Diposting Sabtu, 24 Juli 2010 jam 5:48 pm oleh The X

19 Mitologi Penciptaan Alam Semesta dengan Melibatkan Ikan dan Katak

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 24 Juli 2010 -


Sebelum adanya sains, setiap keyakinan yang tumbuh di berbagai suku bangsa mengembangkan sendiri kisah penciptaan alam semestanya. Beberapa memberikan kisah yang sangat mengesankan dan mengalahkan cerita penciptaan Adam dan Hawa yang telah tersebar luas dari kebudayaan Timur Tengah. Ada begitu banyak kisah bisa kami ceritakan disini. Literatur Antropologi yang berdebu dan usang di Perpustakaan sangat membantu dalam hal ini. sekarang, kita akan berfokus pada topik fakta ilmiah kita minggu ini, yaitu ikan dan amfibi.
Sebagai salah satu jenis hewan yang umum di temukan masyarakat, katak dan ikan bahkan menjadi bagian dari beberapa cerita penciptaan alam semesta dari beberapa kepercayaan. Berikut tim faktailmiah mengkompilasi beberapa mitologi yang memuat ikan dan katak dalam mitologi penciptaan mereka.
1. Kei
Penduduk Asli Kei, sebuah kepulauan di Maluku Tenggara percaya kalau ada seekor ikan yang sangat bijaksana di masa lalu. Ikan ini tinggal di sebuah lautan di dunia atas. Sang ikan memberikan petuah bagi Parpara, seorang anak laki-laki yang kehilangan mata pancingnya yang dipinjam dari saudaranya, Hian. Pada awalnya, ia dan Parpara mencari mata kail itu. Lalu sang ikan bertemu ikan lain yang kesakitan karena sesuatu menyangkut ditenggorokannya. Benda itu adalah mata pancing yang hilang. Kemudian mata pancing itu dibawa si ikan ke parpara dan parpara mengembalikannya ke hian. Parpara ingin membalas hian, maka ia secara rahasia menyimpan wadah bambu penuh air kelapa di bawah ranjang Hian sedemikian hingga saat ia bangun, air itu akan tumpah. Parpara menuntut agar air itu dikumpulkan. Hian dengan susah payah berusaha mengumpulkannya, dan menggali ke dalam tanah yang akhirnya tiba di dasar dunia langit. Para bersaudara heran dan turun. Waktu saudari erempuan terakhir turun, salah seorang saudara laki-laki mengintip, sang saudari malu dan menarik tali sehingga 3 saudara laki-laki dan satu saudari perempuan tertinggal di bumi. Mereka jadi nenek moyang manusia.
2. Dayak Kenyah
Menurut mitologi Dayak Kenyah, ikan merupakan hasil perkawinan antara Pisang Rura dan Burung Iri. Manusia sendiri merupakan ciptaan dari Pisang Bangkit. Darah manusia berasal dari getah pohon kumpang berwarna merah. Tuhan tertinggi bernama Raja Petara. Ia dan istrinya lah yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya, diantaranya Pisang Rura, Burung Iri, Pisang Bangkit dan Pohon Kumpang.
3. Dayak Kayan
Dalam tradisi Kayan, ikan dan hewan liar lainnya tercipta dari ranting dan daun pohon ajaib. Pohon ajaib ini sendiri berasal dari sebuah pedang bergagang kayu yang jatuh dari matahari. Selama bertahun-tahun, pedang ini menumbuhkan akar dan akhirnya menjadi pohon. Dari bulan juga jatuh tanaman merambat yang kemudian naik ke pohon tersebut. Dari perkawinan tanaman merambat dan pohon ajaib ini, lahirlah manusia pertama yang merupakan anak laki-laki dan anak perempuan.
4. Mandaya
Mandaya adalah salah satu suku yang hidup di pulau Mindanao, Filipina. Menurut mitologi Mandaya, ikan tercipta dari salah satu potongan tubuh anak-anak dari bulan dan matahari. Potongan tubuh ini jatuh ke air dan menjadi ikan, sementara yang jatuh ke darat, menjadi ular dan hewan lainnya. Potongan tubuh yang tidak terjatuh, tetap di langit, dan menjadi bintang. Anak-anak bulan dan matahari sendiri mati karena ditinggal oleh kedua orang tuanya yang bercerai.
5. Jicarilla
Jicarilla adalah salah satu suku Indian Apache di Amerika serikat. Pada awalnya bumi tertutup air, dan semua mahluk hidup di dunia bawah. Lalu manusia dapat berbicara, hewan dapat berbicara, pohon dapat berbicara dan batu dapat berbicara.
