Diposting Senin, 19 Juli 2010 jam 8:10 pm oleh The X

Ikatan Ion dan Kovalen

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 19 Juli 2010 -


Sifat kimia sebuah zat adalah fungsi dari strukturnya, dan teknik kristalografi sinar X sekarang memungkinkan ahli kimia menentukan susunan atom yang tepat dari molekul kompleks. Molekul sendiri adalah susunan atom yang beraturan. Tiap atom dalam molekul terhubung dengan satu atau lebih tetangganya lewat ikatan kimia. Panjang ikatan dan sudut antara ikatan semuanya penting dalam menjelaskan struktur molekul. Dan teori ikatan kimia adalah salah satu pencapaian besar kimia modern.

Saat dua atom berbeda saling mendekat, elektron di orbital terluar masing-masing atom dapat merespon dalam dua cara. Katakanlah kedua atom itu adalah atom A dan atom B. Elektron pada orbital terluar atom A dapat bergerak sepenuhnya ke arah atom B dan membentuk orbital terluar yang stabil dari atom B. Atom yang dihasilkan menjadi bermuatan, satu kelebihan elektron dan satu kekurangan elektron. Dengan kata lain atom A menjadi A+ dan atom B menjadi B-. Kedua atom baru ini disebut ion. Akibat perbedaan muatan ini, kedua atom mengalami gaya elektrostatik. Dan gaya elektrostatik inilah yang menjadi dasar dari ikatan ion. Kedua atom berikatan dan menjadi senyawa. Senyawa yang dihasilkan biasanya muncul dalam susunan tiga dimensi dan terdiri dari ion-ion positif dan negatif. Senyawa ionik ini biasanya berbentuk zat padat kristal yang memiliki titik cair tinggi. Sebagai contoh garam dapur.

Cara kedua dimana dua elektron terluar atom A dan B dapat berikatan saat berdekatan adalah dengan cara berpasangan membentuk ikatan kovalen. Model sederhananya disebut model ikatan valensi. Elektron disini dilihat sebagai sebuah partikel. Dua pasangan elektron dianggap berada di antara dua inti atom dan sama-sama dimiliki oleh atom A dan atom B juga. Inilah ikatan kovalen. Atom disatukan satu sama lain dengan ikatan kovalen sehingga menjadi molekul. Gas hidrogen tersusun dari molekul hidrogen, yang setiap molekulnya sendiri tersusun dari dua atom hidrogen yang berikatan secara kovalen.

Notasi H2 untuk gas hidrogen disebut rumus molekul. Rumus molekul menunjukkan jumlah dan tipe atom apa yang menyusun molekul tersebut. Molekul H2 bertanggung jawab atas sifat-sifat yang ditunjukkan oleh gas hidrogen. Sebagian besar zat di bumi memiliki molekul yang berikatan secara kovalen, dan sifat molekulnya sangat berbeda dari yang menyusun unsur mereka sendiri. Sifat kimia dan fisika dari karbon dioksida misalnya, berbeda sekali dari sifat atom karbon maupun sifat atom oksigen.

Penafsiran ikatan kovalen dalam bentuk pasangan elektron lokal sebenarnya hanya penyederhanaan berlebihan dari situasi ikatan sesungguhnya. Penjelasan yang lebih luas mengikutkan sifat gelombang elektron dalam teori orbital molekul. Menurut teori ini, elektron dalam sebuah molekul, bukannya terlokalisasi di antara atom, namun tersebar di semua atom dalam molekul dalam distribusi ruang yang disebut orbital molekul. Orbital demikian terbentuk saat orbital atom dari atom yang berikatan bercampur satu sama lain. Jumlah total orbital molekul yang ada di sebuah molekul sama dengan jumlah semua orbital atom yang dimiliki atom-atom yang berikatan tersebut. Misalkan yang berikatan itu atom A dan atom B dan membentuk molekul AB, dua orbital atom bercampur dan membentuk dua orbital molekul. Salah satunya, yang disebut orbital molekul ikatan, mewakili ruang yang menyelimuti kedua atom A dan B, sementara orbital lainnya yang disebut orbital molekul anti ikatan, memiliki dua cuping. Tidak satupun darinya memuat ruang antara kedua atom. Orbital molekul ikatan ada pada tingkat energinya yang paling rendah dari pada dua orbital atom sebelumnya. Orbital anti ikatan sebaliknya, lebih tinggi daripada kedua orbital atom sebelumnya. Atas alasan inilah ada kemungkinan besar kalau kita menemukan elektron di antara A dan B, namun juga bisa ditemukan dimanapun dalam orbital. Karena hanya dua elektron yang terlibat dalam pembentukan ikatan dan keduanya dapat berada dalam orbital energi rendah, daerah orbital anti ikatan menjadi kosong. Teori ikatan ini meramalkan kalau ikatan antara A dan B akan terjadi karena energi pasangan elektron setelah ikatan lebih kecil daripada energi kedua elektron dalam orbital atom mereka sendiri. Pembentukan ikatan kovalen karenanya bersifat efisien energi. Sebelumnya atom A dan atom B berenergi tinggi, setelah berikatan energi mereka jadi rendah.

Tampilan lain ikatan ini adalah kemampuannya meramalkan energi yang diperlukan untuk menggerakkan sebuah elektron dari orbital molekul ikatan ke anti ikatan. Energi yang diperlukan untuk eksitasi elektron seperti itu dapat diberikan oleh cahaya tampak, misalnya, dan panjang gelombang cahaya yang diserap menentukan warna yang ditunjukkan oleh molekul penyerap (misalnya, bunga violet berwarna biru akibat pigmen bunga ini menyerap sinar merah dari cahaya alami dan memantulkan cahaya biru). Saat jumlah atom dalam molekul meningkat, begitu juga jumlah orbital molekulnya. Perhitungan orbital molekul untuk atom besar itu sulit secara matematis, namun komputer telah mampu menghitung persamaan gelombang dari beberapa molekul besar. Sifat molekul yang diramalkan oleh perhitungan tersebut sesuai dengan hasil percobaan.

Referensi

  1. chemistry.” Encyclopædia Britannica. 2010.
  2. North East Wales Institute – Chemistry
  3. University of Aberdeen – Curly Arrows
The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.