Diposting Jumat, 16 Juli 2010 jam 5:31 am oleh The X

Keputusan dan Evolusi Ingatan: Multi Sistem, Multi Fungsi

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 16 Juli 2010 -


Stanley B. Klein,

Leda Cosmides,

John Tooby,

Sarah Chance

University of California, Santa Barbara

Psychological Review 2002, Vol. 109, No. 2, 306–329

Ingatan ber evolusi untuk memasok informasi bermanfaat dan berjangka waktu pada sistem pembuatan keputusan organisme. Dengan demikian, aturan keputusan, multi sistem ingatan, dan mesin pencari yang menghubungkannya harus ber evolusi bersama untuk bergabung secara saling kunci secara fungsional dan beradaptasi bersama. Sudut pandang adaptasionis ini menawarkan hipotesis lingkup: Saat sebuah generalisasi diperoleh dari ingatan semantik, ingatan episodik yang tidak konsisten harus diambil bersamaan untuk memberikan syarat batas pada lingkup generalisasi. Menggunakan paradigma pengutama dan sebuah tugas keputusan yang melibatkan ingatan seseorang, peneliti menguji dan memeriksa hipotesis ini. Hasilnya mendukung pandangan kalau pengutamaan adalah bentuk adaptasi yang ber evolusi. Mereka lebih jauh menunjukkan kalau disosiasi antara sistem ingatan tidak – dan tidak boleh – mutlak : Kemandirian ada untuk beberapa tugas namun tidak dalam tugas lainnya.

Ingatan adalah pemberian alam, kemampuan organisme hidup mempertahankan dan menggunakan informasi atau pengetahuan yang diperoleh. Pemilik sistem ingatan biologis mampu bertindak lebih pantas pada waktu kemudian karena pengalaman mereka pada masa sebelumnya, sebuah kemampuan yang tidak mungkin dimiliki organisme tanpa ingatan

(Tulving, 1995a, p. 751).

Jika ada satu pernyataan yang disetujui oleh semua psikolog, maka itu adalah pernyataan bahwa ingatan itu bermanfaat. Ingatan memungkinkan organisme menyetel perilaku mereka berdasarkan informasi yang mereka peroleh secara ontogenetik, lewat pengalaman mereka dengan dunia.

Hubungan antara pengalaman pribadi, ingatan, dan perilaku menunjukkan hubungan erat antara belajar dan ingatan: “Ingatan dalam sistem biologis selalu mengikuti belajar (pengambilan informasi) dan … belajar menunjukkan retensi (ingatan) atas informasi tersebut” (Tulving, 1995a, p. 751). Mengenali hal ini, para psikolog telah lama mengeksploitasi paradigma belajar untuk mempelajari sifat ingatan (misalnya dengan belajar daftar untuk menjelajahi mengingat bebas, mengingat berpetunjuk, dan pengenalan).

Hubungan yang sama juga menunjukkan hubungan erat antara aturan keputusan[1] dan ingatan. Sebuah organisme tidak dapat berlaku “lebih pantas” – yaitu, lebih adaptif – pada masa datang karena pengalaman masa lalu kecuali ia dilengkapi dengan aturan-aturan yang menggunakan informasi yang diperoleh secara ontogenetik untuk mengambil keputusan. Sungguh, sistem ingatan harus mengevolusikan struktur mereka dalam merespon kebutuhan informasi dari aturan keputusan yang memandu perilaku. Ini karena sifat ingatan yang tidak memiliki pengaruh pada keputusan suatu organisme tidak akan terlihat – dan karenanya akan dibentuk oleh – seleksi. Lebih jauh, karena aturan keputusan seringkali berbeda dalam informasi apa yang mereka perlukan, beragam perangkat aturan keputusan dapat mengaktifkan beragam proses pengambilan atau mesin pencari dan dapat mengakses beragam sistem ingatan atau seperangkat sistem ingatan. Tanpa mesin yang dapat mencari dan mengambil informasi yang tepat, memasoknya pada aturan keputusan yang tepat pada waktu yang tepat, sebuah organ dirancang untuk menyimpan informasi yang diperlukan secara ontogenetik – yaitu, sebuah sistem ingatan – menjadi tidak berguna.