Saat orang-orang akan datang dari bawah bumi, mereka mengikat matahari dan bulan dengan jaring laba-laba, sehingga mereka tidak dapat lari, dan mengirim mereka ke langit untuk memberi cahaya. Namun air menutupi seluruh bumi, maka empat angin bertiup mengusir air. Angin hitam bertiup ke timur dan mengusir air ke samudera timur. Angin biru bertiup ke selatan dan mengusir air ke arah itu. Angin kuning mengusir air ke timur dan angin beragam warna pergi ke utara dan mengusir air disana. Maka terciptalah empat samudera – di timur, selatan, barat dan utara. Setelah mengusir air, angin kembali ke mulut lubang, tempat orang-orang menunggu.
Pertama kucing kutub keluar, namun tanah masih lembut, dan kakinya tenggelam dalam lumpur hitam sehingga menjadi hitam hingga kini. Mereka mengirim tornado untuk membawanya pulang, namun belum waktunya. Tupai keluar, tapi ia juga tenggelam kakinya, hingga menjadi hitam, maka tornado memanggilnya kembali. Berang-berang ingin keluar, merayap di lumpur dan berenang di air. Ia mulai membangun bendungan untuk menyelamatkan air yang masih tersisa di kolam-kolam, dan ia tidak kembali. Tornado lalu dikirim dan melihatnya sedang bekerja dan ia bertanya kenapa ia tidak pulang. “Karena saya ingin menyelamatkan air buat orang minum,” kata berang-berang. “Bagus,” kata tornado, dan mereka pulang bersama. Mereka menunggu lagi, dan mengirim gagak untuk melihat apakah sudah waktunya. Gagak melihat kalau bumi telah kering, dan banyak katak, ikan dan reptil mati di daratan. Ia mulai mengambil mata mereka, dan tidak kembali hingga tornado dikirim padanya. Orang-orang marah saat mereka melihat ia memakan bangkai, dan mereka mengubah warnanya menjadi hitam, yang sebelumnya abu-abu.
Bumi kini kering, dan empat samudera mengelilinginya dan danau di tengah, dimana berang-berang membuat bendungan. Semua orang datang. Mereka ke timur hingga mereka tiba di samudera; lalu mereka ke barat hingga bertemu samudera, dan mereka ke utara dan mereka juga bertemu samudera. Namun suku Jicarilla terus mengelilingi tempat mereka keluar dari dunia bawah. Tiga kali mereka berkeliling, saat Sang Pengatur menjadi tidak senang, dan meminta mereka berhenti. Mereka berkata, “Di tengah-tengah bumi;” maka ia membawa mereka ke tempat yang sangat dekat dengan Taos dan meninggalkan mereka di sana, dan kemudian Indian Taos tinggal didekat mereka…
Sementara Jicarilla bergerak tak sengaja seorang gadis tertinggal di tempat mereka keluar dari dunia bawah. Nama gadis ini Yo’lkai’- îstû’n, ‘wanita manik putih’. Matahari bersinar diatasnya saat ia duduk dan ia melahirkan anak laki-laki, dan bulan bersinar di atasnya saat ia tidur dan ia melahirkan anak laki-laki lain. Anak pertama lebih kuat dari anak kedua, karena matahari lebih kuat dari bulan. Saat anak-anak itu cukup besar untuk berjalan, matahari menyuruh sang ibu mencari rakyatnya, dan iapun pergi mencari bersama anak-anaknya. Mereka tinggal di dekat Taos… .
Segera setelah matahari mengirim pesan ke wanita itu ia mengirim anaknya padanya. Anak bulan tetap dirumah dengan ibunya, namun anak matahari pergi dan bertemu ayahnya di rumah. Ayahnya menerimanya dengan baik dan memberinya panah dan busur dan pakaian turquoise, dengan kalung turquoise dan pelindung siku dan gelang turquoise. Lalu matahari berkata padanya, “Sekarang engkau akan dipanggil Nayé- nayesxû’ni, ‘Sang pemusnah bahaya”, karena aku akan mengirimmu menghancurkan banyak bahaya yang mengganggu manusia.”
Ayahnya menyuruhnya pergi melawan katak raksasa yang tinggal di air danau Taos, dan menyedot siapapun yang mendekat. Nafasnya seperti petir di waktu malam, dan ia menyedot begitu banyak orang sehingga indian taos sangat sedikit yang tersisa.
…Ayahnya memberi juga roda dari batu hitam, roda biru, roda batu kuning dan roda kayu aneka warna. Ia memberinya tongkat api hitam, biru, kuning dan aneka warna.
