukan hanya pornografi yang dilarang, tetapi juga kebebasan berpendapat di internet

Counter = Slippery slope argument. Tidak logis.

  1. Ini hanya klaim yang sama dengan klaim mengenai adanya korelasi langsung tidak langsung antara bencana alam dan bencana moral. Hal ini jelas karena yang mengatakannya adalah orang yang sama.

Counter = Ad hominem. Tidak logis.

  1. Mensensor pornografi mencegah kemajuan bangsa. Hampir semua negara maju memperbolehkan pornografi. Kita akan terbelakang bila melarangnya.

Counter = Post hoc. Mana buktinya?

  1. Saya mengenal internet pertama kali lewat pornografi. Setelah itu saya tertarik untuk mengeksplorasi manfaat yang lebih baik lagi dari internet. Pornografi adalah pintu menuju pengenalan internet pada orang awam.

Counter = Kesaksian. Belum tentu berlaku general. Mana surveynya?

  1. AS mendukung pornografi dan AS adalah negara maju.

Counter = Itu karena industri pornografi menyumbang pada ekonomi AS. Bukan berarti pornografi benar. Di Indonesia, industri rokok menyumbang pada ekonomi. Bukan berarti merokok itu benar.

  1. Pornografi internet adalah wadah penyaluran naluri seksual. Jika di tutup, maka naluri seksual justru akan dilampiaskan pada dunia nyata.

Counter = Hukum pidana mencegahnya.

  1. Pornografi hanya berbahaya untuk anak dan remaja. Tidak pada orang dewasa.

Counter = Tidak ada cara yang murah dan efektif untuk mencegah anak dan remaja mengakses pornografi internet. Cara paling efektif adalah memblokirnya untuk seluruh konsumen.

  1. Indonesia akan menjadi seperti negara komunis yang terus mundur bukannya maju

Counter = China tidak sepenuhnya komunis. Selain itu, komunisme adalah masalah ekonomi, tentunya tidak sesederhana itu masalahnya.

  1. Pelarangan pornografi akan menyebabkan banyaknya pernikahan usia dini karena orang dewasa tidak memiliki penyaluran seksual lagi

Counter = Apakah dengan membolehkan pornografi maka pernikahan usia dini akan menurun?

  • Pornografi mencegah prostitusi yang lebih berbahaya secara sosial
  • Counter = bukti ilmiahnya?

  • Pornografi membantu orang yang mengalami kesulitan mendapatkan pasangan seksual mendapatkan penyaluran. Orang yang sudah menikah si enak, tapi yang belum? Pelarangan pornografi justru dapat meningkatkan pelanggaran hukum, terutama pelecehan seksual
  • Counter = bukti ilmiah?

  • Munafik!
  • Counter = tergantung

    Kontra Pornografi

    1. Negara yang melarang pornografi seperti Arab Saudi memiliki
      tingkat kejadian perkosaan paling rendah di dunia

    Counter = Itu karena yang dihukum adalah korbannya, bukan pelakunya. Hukum yang melanggar HAM membuat orang ketakutan dan merasa di teror. Di Arab Saudi, orang heteroseksual (menyukai lawan jenis) akan merasa lebih aman dengan memaksa dirinya untuk menjadi homoseksual (menyukai sesama jenis)

    1. Masuk akal kan? Gara-gara melihat situs porno orang bisa melakukan pelecehan seksual. Gak perlu penelitian, cukup dipikir saja pake logika (Kilpatrick, 1975)

    Counter : Sesuatu yang masuk akal belum tentu benar karena kecerdasan dan pengalaman tiap orang berbeda. Sesuatu yang masuk akal bersifat subjektif. Faktanya, telah ada bukti ilmiah kalau manusia cenderung membentuk kepribadian yang berbeda saat berada di internet dengan di dunia nyata. Lihat Zhao, 2004.

    1. Ini adalah tuntutan masyarakat setelah peristiwa video porno artis

    Counter : Masyarakat yang mana?

    1. Orang-orang yang dipenjara terbukti melakukan perkosaan setelah melihat situs porno. Kasus perkosaan meningkat setelah pelaku menonton video porno.