Karenanya, perilaku adaptif seiring waktu tergantung pada sebuah hubungan fungsional yang beradaptasi bersama antara tiga komponen: (a) aturan keputusan yang mengendalikan perilaku organisme, (b) sistem ingatan yang menyimpan data yang diperlukan oleh aturan keputusan, dan (c) mesin pencari yang menentukan dan menggariskan informasi yang disimpan secara dinamis ke aturan keputusan yang aktif. Hal ini menunjukkan kalau tugas keputusan dapat dimanipulasi secara eksperimental untuk menerangi desain dan fungsi terdiferensiasi dari sistem ingatan multi, sama seperti paradigma belajar yang ada di masa lalu.[2]

Komponen mesin pencari dari triad dapat dieksplorasi dalam cara ini pula, memungkinkan perkembangan dan evaluasi eksperimental dari teori alternatif mengenai mengapa pengutamaan direkayasa menjadi arsitektur kognitif. Sejauh ini, pengutamaan telah didefinisikan sebagai sebuah fenomena eksperimental : Informasi dikatakan telah diutamakan saat melakukan satu tugas merubah ketersediaan informasi tersebut untuk digunakan pada tugas selanjutnya. Pada tingkat paling umum, sekeluarga teori dapat menjelaskan pengutamaan sebagai hasil sampingan dari cara arsitektur kognisi terorganisasi, dimana keluarga teori lain menjelaskan pengutamaan telah secara spesifik direkayasa menjadi arsitektur kognitif oleh evolusi karena kontribusi fungsional yang ia lakukan untuk berlaku secara adaptif. Menurut pandangan fungsionalis atau adaptasionis ini, mesin pencari mesti ber evolusi untuk mempercepat pengiriman informasi yang sesuai pada sebuah aturan keputusan aktif.[3]

Mesin pencari dirancang untuk memenuhi hal ini dengan menggunakan operasi pembuatan keputusan saat ini dan peristiwa saat ini untuk meramalkan informasi mana yang kemungkinan besar diperlukan oleh tugas keputusan selanjutnya, dan untuk memfasilitasi pengirimannya. Sebagai hasilnya, inforamsi yang diprediksikan prosedur ini akan lebih relevan bila diperoleh lebih cepat daripada informasi lainnya, dan karenanya akan lebih tersedia untuk digunakan oleh aturan keputusan aktif. Secara eksperimen, ini berarti menghasilkan fenomena pengutamaan yang teramati. Dengan melihat pola pengutamaan mana yang dipakai oleh aturan keputusan alternatif, berbagai hipotesis mengenai desain mesin pencari, dan sifat pengutamaan itu sendiri, dapat diuji.

Pendekatan Adaptasionis dalam Mempelajari Ingatan

Seringkali produktif untuk mengeksplorasi hasil eksperimental dengan hipotesis kerja yang mereka, pada keluasan signifikan tertentu, ekspresi desain komputasional fungsional (misalnya J. R. Anderson, 1989, 1991; J. R. Anderson & Milson, 1989; Cosmides & Tooby, 1987; Sherry & Schacter, 1987). Bahwa, arsitektur kognitif manusia dapat ditafsirkan seolah ia sistem rekayasa yang relatif baik, dapat di analisa lewat penerapan konsep-konsep seperti fungsi, tampilan desain, analisa tugas, tujuan komputasi, efisiensi, reliabilitas, dan sebagainya. Ini dijamin karena, dalam arah evolusi, modifikasi dalam desain arsitektur kognitif manusia universal sepertinya disertakan pada keluasan sehingga mereka memperbaiki operasi fungsional dari arsitektur – yaitu, meningkatkan tingkat yang dimana arsitektur berhasil menyelesaikan masalah pemprosesan informasi adaptif (misalnya Cosmides & Tooby, 1987; Sherry & Schacter, 1987). Kebetulan dan seleksi alam hanyalah dua keluarga dari proses yang mengendalikan perubahan evolusi, dan bersama seiring waktu evolusi mereka membangun arsitektur kognitif manusia.