Saat anak itu pulang ke Taos… [ia] turun ke danau dan berdiri di pantai timur saat fajar. Kepala katak muncul dari danau dan ingin menyedotnya, namun sang anak tidak dapat digerakkan, dan katak itu menyelam lagi. Lalu sang anak melempar roda batu hitam ke tengah danau, dan air surut sedikit. Ia ke pantai selatan dan melempar roda biru, dan air tambah surut. Ia berdiri di pantai barat dan melemparkan roda kuning, air menjadi dangkal dan berlumpur. Lalu ia ke utara dan melemparkan roda aneka warna, dan air menjadi kering, dan ia melihat rumah katak di tengah danau seperti rumah pueblo, dengan empat pintu di tiap sisi dan sebaris batu pijakan dari tiap pintu ke ujung danau.
Ia pergi ke sisi timur danau, dimana ia berdiri di terik matahari, menyilangkan batu lompatan pintu pertama. Di tiap sisi pintu berdiri penjaga dari indian pueblo yang telah disedot oleh sang katak. Mereka diletakkan disana untuk memperingatkan katak kalau ada musuh mendekat; namun sang anak cukup berbicara dengan mereka dan mereka tidak dapat bergerak. Di pintu selatan, ia melihat dua beruang menjaga. Di pintu barat dua ular besar dan di pintu utara dua panther. Bergiliran ia berbicara dengan mereka dan mereka membeku dan ia dapat masuk. Lalu ia masuk ke dalam rumah, dan bertemu dengan katak besar duduk di tengah dengan empat pintu ke arahnya. Ia menanyakan kemana orang-orang yang telah ia sedot dari danau, namun sang katak bilang ia tidak tahu apa-apa. Sang anak tahu ia berbohong, maka ia mengambil empat tongkat apinya dan memutarinya dengan cepat hingga ruangan itu penuh dengan asap tebal yang membuat sang katak tersedak, dan ia mati. Lalu ia meminta kedua penjaga pueblo untuk melepaskan teman-temannya, dan mereka membuka keempat pintu di sekitarnya, dan semua ruangan ini penuh dengan orang pueblo yang telah disedot oleh katak. Juga ada banyak katak kecil, anak katak besar; namun mereka terlalu kecil dan tidak berbahaya, maka sang anak membiarkan mereka hidup, namun menyuruh mereka agar tidak boleh membesar. Maka sampai sekarang katak tidak pernah membesar. Sang anak kembali ke Taos dengan semua orang yang telah ia bebaskan dari bawah air. Orang-orang pueblo sangat berterima kasih dan mengundang ia dan ibu dan saudaranya ke Taos untuk apapun kebutuhannya. Ia membawa mereka berkunjung sebentar, dan kembali ke ayahnya, sang matahari, untuk melihat apa tugasnya selanjutnya…
Ayahnya mengatakan masih ada bahaya-bahaya yang harus dimusnahkan sebelum orang dapat aman. Ini kisah yang panjang – seluruh kisah hidup Náyenayesxû’ni – dan ruang tidak cukup menceritakan detil petualangannya. Ia kemudian dikirim ayahnya untuk menghancurkan dua beruang raksasa yang tinggal di gunung barat Santa Clara yang merusak daerah sekitarnya. Panah indian hanya menyentuh kulitnya dan tidak menancap, dan sang ayah menunjukkan cara membunuhnya dengan memanah jantungnya, yang ada di telapak kaki depan kanannya. Beruang yang satunya lagi tewas karena petir yang dilemparkan oleh matahari sendiri. Mayat mereka dibakar dan dua anak beruang diperintahkan agar tidak tumbuh lebih besar lagi, dan hingga sekarang segitulah ukuran beruang.
Ada sebuah batu bernama Tsê’-nanlki’ñ, “batu yang berlari,” yang tinggal di Cieneguilla, timur Rio Grande dan barat daya Taos. Batu itu hidup dan memiliki kepala dan mulut untuk menghancurkan manusia dan memakannya. Dengan bantuan ayahnya, matahari, sang anak memanahnya dan membunuhnya. Batu itu masih ada disana, berbaring di dataran – batu hitam sebesar rumah, dengan wajah menghadap ke barat, dan dengan bintik ke utara dan di selatan dimana panah menembusnya, dan garis merah turun darinya dimana darah jatuh ke tanah.
Monster lain ia hancurkan, hingga akhirnya ayahnya mengatakan hanya tinggal satu yang tersisa. Ini adalah ikan terbang raksasa di sebuah danau di barat dan memakan jantung manusia. Ia terbang dan menembak mangsanya dari atas, menghancurkan tulang rusuknya untuk mendapatkan jantungnya. Matahari memberi pekerjaan terakhir ini pada anak bulan, yang selalu ada di rumah menjaga ibunya. Kedua bersaudara pergi bersama hingga mereka tiba di danau dan menunggu kemunculan ikan terbang. Saat ia muncul, anak bulan menyerang kepala ikan itu dengan petir yang diberikan matahari. Lalu saat ia kaku ia menembakkan empat panah ke jantungnya. Ia membelah badannya, mencabut jantungnya dan melemparkannya ke bulan, seperti kita lihat sekarang..