    Counter : Itu adalah tindakan kambing hitam. Yang namanya orang tertuduh, ia sebisa mungkin akan berusaha tidak bersalah. Ia menyalahkan apapun yang masuk akal bagi penuntutnya untuk meringankan hukuman. Itu namanya lari dari tanggung jawab. Kebetulan ada kasus video porno artis, jadi video tersebut di jadikan kambing hitam.

    1. Pornografi tidak sesuai dengan budaya nasional

    Counter : Budaya nasional yang mana? Budaya nasional hanya produk nasionalisme semu. Kita bicara globalisasi disini. Negara maju adalah negara yang membuka diri terhadap negara lain, termasuk dalam bidang kebudayaan. Lagi pula budaya suatu bangsa bukan dilihat dari kebanggaan bangsa tersebut atas budayanya, tapi dari pandangan bangsa lain terhadap dirinya. Dan bagi bangsa lain, budaya bangsa kita adalah : Tidak disiplin, terlalu kompromistis, terlalu berputar-putar, pemimpin tidak berwibawa dan kentalnya konservatisme

    1. Pemblokiran situs porno sesuai dengan Undang Undang Anti Pornografi

    Counter : Walau begitu, pemblokiran situs porno memiliki potensi konflik dengan UU Pers, UU Penyiaran dan UU Telkom. Cukup jelas untuk UU penyiaran dan Pers, yaitu kebebasan pers. Untuk UU Telkom, Permen ini melanggar privasi yang dijamin oleh UU Telkom. Seperti kata Wakil Ketua Pers Bambang Harimurti, “ISP kan itu seperti PT. Pos atau PT. Telkom. Dia tidak boleh menyadap atau mengetahui isi konten melalui fasilitas mereka. Ini kan ibaratnya pos harus sensor semua, mana yang boleh mana yang tidak. Ini kan tidak benar, melanggar privasi .” Selain itu, bagaimana dengan HAM?

    1. Pornografi adalah penyebab bencana alam

    Counter: Fakta ilmiahnya?

    1. Ini adalah hak DEPKOMINFO. Dari namanya sudah jelas, Komunikasi dan Informasi. Artinya Depkominfo pasti telah berkomunikasi dengan ilmuan secara ilmiah, dan memiliki informasi yang kuat dan ilmiah sehingga wajar bagi mereka untuk melarang pornografi

    Counter : Oh ya? Seperti bencana alam berkorelasi dengan bencana moral?

    1. Kita bukan hewan

    Counter : Tidak ilmiah. Bahkan seandainya memang kita bukan hewan, maka bagi hewan, kita adalah pemeran film pornografi. Kita secara alami telanjang, dalam artian tidak memiliki penutup tubuh alami (rambut (fur), bulu (feather)) seperti para hewan mamalia dan aves.

    1. Pornografi membuat orang bodoh

    Counter : Fisikawan besar dunia, Stephen Hawking adalah salah satu konsumen pornografi. Baca saja kata pengantarnya di buku A Brief History of Time.

    1. Pornografi melecehkan kaum wanita karena hanya menampilkan wanita saja

    Counter : Itu karena konsumen pornografi adalah pria. Pria adalah mahluk visual, beda dengan wanita. Anda tentu tahu apa saja perbedaan sifat yang nyata antara pria dan wanita toh? Coba cek, beri wanita majalah porno yang isinya dominan pria. Mereka tidak akan suka. Itu karena wanita bukan mahluk visual (lebih memperhatikan gambar). (Alexander dan Charles, 2009)

    1. Tidak bermoral!

    Counter : tergantung

    Kita lihat kalau kedua belah pihak kurang lebih sama kuatnya dalam mengajukan pendapatnya. Sekarang kita lakukan studi literatur intensif untuk memeriksa, mana yang lebih didukung fakta ilmiah dan mana yang semata hanya pembenaran saja.