Para peneliti yang menerapkan konsep fungsionalis atau analisa pada masalah kognitif harus menerima integrasi biologi evolusi modern dalam sains kognitif karena, diluar operasi seleksi alam pada leluhur kita, tidak ada alasan logis kalau otak harus memuat unsur terorganisir secara fungsional diluar yang dapat dihasilkan oleh proses acak.[4] Untuk alasan ini, dalam artikel ini kami menerapkan logika adaptasionisme[5] pada studi sistem ingatan – sistem untuk mempelajari desain fungsional dari sistem yang diseleksi secara alami (Dawkins, 1986; Williams, 1966; untuk penerapan pada masalah komputasional, lihat Cosmides & Tooby, 1987, 1992, 1997; Marr, 1982). Walau cara berpikir ini umum dan adalah akar dalam banyak penemuan di bidang lain seperti fisiologi, kedokteran dan perilaku hewan (contohnya Daly & Wilson, 1995; Gallistel, 1995; Mayr, 1983; Williams & Nesse, 1991), ia belum pernah diterapkan secara luas dalam penelitian ingatan (dengan beberapa pengecualian seperti Nadel, 1994; Sherry & Schacter, 1987; Tulving, 1995b). Kami berpikir kalau analisa fungsional dapat menyumbang secara signifikan pada pemahaman desain sistem ingatan dan hubungannya dengan aspek lain arsitektur kognitif, dan bahwa data terbaru mengenai sistem ingatan multi mengundang analisis demikian. Dalam artikel ini, kami menguji hipotesis yang muncul hanya dari pertimbangan fungsional paling umum pada saling hubung antara aturan keputusan, mesin pencari, dan sistem ingatan multi, menyarankan analisa efek spesifik domain ingatan ke masa depan.

Multi Sistem, Multi Fungsi

Saat belajar masih diyakini sebagai sebuah proses satuan (baik asosiasionistik atau inferensial, tergantung dekade) dengan satu fungsi tunggal, sebuah pandangan ingatan unitarian juga subur. Proses yang sama menyandikan, menyimpan, dan mengambil dipikirkan bekerja, apakah informasi tersebut mewakili fakta mengenai dunia, keahlian, atau episode pribadi. Ingatan dipandang sebagai sebuah sistem tunggal dengan fungsi tunggal: menyimpan informasi untuk digunakan kemudian, tidak peduli apapun isi atau jenisnya (untuk tinjauan, lihat Foster & Jelicic, 1999; Nadel, 1994; Polster, Nadel, & Schacter, 1991; Schacter, 1995; Schacter & Tulving, 1994; Tulving, 1995a).

Dalam dua dekade terakhir, walau begitu, pandangan unitarian pada belajar dan ingatan telah di kritik dalam dua landasan: (a) Mereka bermasalah dalam membahas katalog hasil yang terus meluas yang mendokumentasikan disosiasi – baik neural maupun fungsional – dalam bagaimana informasi dari beragam domain diperoleh, disajikan dan diingat (untuk tinjauan, lihat Foster & Jelicic, 1999; Polster et al., 1991; Nadel, 1994; Roediger & Craik, 1989; Schacter & Tulving, 1994; Sherry & Schacter, 1987; Squire, 1987); dan (b) beberapa masalah pemprosesan informasi tidak dapat diselesaikan oleh satu sistem belajar dan/atau ingatan tunggal karena kebutuhan komputasional dari satu masalah tidak sesuai dengan kebutuhan komputasional yang lain (misalnya McClelland, McNaughton, & O’Reilly, 1995; Nadel, 1994; Pinker, 1979, 1984; Sherry & Schacter, 1987; Wexler & Culicover, 1980). Dalam studi ingatan, pertimbangan jenis ini membawa pada sejumlah ilmuan mengajukan kalau arsitektur kognitif manusia terdiri dari lima sistem ingatan yang dapat di isolasi secara fungsional : prosedural, perseptual – representasional, primer (ingatan kerja), semantik, dan episodik (untuk tinjauan, lihat Markowitsch, 1995; Squire & Knowlton, 1995;

Tulving, 1995b; Tulving & Schacter, 1990; Weiskrantz, 1987). Tiap sistem memediasi pengambilan, penyajian dan pengingatan dari beragam jenis pengetahuan atau keahlian, dan paling tidak empat diantaranya dipandang terdiri dari beberapa subsistem terspesialisasi secara fungsional.