Saat pekerjaan mereka selesai dan dunia telah aman, mereka mengucapkan kata-kata terakhir mereka pada manusia dan pergi mengikuti matahari ke barat. 12 orang ikut bersamanya. Saat mereka bertualang, mereka datang ke 12 gunung, satu sama lain, dan di tiap gunung, kedua bersaudara ini meninggalkan satu orang untuk menunggu selamanya hingga mereka kembali. Mereka meneruskan perjalanan hingga tiba di samudera barat, dimana kini mereka tinggal di sebuah rumah turquoise di bawah air hijau.

Busana Adat Jicarilla Apache

6. Ainu
Ainu adalah penduduk asli Jepang yang tinggal di pulau Hokkaido. Orang Ainu dari Hokkaido memulai kosmologinya dengan enam langit dan enam neraka dimana tuhan, setan dan hewan tinggal. Setan tinggal di langit bawah. Di antara bintang dan awan tinggal tuhan-tuhan kecil. Di langit tertinggi tinggal tuhan maha pencipta, Kamui, dan pesuruhnya. Dunianya dikelilingi oleh dinding logam kokoh dan satu-satunya gerbang adalah lewat gerbang besi besar.
Kamui menciptakan dunia sebagai samudera yang luas di tulang belakang seekor ikan trout raksasa. Ikan ini mnyedot isi samudera dan menyemburkannya lagi untuk menciptakan pasang; saat ia bergerak terjadilah gempa bumi.
7. Fan
Fan adalah salah satu suku di Afrika. Menurut mitologi Fan Pada awalnya tidak ada apa-apa kecuali Nzame. Tuhan ini sesungguhnya tiga: Nzame, Mebere, dan Nkwa. Adalah bagian Nzame dari tuhan yang menciptakan alam semesta dan bumi, dan memberikan kehidupan padanya. Sementara tiga bagian Nzame menghargai ciptaan ini, diputuskan kalau akan diciptakan penguasa bumi. Jadi diciptakan gajah, leopard dan monyet, namun diputuskan lagi untuk menciptakan yang lebih baik. Diantara ketiga mereka membuat mahluk mereka dalam wujud diri mereka, dan menyebutnya Fam (kekuatan), dan menyuruhnya mengatur bumi. Belum lama, Fam menjadi sombong, ia menyalahgunakan hewan dan berhenti menyembah Nzame.
Nzame, marah, memberikan petir dan kilat dan menghancurkan segalanya, kecuali Fam, yang telah dijanjikan keabadian. Nzame, dalam tiga aspeknya, memutuskan memperbaharui bumi dan mencoba lagi. Ia menerapkan lapisan baru ke planet, dan pohon tumbuh diatasnya. Pohon itu menjatuhkan benih yang tumbuh menjadi lebih banyak pohon. Daun yang jatuh darinya ke air menjadi ikan, yang jatuh ke daratan menjadi hewan.
8. Mandinka
Mandinka adalah salah satu suku dari Mali, sebuah negara di Afrika Sahara. Kisah penciptaan tradisional dari suku mandinka dari selatan mali dimulai dengan Mngala, mahluk tunggal maha kuat yang berujud bulat dan penuh energi. Dalam Mangala terdapat empat bagian, yang merupakan simbol dari empat hari dalam seminggu (waktu), empat unsur (materi), dan empat arah (ruang). Mangala juga terdiri dari dua set kembar berkelamin ganda. Mangala letih menjaga semua ini dalam tubuhnya, jadi tuhan ini membuangnya dan menyatukannya dalam sebuah benih. Benih ini adlah ciptaannya dari dunia. Benih ini tidak bercampur baik dan meledak. Mangala kecewa dengan ini dan menghancurkan dunia yang ia ciptakan.
Mangala tidak putus asa; sang pencipta kembali mengulang, kali ini dengan dua set benih kembar. Mangala menanam benih dalam sebuah rahim berbentuk telur dimana ia dikandung. Mangala terus meletakkan lebih banyak benih kembar dalam rahim hingga lengkap 8 set benih. Dalam rahim, benih yang dikandung berubah menjadi ikan. Ikan dipandang sebagai simbol kesuburan di dunia Mende. Kali ini, ciptaan Mangala berhasil. Ini penting, karena ia mencerminkan gagasan kesetaraan gender, gagasan yang tertanam baik dalam kebudayaan Mande.