    Fakta ilmiah

    1. Cundiff (2004) meneliti hubungan antara prostitusi dan tingkat pemerkosaan di negara anggota OECD (Austria, belgia, ceko, denmark, perancis, jerman, yunani, irlandia, jepang, korea selatan, belanda, norwegia, polandia, slowakia, spanyol, swedia, swiss, turki, Inggris dan Amerika Serikat). Ia menemukan hubungan negatif. Bila sebuah negara yang sebelumnya melarang prostitusi lalu membolehkannya, maka tingkat pemerkosaan di negara tersebut akan turun 25%. Kesimpulan : Pro
    2. Layden (2007) menemukan bahwa semakin sering wanita terpapar pornografi, semakin mungkin ia menjadi korban pelecehan seksual. Sebaliknya, semakin dini (bukan semakin sering) seorang laki-laki mengenal pornografi, semakin mungkin ia menjadi pelaku pelecehan seksual. Kesimpulan : Kontra
    3. Marshall (1988) menemukan kalau 53 persen pelaku pelecehan seksual terhadap anak terangsang untuk melakukannya karena pornografi. Walau begitu, studi ini dapat bias akibat pengkambing hitaman pelaku untuk menutupi keinginannya yang justru muncul sebelum melihat pornografi. Artinya, pornografi hanya usaha melarikan dirinya dari tanggung jawab. Kesimpulan : Kontra
    4. Zillman (1989) menemukan pornografi berkepanjangan berdampak pada keinginan untuk melakukan perbuatan tersebut. kesimpulan : Kontra
    5. Hughes (1998) menyimpulkan bahwa pornografi bersifat addiktif. Kesimpulan : Kontra
    6. Lajeunesse (2009) menemukan bahwa pornografi tidak mengubah persepsi orang yang melihatnya kepada wanita secara umum, begitu juga pada hubungannya dengan pasangan. Walau begitu, penelitian ini menggunakan sampel yang kecil, hanya 20 orang yang dipilih sangat hati-hati untuk mewakili seluruh populasi. Selain itu, Lajeunesse pada awalnya merencanakan sampel yang melibatkan pria yang tidak pernah melihat pornografi. Ia tidak menemukan satupun dalam populasi. Menurutnya, semua pria menyaksikan pornografi. Kesimpulan : Pro
    7. Worling dan Curwin (2000), Schram et al (1991) dan ATSA (2000) menemukan bahwa remaja yang melakukan pelecehan seksual belum berarti pasti menjadi pelaku pelecehan seksual pula di saat dewasa. Hanya 5 -14% saja yang melakukan pelecehan seksual saat dewasa. Kesimpulan : Pro Pornografi dewasa, Kontra Pornografi remaja.
    8. Court (1984) melakukan studi perbandingan tingkat pemerkosaan di AS, Skandinavia, Inggris, Australia dan Selandia Baru. Beliau menemukan hubungan positif antara ketersediaan pornografi dan tingkat pemerkosaan. Kesimpulan : Kontra
    9. Milne- Home (1991) dan USAGCP (1986) melihat pada tingkat penjualan majalah porno di tiap negara bagian AS. Penjualan delapan majalah porno terbesar di Alaska dan Nevada lima kali lebih tinggi dibanding negara bagian lainnya. Dan di saat yang sama, tingkat pemerkosaan di Alaska dan Nevada rata-rata enam kali lebih tinggi daripada di negara bagian lainnya. Korelasi yang kuat ini bahkan di dukung oleh variabel kontrol seperti daerah, iklim, kesediaan melapor dan perilaku polisi. Kesimpulan : Kontra
    10. Malamuth (1984) menemukan kalau konsumsi dibawah lima jam dalam enam minggu dapat memunculkan fantasi yang berhubungan dengan perkosaan. Kesimpulan : Pro
    11. Malamuth (1986) lebih lanjut justru menemukan kalau pornografi berpengaruh pada tingkat kekasaran pada wanita, dan lebih lanjut menemukan korelasi tidak langsung antara pornografi dan kekerasan seksual, lewat tingkat kekasaran ini. kesimpulan : Kontra
