Diposting Rabu, 21 Juli 2010 jam 11:02 am oleh The X

Kecepatan Reaksi

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 21 Juli 2010 -


Saat kecepatan reaksi kimia tertentu diukur dalam percobaan, kita menemukan kalau kecepatan ini ternyata tergantung pada konsentrasi zat pereaksi, suhu dan kuantitas yang disebut energi aktivasi. Ahli kimia menjelaskan fenomena ini dengan memakai teori kolisi untuk kecepatan reaksi. Teori ini bertopang pada premis kalau sebuah reaksi hanya terjadi antara dua atau lebih molekul, jika pada tingkat molekulnya, terjadi sebuah tabrakan (kolisi) antara dua molekul yang bergerak cepat. Bila kedua molekul bertabrakan dengan cara yang tepat dan dengan energi kinetik yang pas, salah satu molekul akan membutuhkan energi untuk memicu proses pelepasan ikatan. Saat ini terjadi, ikatan baru dapat terbentuk, dan pada akhirnya molekul pereaksi berubah menjadi molekul hasil. Titik energi tertinggi saat pelepasan ikatan dan pembuatan ikatan disebut keadaan transisi dari proses molekul tersebut. Perbedaan antara energi keadaan transisi dan energi molekul pereaksi disebut energi aktivasi yang harus dilampaui agar reaksi dapat terjadi. Kecepatan reaksi meningkat seiring bertambahnya suhu karena molekul yang bertabrakan memiliki energi yang lebih besar, dan lebih banyak lagi molekul yang akan memiliki energi yang melebihi energi aktivasi reaksi.

Struktur Kimia L Dopa, Obat Parkinson

Studi modern berdasarkan molekul pada perubahan kimia telah sangat dibantu oleh keberadaan laser dan komputer. Sekarang kita bisa mempelajari hasil reaksi tumbukan yang berusia sangat pendek dan menentukan lebih baik mekanisme molekuler yang sesuai dengan kecepatan reaksi kimia. Pengetahuan ini berguna dalam merancang katalis jenis baru yang dapat mempercepat reaksi dengan menurunkan energi aktivasinya. Katalis penting untuk banyak proses industri dan biokimia karena ia mempercepat reaksi yang bila secara alami dibiarkan begitu saja, maka ia akan berlangsung sangat lama. Selain itu, ia melakukannya dengan meningkatkan pengendalian pada struktur molekul yang dihasilkan. Ambil contoh katalis rhodium phosphine, ia mampu membuat ahli kimia mendapatkan 96 persen isomer optik yang sesuai dalam langkah kunci sintesis L-dopa, sebuah obat yang diperlukan untuk penyembuhan penyakit Parkinson.

Referensi

  1. Connors, K.A. 1990. Chemical Kinetics: The Study of Reaction Rates in Solution. John Wiley and Sons.
  2. Encyclopaedia Britannica. 2010. Chemistry.
  3. Sunarya, Y., Agus S. 2004. Mudah dan Aktif Belajar Kimia. Grafindo Media Pratama

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.