9. Massim
Massim adalah salah satu suku di Papua Nugini. Satu hari seorang wanita yang memandang tamannya yang di dekat laut, melihat seekor ikan besar di balik ombak, pergi ke air dan bermain dengan ikan itu, selama beberapa hari. Kaki wanita itu semakin hari semakin membengkak karena terus di putari oleh sang ikan. Akhirnya sang ayah mencongkel bengkak itu dan dari bengkak itu keluarlah bayi. Bayi ini diberi nama Dudugera, ia tumbuh bersama anak lain di desa, hingga satu hari, dalam sebuah permainan, ia melempar panahnya ke anak lain sehingga melukai anak itu dan ia dimusuhi anak lainnya. Takut anak lain akan menyakitinya, ibu Dudugera memutuskan untuk mengirimnya ke ayahnya; maka ia mengirim anaknya ke pantai, lalu sang ikan besar muncul dan menangkapnya dengan mulutnya, dan membawanya jauh ke timur. Sebelum ia pergi, Dudugera memperingatkan ibu dan keluarganya untuk mengungsi dibawah batu besar, karena ia akan memanjat pohon pandan dan sampai kelangit, dan ia menjadi matahari dan segera menghancurkan segalanya dengan panasnya. Maka semua itu terlaksana. Segalanya hancur kecuali ibu dan keluarga Dudugera. Untuk mencegah kepunahan mutlak ibunya mengambil sebuah jeruk, dan memanjat bukit di dekat tempat matahari naik, menyemprotkan cairan jeruk yang asam ke wajah matahari saat ia naik, yang menyebabkan matahari menutup matanya dan menurunkan panasnya.
10. Palau
Palau adalah salah satu pulau di tengah Samudera Pasifik. Penduduknya percaya kalau Langit dan bumi selalu ada dan tidak pernah diciptakan. Lalu dua tuhan menciptakan manusia pertama, tuhan laki-laki menciptakan laki-laki pertama dan tuhan perempuan menciptakan wanita pertama.
Obagat, tuhan yang maha bersahabat, melihat seorang wanita tua menderita sakit tenggorokan karena memakan ikan mentah dan keladi, karena kasihan, ia mengajarkan pada mereka bagaimana cara membuat api dengan menggosokkan dua tongkat.

Seorang Penduduk Palau (credit: DR. Nelson)

11. Raiatea
Raiatea juga merupakan salah satu kepulauan di tengah Samudera Pasifik. Dalam cerita penciptaan Raiatea, Seorang nelayan mata kailnya tersangkut di rambut Rua-haku, tuhan laut, yang sedang tertidur di dasar lautan. Sang nelayan menariknya karena mengira itu adalah ikan yang besar, sehingga tuhan laut marah. Sang nelayan memohon ampun, dan tuhan itu member maaf, namun meminta sebuah syarat. Dengan perintah Rua-haku, sang nelayan mengasingkan diri di sebuah pulau dengan seorang teman, babi, anjing dan beberapa pasang ayam, dan laut mulai naik, naik terus hingga seluruh bumi tenggelam, dan setelah semua manusia lenyap, airpun kembali ke permukaan asal.

12. Oceania
Oceania adalah kelompok kepulauan besar di Pasifik Selatan. Dalam mitologi orang Oceania, alam semesta selamanya selalu ada. Begitu juga kegelapan dan juga lautan. Menjelajah lautan tanpa ujung, sang laba-laba tua menemukan seekor kepah raksasa dan membukanya dan merayap kedalamnya. Sangat gelap, dan membingungkan namun ia menemukan seekor siput, yang ia minta membuka cangkang sedikit sehingga ia mendapat ruangan lebih luas.
Siput itu menurut. Lalu sang laba-laba tua mengambil siput itu dan meletakkannya di barat dan menjadikannya bulan, memberi sedikit cahaya pada kegelapan. Dengan bantuan siput lainnya, Sang laba-laba tua mendorong sangat kuat atap cangkang, mengangkatnya dan jadilah langit, yang disebut Rangi. Dengan usaha keras, sang laba-laba tua lalu mendorong bagian bawah cangkang kepah itu, dan ia melebar dan menjadi bumi. Bumi disebut Papa, atau ibunda bumi. Mitos penciptaan dasar ini diajarkan diseluruh oceania, dalam dua sudut pandang: satu, Tuhan (Po atau Io) menciptakan segalanya; yang lainnya, entitas mistik (Laba-laba tua) atau tuhan (Lukelong) menciptakan langit dan kemudian bumi.