    12. Dinas Penelitian dan Statistik Kriminalitas New South Wales (1991) dan Satuan Statistik Kepolisian New South Wales (1988-1989) menemukan bahwa saat pornografi diperbolehkan di New South Wales pada tahun 1975 – 1991, terdapat peningkatan taraf perkosaan sebesar 90.6%. kesimpulan : Kontra
    13. Pope (1987) menemukan bahwa 41 % dari 38 ribu kasus pelecehan seksual yang dilakukan dalam 20 tahun terakhir dilakukan setelah atau saat terpapar pornografi. Kesimpulan : Kontra
    14. Tahun 1985, toko pornografi di Oklahoma County di tutup dan terjadi penurunan 25% kasus perkosaan dalam lima tahun kemudian. Walau demikian, pada Tahun 1990 pornografi kembali di perbolehkan namun tidak ada peningkatan kasus perkosaan (Macy, 1991). Kesimpulan : Kontra, dengan batasan
    15. Tahun 1974, pornografi dibatasi di Hawaii dan terjadi penurunan kasus perkosaan selama dua tahun. Tahun 1976 larangan ini dicabut dan kasus perkosaan meningkat (FBI, 1973 – 78). Kesimpulan : Kontra
    16. Weaver (1987) menemukan bahwa paparan terhadap tema pornografi berakibat pada hilangnya penghargaan pada harga diri dan kemandirian wanita. Kesimpulan : Kontra
    17. Sanday (1981) dan Banderly (1982) meneliti 156 suku dalam riset antropologi. Mereka menemukan bahwa masyarakat yang mendidik anak mereka (baik laki-laki ataupun perempuan) untuk berpikir sendiri mengenai dirinya dan orang lain membuat masyarakat tersebut secara keseluruhan bebas terhadap perkosaan, sementara masyarakat yang tidak mendidik anaknya demikian menjadi masyarakat yang cenderung mengalami tingkat perkosaan yang tinggi. Dengan kata lain, bukan pornografi yang mempengaruhi, tapi pendidikan anak usia dini. Kesimpulan : Pro
    18. Studi literatur Goldsmith (2003) menyimpulkan bahwa penyebab pelecehan seksual yang berasal dari pornografi adalah paparan yang menunjukkan kekerasan terhadap wanita. Untuk pornografi yang memaparkan perilaku seksual yang menunjukkan kesetaraan gender, maka ia aman di konsumsi. Kesimpulan : Pro
    19. Seto dan Lalumiere (2010) menemukan kalau remaja yang melakukan pelecehan seksual umumnya cenderung memiliki kelainan psikologis, pelecehan seksual di masa kecil, kekerasan keluarga dan paparan pornografi di usia dini. Kesimpulan : Kontra
    20. Zhao (2009) menemukan bahwa perilaku yang ditunjukkan di dunia internet cenderung berbeda dengan perilaku yang ditunjukkan seseorang di dunia nyata. Hal ini berarti juga pada perilaku seksual. Kesimpulan : Pro
    21. Malamuth et al (2000) melakukan studi pemeriksaan terhadap penelitian sebelumnya yang mengambil posisi pro pornografi. Mereka menemukan bahwa sebagian besar studi yang pro pornografi sesungguhnya kontra pornografi. Kesimpulan : Kontra
    22. Studi Bergen (2000) pada 100 korban percobaan perkosaan yang mengenal pemerkosanya melaporkan kalau 28% pemerkosa mereka pecandu pornografi dan 12% mencoba menerapkan apa yang ia lihat pada diri korban. Kesimpulan : Kontra
    23. Reid (2001) menyimpulkan adanya pengaruh antara pornografi dan pelecehan seksual. Kesimpulan : Kontra