Seperti semua teori yang mempertanyakan pandangan unitarian, proposal kalau satu otak memuat beragam sistem ingatan tampak kontroversial. Walau begitu, studi-studi dari neuropsikologi dan psikologi eksperimental telah menghasilkan cukup bukti untuk beberapa sistem ingatan yang dapat terdisosiasi secara fungsional dan secara neural sehingga hipotesis ini mesti dipandang serius (misalnya Campbell & Conway, 1995; Cohen, 1984; Foster & Jelicic, 1999; Hodges, Spatt, & Patterson, 1999; R. Johnson, Kreiter, Zhu, & Russo, 1998; Knowlton, Mangels, & Squire, 1996; Markowitsch et al., 1993; Markowitsch, Calabrese, Neufeld, Gehlen, & Durwen, 1999; McCarthy & Warrington, 1990; McClelland et al., 1995; Perani et al., 1993; Peretz, 1996; Reber, Knowlton, & Squire, 1996; Schacter & Tulving, 1994; Shallice, 1979; Squire, 1987, 1992; Tulving, 1983, 1985, 1987, 1993a; Tulving & Schacter, 1990; Van der Linden, Bredart, Depoorter, & Coyette, 1996; Vargha-Khadem et al., 1997; Warrington, 1975; Weiskrantz, 1987, 1990).

Bila ada sistem ingatan berbeda – sistem yang secara fungsional dapat di isolasi – maka penting untuk bertanya mengapa mereka ada. Evolusi tidak menghasilkan sistem fenotipik baru yang kompleks dan secara fungsional terorganisasi karena kebetulan. Sistem demikian memperoleh organisasi fungsional mereka karena mereka memecahkan beberapa masalah evolusi yang terjadi buat organisme. Memahami masalah yang dipecahkan tiap sistem ingatan akan membantu memandu pemetaan yang lebih sistematik pada tampilan desain dari sistem ingatan demikian. Singkatnya, penelitian ingatan dapat memperoleh manfaat dari pengembangan teori diferensiasi yang lebih baik mengenai fungsi ingatan. Artikel ini menawarkan sebuah langkah ke arah itu.

Langkah pertama dalam menerapkan logika adaptasionis pada studi ingatan adalah memikirkan ingatan sebagai sebuah komponen sebuah mesin, langkah kedua adalah membedakan kemampuan komponen dari fungsinya, ketiga adalah menentukan fungsi komponen yang diselidiki, dan keempat adalah menentukan hubungan kausal antara fungsi komponen dengan strukturnya.

Prinsip Desain Organik

Fungsi versus Kemampuan

Selama hampir satu abad, psikolog telah menjelajahi kemampuan sistem ingatan manusia, yang mengesankan. Sistem-sistem ini dapat menyandikan, menyimpan dan mengambil sejumlah besar informasi, termasuk banyak yang secara adaptif baru secara acak dan evolusioner, dari suara hampa, lagu, dan gerakan catur, persamaan dan Lutz triple. Walau begitu, secara agnostik mengkatalog sampel acak dari himpunan segalanya yang tidakdapat habis dari yang bisa dilakukan sistem ingatan tidak sepertinya membawa pada pengetahuan pada fungsinya.

Sebuah mesin adalah sebuah sistem yang dirancang untuk memecahkan masalah – yaitu, sebuah sistem yang bagiannya ada dalam bentuk sekarang karena penyusunan tersebut memecahkan sebuah masalah. Ingatan adalah sebuah komponen dari sebuah mesin syaraf yang dirancang untuk menggunakan informasi yang diperlukan di masa lalu untuk mengkoordinasikan perilaku organisme di masa kini.