Pada taraf apapun, langit, bumi, laut tercipta di awal, bersama dengan Papa bumi dan Rangi langit, di ruang yang sangat sempit. Ruang sempit ini diperluas baik oleh tuhan (Tangaroa, Tanaoa, dll) atau oleh Rangi dan Papa. Cahaya dibiarkan masuk, kepah itu melebar dan penciptaan berlanjut. Pertama, Papa dan Rangi membuat tanaman dan bunga, pohon dan rumput; lalu segala jenis hewan, dengan burung dan kupu-kupu di udara dan ikan di laut sekitar mereka.
13. Romawi
Sumber kosmologi Romawi yang memuat ikan terdapat dalam karya penyair Ovidus, yaitu Metamorphoses. Dalam syair ini dikatakan kisah berikut. Ketika dia, siapapun tuhan itu, mengatur dan memisahkan massa yang tidak beraturan, dan mengurangi, memisahkannya menjadi bagian-bagian kosmik, pertama kali ia membentuk bumi menjadi sebuah bola yang amat besar sehingga bentuknya akan sama dari setiap sisi. Dan, karena tiap wilayah tidak boleh tidak ada mahluk hidupnya, maka bintang-bintang dan bentuk-bentuk ilahiah mendiami tingkatan-tingkatan langit, lautan didiami ikan-ikan yang bercahaya, bumi mendapatkan penghuni binatang-binatang buas, dan burung mendiami udara yang mengalir. Kemudian lahirlah manusia: meskipun hewan-hewan lain kurang baik, dan selalu memandang ke tanah, ia memberi manusia wajah yang tengadah dan membuatnya berdiri tegak dan melihat ke langit.
14. Chippewa
Chippewa adalah salah satu suku indian di Amerika. Saat dukun Wis-kay-tchach berburu, serigala mudanya dibunuh oleh beberapa lynx air. Wis mencoba membunuh salah satu lynx untuk balas dendam. Pertama, ia merubah diri menjadi tunggul kayu di tepi danau. Katak dan ular mencoba menjatuhkan tunggul ini, tapi Wis menjaganya tetap tegak. Lynx, curiga, pergi tidur. Wis kembali ke bentuk asli dan ia lupa kalau harus memanah bayangan lynx, bukan tubuhnya. Kedua kalinya ia memanah bayangan lynx, namun lynx lari ke sungai, yang kemudian meluap dan membanjiri seluruh negeri. Wis kabur dengan kano.

Keluarga Chippewa (credit: STCCIW)

15. Huron
Huron juga merupakan salah satu suku Indian di Amerika. Pada awalnya hanya ada air dan hewan air hidup disana. Lalu seorang wanita jatuh dari lubang di langit. Ia adalah wanita ilahiah penuh kekuatan. Dua bangau terbang di atas air melihatnya jatuh. Mereka terbang dibawahnya, berdekatan, membuat bantal untuknya duduk. Bangau ini membawanya dan minta bantuan. Mereka dapat didengar dari jauh agar hewan lain datang membantu Penyu memanggil hewan lain untuk membantu menyelamatkan hidup wanita langit ini. Para hewan memutuskan wanita ini butuh bumi untuk hidup. Penyu berkata,”Menyelam ke air dan ambillah tanah.” Maka mereka melakukannya. Berang-berang turun. Tikus tanah turun. Yang lain terlalu lama menyelam dan mereka mati. Tiap kali, penyu melihat kedalam mulut-mulut mereka saat mereka naik, tapi tidak ada yang menemukn tanah. Katak menyelam. Ia terlalu lama dan hampir mati. Tapi saat penyu melihat kedalam mulut katak ini, ia menemukan tanah. Wanita itu mengambilnya dan meletakkannya di punggung penyu. Itulah asal terjadinya bumi.
Tanah kering tumbuh membesar menjadi negara, lalu negara lain, dan seluruh bumi… hingga hari ini, penyu itu memanggul bumi. Waktu berlalu, dan wanita langit punya anak kembar. Sifat mereka bertentangan. Satu baik, satu buruk. Satu lahir secara normal. Tapi satunya lagi lahir dari ketiak ibunya, yang membuat ibunya wafat. Saat wanita langit dikuburkan, semua tanaman yang dibutuhkan untuk hidup di bumi tumbuh dari tanah diatasnya. Dar kepalanya keluar labu. Jagung keluar dari dadanya. Kacang tumbuh dari kakinya. Anak sang wanita langit tumbuh. Yang jahat adalah Tawis-Karong. Yang baik bernama Tijus-kaha. Mereka pergi menyiapkan bumi sehingga manusia dapat tinggal disitu. Namun mereka tidak dapat tinggal bersama. Dan mereka berpisah, masing-masing membagi tugas merawat bagian buminya. Saudara jahat, Tawis-karong, membuat monster-monster besar, bengis dan menakutkan. Ia membuat serigala dan beruang serta ular raksasa. Ia membuat nyamuk besar, seukuran kalkun liar. Dan ia membuat katak raksasa. Ia meminum air tawar yang ada di bumi. Semuanya. Saudara baik, Tijus-kaha, membuat hewan normal yang bermanfaat bagi manusia. Ia membuat merpati, dan mockingbird serta partridge. Dan satu hari, sang partridge terbang menuju negeri Tawis-karong. “Kenapa engkau pergi kesana?” tanya Tijus-kaha pada parkit. “Saya pergi karena tidak ada air. Dan saya dengar ada di tanah saudaramu,” kata parkit.