    24. Bergen (1998) dan Jensen (1998) meneliti wanita yang telah menikah namun melapor kalau ia mengalami kekerasan seksual oleh suaminya sendiri. Kekerasan seksual yang dimaksud di sini tentu saja pemaksaan melakukan tindakan seksual yang tidak diinginkan oleh sang istri. Beberapa kasus menunjukkan kalau suami memaksa istri mereka melakukan perbuatan yang ditunjukkan didalam majalah porno. Kesimpulan : Kontra
    25. Dalam studi terhadap berbagai kasus perkosaan di AS, Peters (2004) menemukan bahwa pornografi justru bermanfaat bagi orang yang memiliki kelainan sadisme seksual. Sejauh tersedia pornografi, penderita sadisme seksual dapat menyalurkannya disini. Walau begitu, ini hanya berlaku bila tidak ada paparan luar atau rangsangan dari orang lain untuk melakukan perbuatan sadisme secara seksual. Dapat dibayangkan sebagai berikut. Seorang penderita sadisme seksual akan mencari korbannya bila ia tidak memiliki pornografi. Jika ia memiliki pornografi, ia tidak akan mencari korbannya. Tapi bila korban datang sendiri tanpa dicari, maka perbuatan sadisme tetap akan dilakukannya. Walau demikian, jumlah penderita kelainan sadisme seksual asali kecil. Secara total justru seseorang dapat menjadi sadisme seksual akibat pornografi. Kesimpulan : Kontra
    26. Oddone- Paulucci et al (2000) menemukan hubungan adanya hubungan nyata antara pornografi dan kekerasan seksual. Kesimpulan : Kontra
    27. Departemen Kehakiman AS (2004) menemukan bahwa terdapat penurunan tingkat perkosaan secara totalitas di AS sebesar 85% dari tahun 1973 – 2003. Kesimpulan : Pro
    28. D’Amato (2006) menemukan bahwa negara bagian yang memiliki akses internet paling sedikit mengalami peningkatan taraf perkosaan, sementara negara bagian dengan akses internet terbesar mengalami penurunan. Secara kuantitatif dengan taraf signifikansi 95%, tiga negara bagian paling minim internet mengalami peningkatan kasus perkosaan sebesar 53%, sementara tiga negara bagian dengan akses internet terbesar mengalami penurunan kasus perkosaan sebesar 27%. Kesimpulan : Pro
    29. D’amato (1990) menemukan adanya rekayasa dalam studi nasional yang dilakukan pemerintah AS yang memberikan hasil bahwa pornografi berpengaruh terhadap peningkatan perkosaan. Hal ini berangkat dari kecurigaan adanya perbedaan drastis antara hasil penelitian resmi pemerintahan Nixon yang tidak menemukan hubungan nyata antara pornografi dan peningkatan perkosaan, dengan hasil penelitian resmi pemerintahan setelahnya, yaitu pemerintahan Reagan, yang menunjukkan hasil sebaliknya. Kesimpulan : Pro
    30. Diamond dan Uchiyama (1999) menemukan bahwa peningkatan dramatis dalam pornografi di Jepang menghasilkan penurunan drastis kasus pelecehan dan kekerasan seksual. Kesimpulan : Pro
    31. Kutchinsky (1973) dalam studinya di Denmark, menemukan bahwa pornografi menjadi sebuah penyaluran hasrat seksual, seperti halnya masturbasi, oleh pembaca. Jika tidak ada pornografi, besar kemungkinan kalau orang tersebut akan memilih masturbasi atau bahkan melakukan pelecehan seksual. Kesimpulan : Pro
    32. Kutchinsky (1985) memasukkan Swedia selain Denmark dalam studi lanjutannya. Hasilnya ada peningkatan kecil yang tidak signifikan dalam kasus pelecehan seksual. Menurutnya, ini bukan karena peningkatan pornografi, tapi karena adanya kesadaran wanita dan polisi terhadap pelaporan tindak pelecehan seksual. Kesimpulan : Pro
    33. Kutchinsky (1991) memperluas studinya dengan melibatkan bukan hanya Denmark, tapi juga di Jerman Barat dan Swedia. Hasil yang diperoleh sama. Di Denmark terdapat peningkatan namun tidak signifikan. Di Jerman Barat bahkan tidak ada peningkatan kasus pelecehan seksual sama sekali. Justru terdapat hubungan negatif antara pornografi dan pelecehan seksual. Kesimpulan : Pro
    34. Penelitian lebih lanjut oleh Kutchinsky (1994) menemukan bahwa penemuan pada point di atas berlaku bukan hanya di Denmark, tapi di seluruh Eropa yang membolehkan pornografi. Kesimpulan : Pro
    35. Howitt dan Cumberbatch (1990) tidak menemukan adanya hubungan apapun antara pornografi dan pelecehan seksual. Justru dampak negatif pornografi yang mereka temukan adalah berkurangnya rasa percaya diri laki-laki atas kejantanannya saat melakukan hubungan seksual normal. Kesimpulan : Pro
    36. Brannigan. 1997 dan Fisher & Barak, 1991 menunjukkan kalau perilaku pelecehan seksual bukan semata karena pornografi, tapi ada begitu banyak variabel sehingga pengaruh pornografi sangat kecil, jika ada. Kesimpulan : Pro
    37. Court (1977) tidak menemukan adanya hubungan nyata antara tingkat kejahatan dan pornografi. Kesimpulan : Pro
    38. Baron dan Strauss (1987) melakukan penelitian berskala besar di AS dan tidak menemukan hubungan nyata antara pornografi dan perilaku pelecehan seksual. Kesimpulan : Pro
    39. Uchiyama (1996) menemukan bukan hanya pornografi yang mengurangi tingkat kejahatan seksual di Jepang, tapi juga budaya hidup berpasangan bersama tanpa pernikahan (seks di luar nikah) juga membantu mengurangi kejahatan seksual di masyarakat. Kesimpulan : Pro
    40. Ellis (1989) bahkan menemukan bahwa pengekangan hasrat seksual pada masa remaja, seperti larangan masturbasi dan mengetahui tentang seks, dapat membuat seseorang melakukan kekerasan seksual di masa datang. Kesimpulan : Pro
    41. Baron dan Straus (1984) serta Scott dan Schwalm (1988b) menemukan bahwa tingkat sirkulasi majalah porno berkorelasi secara positif dengan tingkat perkosaan. Kesimpulan : Kontra
    42. Linz et al (1988) melakukan percobaan dengan memaparkan dua jenis film ke mahasiswa laki-laki: film kekerasan non seksual dan film seksual non kekerasan. Ditemukan bahwa partisipan yang terpaparkan film kekerasan non seksual cenderung kurang simpati terhadap korban pemerkosaan, ketimbang partisipan yang terpaparkan film seksual non kekerasan. Dengan kata lain, Linz et al menemukan kalau adegan kekerasan non seksual pada wanita lebih berpengaruh negatif daripada pornografi. Kesimpulan : Pro
    43. Scott dan Schwalm (1988a) tidak menemukan hubungan signifikan antara jumlah bioskop porno dengan tingkat perkosaan di 41 daerah di AS (baik satu negara per daerah, maupun dua negara satu daerah). Kesimpulan : Pro
    44. Davies (1997) menemukan bahwa pornografi tidak bersalah dalam kekerasan seksual, tapi sebaliknya, ada faktor lain di baliknya, sebelum seseorang tertarik dengan pornografi lalu berbuat kekerasan seksual. Faktor ini menurut Davies adalah faktor psikologi dan sosial, terutama hirarki gender dalam masyarakat. Karenanya, dalam masyarakat dimana tidak ada kesetaraan gender, maka pornografi dapat membawa pada kekerasan seksual, sebaliknya dalam masyarakat dimana kesetaraan gender telah terjaga, pornografi tidak akan berpengaruh apa-apa. Kesimpulan : Pro