Tijus-kaha tidak percaya pada sang burung. Maka ia mengikuti, dan akhirnya ia tiba di tanah saudara jahatnya. Ia melihat semua hewan raksasa yang dibuat saudara jahatnya. Tijus-haka tidak mengganggu mereka. Dan iapun melihat katak raksasa. Ia membelahnya. Keluarlah air bersih bumi.
16. Seneca
Seneca merupakan salah satu suku Indian di Amerika. Jauh dimasa lalu manusia tinggal tinggi di langit. Mereka punya kepala suku yang agung dan sakti. Lalu anak perempuan sang kepala suku sangat sakit dengan luka yang aneh. Segala jenis obat telah dicoba untuk menyelamatkannya, namun tidak satupun yang berhasil. Didekat rumah kepala suku ada pohon besar, yang setiap tahun menghasilkan jagung untuk dimakan. Salah satu teman kepala suku bermimpi kalau ia dinasihatkan untuk memberitahu kepala suku, agar anaknya sembuh, ia harus dibaringkan disamping pohon dan ia harus menggali pohon itu. Saran ini ditulis di surat. Saat orang bekerja dan sang gadis berbaring disana, seorang pemuda datang. Ia sangat marah dan berkata “Tidak benar kalau pohon ini dihancurkan. Buahnya yang menghidupi kita.” Dengan ini ia menendang sang gadis yang berbaring, akibatnya gadis itu terjatuh kedalam lubang yang telah digali.
Kini, lubang itu terbuka ke dunia ini, yang saat itu semuanya air, dan dipenuhi segala macam burung air. Tidak ada daratan saat itu. Saat seekor burung terbang, ia melihat sang gadis jatuh dan berkata “Ayo kita tolong dia”, lalu burung-burung yang ada disekitarnya bergabung menjadi seperti kasur yang menahan jatuhnya sang gadis. Lalu sang burung tadi bertanya, siapa yang mau merawat gadis ini? Sang kura-kura besar lalu mengambilnya, lalu saat kelelahan menggendongnya, ia meminta yang lain menggantikan. Hingga kesimpulan mereka adalah membuat tempat tinggal tetap untuk sang gadis. Akhirnya mereka memutuskan menyiapkan bumi, yang akan ditempatinya. Untuk ini tanah dari dasar samudera harus diambil dan diletakkan di atas punggung kura-kura, yang kemudian akan membesar sedemikian hingga semua mahluk dapat tinggal disana juga. Setelah banyak diskusi, katak akhirnya dipinta menyelam kedasar laut mengambil tanah. Dengan berani akhirnya ia bisa mengambil tanah dari dasar laut. Dengan hati-hati tanah ini disebarkan di punggung kura-kura, dan keduanya kemudian tumbuh semakin besar dan tebal.
Setelah sang gadis sembuh dari penyakit yang ia derita saat ia jatuh dari dunia atas, ia membangun rumah, dimana ia tinggal dengan tenang.
17. Seminole
Masih dari Indian di Amerika. Suku Seminole menceritakan saat sang pencipta, kakek dari segalanya, menciptakan bumi, ia membuat semua hewan dan burung dan meletakkannya dalam sebuah cangkang besar. Saat bumi telah siap, ia meletakkan cangkang itu di sepanjang tulang punggung (pegunungan) di bumi. “Saat waktunya tepat, ia memerintahkan para hewan, cangkang akan terbuka dan kalian akan keluar semua. Sesuatu atau seseorang akan meretakkan cangkang dan kalian harus mencari tempat di muka bumi”. Sang pencipta lalu memberi segel cangkang dan berharap kalau panther (hewan favoritnya) akan keluar pertama.