    Pembahasan

    Sekarang kita bisa membahas satu demi satu fakta di atas dengan lebih teliti. Tapi hal ini saya serahkan kepada pembaca, terutama kalangan akademisi untuk mengkajinya. Hasil penelitian yang telah disebutkan di atas memang hanya terbatas pada negara di Australia, Amerika Utara, Eropa dan Asia Timur. Tapi bukannya sengaja, karena laporan penelitian dari daerah lain, seperti Afrika, Asia Tenggara, Timur Tengah dan Amerika Latin tidak kami temukan. Itulah batasan tinjauan literatur di atas.

    Posisi FaktaIlmiah.Com

    Dari kajian literatur di atas, dari 44 butir hasil penelitian,

    Pro = 24

    Kontra = 20

    Karenanya, berdasarkan berat fakta yang ada, kami menyatakan tidak setuju dengan keputusan Pemblokiran Situs Porno di Internet oleh Depkominfo.

    Referensi

  • Alexander, G. M., dan Charles, N. 2008. Sex Differences in Adults’ Relative Visual Interest in Female and Male Faces, Toys, and Play Styles. Archives of Sexual Behavior. Vol. 38, No. 3/ June, 2009, pp. 434-441
  • Association for the Treatment of Sexual Abusers (ATSA). (2000, March 11). The effective legal management of juvenile sex offendesr. http://www.atsa.com/ppjuvenile.html
  • Baron, L., dan Straus, M. 1984. Sexual stratification. dalam N. M. Malamuth & E. Donnerstein (Eds.), Pornography, sexual aggression (pp. 185-209). New York: Academic Press.
  • Baron, L., dan Strauss, M. 1987. Four Theories of Rape in American Society: A State-Level Analysis. New Haven: Yale University Press.
  • Benderly, B.L. 1982, Rape free or rape prone, Science 82, vol. 3, no. 8.
  • Bergen, R.K., 1998. The reality of wife rape: Women’s experience of sexual violence in marriage. dalam R.K. Bergen (Ed.), Issues in intimate violence, (pp. 237-250). Thousand Oaks, CA: Sage
  • Bergen, R K, 2000. Violence and Victims. 2000 Vol 15 (3): 227-234)
  • Brannigan, A. 1987. Sex and aggression in the Lab: Implications for Public Policy? A Review Essay. Canadian Journal of Law and Society, 2, 177-185.
  • Communicaid, 2009. Doing Business in Indonesia.
  • Court, J. H. 1977. Pornography and sex crimes: A reevaluation in light of recent trends around the world. International Journal of Criminology and Penology, 5, 129-157.
  • Court, J. 1984, Arguments for an association between rape and porno-violence, dalam Pornography and Sexual Aggression, eds N.M. Malamuth & E. Donnerstein, Academic Press, Orlando Fla.
  • Cundiff, K. L. 2004. Prostitution and Sex Crimes. Independent Institute Working Paper Number 50April 8, 2004
  • D’amato, A.1990. A New Political Truth: Exposure to Sexually Violent Materials Causes Sexual Violence, 31 Wm. & Mary L. Rev. 575 (1990),
  • D’amato, A. 2006. Porn Up, Rape Down. Northwestern University School Of Law
  • Davies, K. A. 1997. Voluntary exposure to pornography and men’s attitudes toward feminism and Rape. Journal of Sex Research, Vol. 34, 1997
  • Departemen Kehakiman A. S. (Department of Justice • Office of Justice Programs, Bureau of Justice Statistics, National Crime Victimization Survey) 2004. The National Crime Victimization Survey .
  • Diamond, M. dan Uchiyama, A. 1998. Pornography, Rape and Sex Crimes in Japan. International Journal of Law and Psychiatry 22(1): 1-22. 1999
  • Ellis, L. 1989. Theories of Rape: Inquires into the causes of sexual aggression. New York: Hemisphere Publishing.
  • FBI 1973-78, Uniform Crime Reports, 1973-1978, FBI, Washington DC
  • Fisher, W. A., dan Barak, A. 1991. Pornography, Erotica, and Behavior: More questions than answers. International Journal of Law and Psychiatry, 14, 65-83.
  • Goldsmith, M. 2003. Sexual Offenders And Pornography: A Causal Connection? Legislative Council Standing Committee on Social Issues Parliament of New South Wales
  • Hawking, S. 1998. A Brief History of Time: From the Big Bang to Black Holes
  • Howitt, D., dan Cumberbatch, G. 1990. Pornography: Impacts and Influences. A review of available research evidence on the effects of pornography. London: Commissioned by the British Home Office Research and Planning Unit.
  • Hughes, D. R. 1998. Kids Online: Protecting Your Children In Cyberspace. Revell, September 1998
  • Jensen, 1998. Using pornography. dalam G. Dines, R. Jensen, A. Russo (Eds.), Pornography (pp. 101-146). NY: Routledge
  • Kilpatrick, J dalam Donnerstein, Edward; Linz, Daniel: Penrod, Steven; 1987: The Question of Pornography: Research Findings and Policy Implications. New York: Free Press.
  • Kutchinsky, B. 1973. The effect of easy availability of pornography on the incidence of sex crimes: The Danish experience. Journal of Social Issues, 29, 163-181.
  • Kutchinsky, B. 1985. Pornography and its effects in Denmark and the United States: A rejoinder and beyond. Comparative Social Research, 8, 301-330.
  • Kutchinsky, B. 1991. Pornography and Rape: Theory and Practice? Evidence from Crime Data in Four Countries Where Pornography is Easily Available. International Journal of Law and Psychiatry, 14, 47-64.
  • Kutchinsky, B. 1994. Pornography: Impacts and Influences (Critique of a Review of Research Evidence).
  • Lajeunesse, S. L. 2009. Are the effects of pornography negligible? University of Montreal.
  • Layden, M. A. 2004. Pornography and Violence: A New Look at Research Department of Psychiatry, University of Pennsylvania
  • Linz, D., Donnerstein, E., Penrod, S. 1988. Effects of long term exposure to violent and sexually degrading. Journal of Personality and Social Psychology, 55, 758-768.
  • Macy, R. 1991, Testimony as Oklahoma Country District Attorney, didepan US Senate Judiciary Committee.
  • Malamuth, N. 1984, Aggression against women: cultural and individual causes dalam Pornography and Sexual Aggression, eds N.M. Malamuth & E. Donnerstein, Academic Press, Orlando Fla.
  • ———– 1986, Providers of naturalistic sexual aggression, Journal of Personality and Social Psychology, vol. 50, pp. 953-62.
  • Malamuth, N. M; Addison, T; Koss, M; 2000. Pornography and sexual aggression: Are there reliable effects and can we understand them? Annual Review of Sex Research, 2000: Vol. 11: 26-91
  • Marshall, M.L. 1988. The Use of Sexually Explicit Stimuli by Rapists, Child Molesters, and Nonoffenders, The Journal of Sex Research 25, no.2 (May 1988): 267-88.
  • Milne-Home, J. 1991, Pornography and Women’s Anger: Signifying Out-Rage, Paper presented to the Second Australian Cultural Studies Association Conference, 2?4 December 1991, University of Southern Queensland, Toowoomba.
  • New South Wales. Bureau of Crime Statistics and Research 1991, New South Wales Recorded Crime Statistics 1991, New South Wales Bureau of Crime Statistics and Research, Sydney.
  • ———– Police Statistics Unit, New South Wales Crime Statistics 1988/89, New South Wales Police, Sydney.
  • Oddone- Paolucci, E., Genuis, M., Violato, C. 2000. A Meta-Analysis of the Published Research on the Effects of Pornography, Medicine, Mind and Adolescence, 2000, Vol. XII, 1-2, pp. 101-112.
  • PBB. 2001. Seventh United Nations Survey of Crime Trends and Operations of Criminal Justice Systems, covering the period 1998 – 2000 (United Nations Office on Drugs and Crime, Centre for International Crime Prevention)
  • Peters, R. 2004. The Link Between Pornography And Violent Sex Crimes. Morality in Media, March 24, 2004
  • Pope, D.H. 1987, Testimony given by Det. Lt. Darrell H. Pope, Commanding Officer (Retired), Sex Crime Unit, Michigan State Police, to the Select Committee on Children, Youth and Families, Washington DC, September.
  • Reid, R. 2001. Porn Use and Sex Crimes
  • Sanday, P.R. 1981, Female Power and Male Dominance: on the Origins of Sexual Inequality, Cambridge University Press, Cambridge NY
  • Schram, D. D., Milloy, C. D., Rowe, W. E. 1991. Juvenile sex offenders: A follow-up study of reoffense behavior. Olympia, WA: Washington State Institute for Public Policy.
  • Scott, J. E., dan Schwalm, L. A. 1988a. Pornography and rape: An examination of adult theater rates and rape rates by state. dalam J. E. Scott & T. Hirschi (Eds.), Controversial issues in crime and justice (pp. 40-53). Beverly Hills: Sage.
  • Scott, J. E., & Schwalm, L. A. 1988b. Rape rates and the circulation rates of adult magazines. The Journal of Sex Research, 24, 241-250.
  • Seto, M.C. dan Lalumiere, M.L. 2010. What is so special about male adolescent sexual offending? A review and test of explanations through meta-analysis. Psychological Bulletin, 2010; 136 (4): 526
  • Uchiyama, A. 1996. A study on the attitude of girls toward the commercialization of sex. Reports of the National Research Institute of Police Science. Research on Prevention of Crime and Delinquency, 37(2 / December), 1-13.
  • United States. Attorney-General’s Commission on Pornography 1986, Attorney-General’s Commission on Pornography: Final Report, US Department of Justice, Washington DC.
  • Weaver, J.B. 1987, Effects of Portrayals of Female Sexuality and Violence against Women on Perceptions of Women, PhD Thesis, Mass Communications, Indiana University.
  • Worling, J. R., dan Curwin, T. 2000. Adolescent sexual offender recidivism: Success of specialized treatment and implication for risk prediction. Child Abuse and Neglect, 24, 965-982.
  • Zhao, S. 2004. The Digital Self: Through the Looking Glass of Telecopresent Others. Paper presented at the annual meeting of the American Sociological Association, Hilton San Francisco & Renaissance Parc 55 Hotel, San Francisco, CA,, Aug 14, 2004
  • Zillmann, D. 1989. Effects of Prolonged Consumption of Pornography, dalam Pornography: Research Advances and Policy Considerations, eds. D. Zillman dan J. Bryant. N.J.: Erlbaum,
  • The X
    Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
    Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

    Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


    Aktifitas

    © 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
    Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.