Waktu berjalan, dan tidak ada yang terjadi. Disepanjang cangkang berdiri pohon besar. Saat waktu berlalu, pohon tumbuh begitu besar sehingga akarnya mengelilingi cangkang. Akhirnya akar itu memecahkan cangkang. Angin segera memperbesar keretakan itu dan sang pencipta turun untuk membantu panther mendapat tempat di bumi. Lalu keluar burung. Burung mematuk lubang, dan saat waktunya tepat, keluar dari cangkang. Burung lalu terbang dengan segera. Setelah itu hewan lain muncul dalam urutan berbeda: beruang, rusa, ular, katak, berang-berang. Ada ribuan lainnya, sebegitu banyak sehingga tidak satupun selain sang pencipta yang bisa menghitungnya. Semua keluar mencari tempatnya di bumi.
18. Dhammai
Dhammai adalah salah satu suku di China. Sebelum ada segalanya, ada Shuzanghu dan istrinya, Zumaing-Nui. Di saat itu ia melahirkan seorang anak perempuan (bumi) dan anak laki-laki (langit). Bumi dan langit kawin dan melahirkan pegunungan. Mereka lalu membuat dua ekor katak yang menikah dan melahirkan manusia-manusia pertama. Manusia-manusia ini tertutup rambut lebat, namun saat mereka kawin keturunannya nampak seperti manusia sekarang ini.
19. Mongol
Tidak ada kisah penciptaan tunggal untuk mongol, namun beragam kisah dari suku-suku mongol dari asia tengah, sebuah gambaran umum dapat ditarik. Dalam salah satu kisah dikatakan kalau tanah diletakkan diatas punggung katak emas yang ditusuk panah yang menyebabkan api dan air keluar dari tubuhnya di beragam tempat.
Setelah penciptaan bumi itu sendiri, lelaki dan perempuan pertama diciptakan dari tanah lait. Mereka akan menjadi leluhur umat manusia. Beragam suku dan bangsa diletakkan dengan beragam sifat. Di utara, laki-laki dipasangkan dengan domba betina sebagai pasangan seksual dan ini mengawali etnik Mongol sementara Cina Han berasal dari perkawinan dengan ayam betina sementara suku Dorbed dan Buryat adalah keturunan dari para pemburu dan perawan-perawan angsa.

Sebuah Perkemahan Mongol (credit: Wikimedia)

Referensi:
1. Boas, F. 1895. Indianische Sagen von der Nord-Pacifischen Küste Amerikas, Berlin
2. Chamberlain, B. H. 1882. Kojiki or Records of Ancient Matters. Trans. Asiat. Soc. Japan, suppl. Vol. x. (1882).pp. 119 ff.
3. Codrington, R.H. 1891. The Melanesians: Studies in their Antropology and Folk-Lore. Oxford
4. Cole, F. C. 1913. The Wild Tribes of the Davao District, Mindanao. FCM xii, no.2
5. Egidi, V.M. 1913. Mythes et légendes des Kuni, British New Guinea. Anthropos, viii. 978-1010.
6. Fison, L. 1904. Tales of Old Fiji. London
7. Fornander, A. 1880. An Account of the Polynesian Race: Its Origins and Migrations, 3 vol. London.
8. Fraser, J. 1891. Some Folk-Songs and Myths from Samoa. PRS NSW, xxv.
9. Gill, W.W. 1876. Myths and Songs from the South Pacific. London
10. Hickson, S.J. 1889. A Naturalist in the North Celebes: Narrative of Travels in Minahassa, the Sangir and Talaud Islands, with Notices of the Fauna, Flora and Ethnology of the Districts Visited. London
11. Kubary, J. 1873. Die Palau-Inseln in der Südsee. Journal des Museum Godeffroy, i. 177-238 (1873).
12. Laubscher, Mattias, 1977. Iban and Ngaju kognitive Studie Zur Konvergenzen in Weltbild and Mythos, tom Harrison zur Gedaechtenis
13. Moerenhout, J.A. 1837. Voyages aux iles du Grand Océan. 2 vols. Paris
14. Pleyte, C. M. 1893. Ethnographische beschrijving der Kei eilanden. Tijd. Nederl. Aardrikskundig Genootschaap, 2nd series, x. 561-86, 797-840
15. Rand, S. T. 1894. Legends of the Micmacs. New York, p. 87
16. Rascher, P. 1904. Die Sulka: ein Beitrag zur Ethnographie von Neu-Pommern, Arch. f. Anth. xxix. 209-35 (1904).
17. Riedel, J.G.F. 1886. De sluik- en kroesharige rassen tusschen Selebes en Papua. ‘s-Gravenhage.
18. Seligmann, C.S. 1910. The Melanesians of British New Guinea. Cambridge
19. Thompson, S. 1929. Tales of the North American Indians.
20. Wilken, N. 1863. Bijdragen tot de kennis van de zeden en gewoonten der Alfoeren in de Minahassa. MNZG vii.
21. Williams, T., Calvert, J. 1858. Fiji and the Fijians. 2 vols. London

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.