Untuk memahami desain mesin organik (dan juga mesin yang dibuat manusia), kita perlu membuat perbedaan konseptual yang tajam antara kemampuan mesin dan fungsinya. Untuk menentukan fungsi sebuah mesin berarti menetukan untuk apa ia dirancang. Sebuah pemukul tiga lubang, misalnya, dirancang untuk membuat lubang di kertas sehingga ia dapat disusun dalam binder tiga cincin. Mengetahui fungsi ini memungkinkan kita memahami mengapa pemukul tiga lubang ada dalam bentuknya seperti sekarang: kenapa ia memiliki unsur yang cukup tajam untuk memotong kertas, mengapa unsur ini berbentuk silinder (untuk membuat lubang untuk cincin, bukan merobek atau mengiris), kenapa diameter mereka 1/4–1/2 inci, mengapa mereka ada tiga, mengapa satu penekanan saja dapat menurunkan ketiganya, dan seterusnya. Unsur-unsur ini adalah tampilan desain – aspek mesin yang ada disana karena mereka menyumbang pada fungsinya.

Walau begitu setiap mesin, dengan memiliki struktur kasual tertentu, mampu melakukan sederetan tak terhitung hal yang bukan tujuannya dirancang. Seperti banyak ditemukan anak kecil, bila anda mengguncang pemukul tiga lubang, potongan-potongan keluar. Produksi lingkaran kecil kertas adalah efek samping dari desain mesin. Tidak satupun bagian yang disebut diatas ada karena bagian tersebut dirancang untuk membuat lingkaran kertas (dan, faktanya, mereka tidak dirancang baik untuk melakukan itu; seorang pembuat lingkaran kertas harus memiliki banyak pemukul, hal ini harus sedekat mungkin sehingga tidak membuang-buang kertas, mereka tidaak mesti silinder, dsb). Pembuatan lingkaran kertas tidak menjelaskan keberadaan atau penyusunan bagian pemukul tersebut. Tidak pula satupun kemampuan lain pemukul – manfaatnya untuk memberati kertas atau untuk melempari siswa yang nakal, misalnya. Kemampuan ini secara acak dengan melihat pada fungsi tujuannya, semata merupakan efek samping dari desain mesin.

Tradisi mempelajari ingatan dengan melihat apa yang ia mampu lakukan – tanpa bertanya untuk apa ia dirancang – seperti mempelajari pemukul tiga lubang seolah ia pembuat lingkaran kertas atau pemberat kertas. Ini bukan metode yang efisien untuk mempelajari himpunan kecil unsur saling kunci yang sangat beraturan yang memiliki desain fungsional sebuah sistem. Sungguh, beberapa prinsip penelitian dapat secara aktif mencegah penemuan unsur sentral demikian. Di sekolah pasca sarjana misalnya, kami (penulis) diajarkan tradisi Ebbinghaus: bahwa dalam membuat eksperimen ingatan, anda harus menghindari penggunaan stimuli apapun yang bermuatan emosional atau ditarik dari domain yang penting secara adaptif. Namun ini merupakan praduga pada masalah. Bagaimana jika sistem ingatan yang dirancang untuk menyimpan informasi mengenai anak sendiri atau mengenai lokasi makanan atau mengenai situasi berbahaya? Sistem demikian telah ditemukan dalam spesies lain (untuk keturunan, Beecher, 1990; Kendrick, Levy, & Keverne, 1992; McCracken & Gustin, 1992; untuk lokasi makanan, Hampton et al., 1995; untuk bahaya, Mineka & Cook, 1988). Bagaimana jika sistem ingatan spesifik isi terspesialisasi secara fungsional ada dalam pikiran manusia pula? (sebagaimana memang demikian adanya; lihat Jacobs & Nadel, 1985; Ohman, Dimberg, & Ost, 1985, Pittman & Orr, 1995; Sherry & Schacter, 1987; Silverman & Eals, 1992). Ini tidak dapat ditemukan bila repertoire eksperimental seseorang dibatasi oleh stimuli yang dipilih karena mereka acak secara fungsional, atau jika mandat komitmen prateoritis seseorang bahwa semua kemampuan sistem sama. Mereka tidak. Sebuah fungsi sistem memberikan kerangka pemikiran: satu-satunya jalan membagi sebuah mesin menjadi bagian-bagian yang menjelaskan mengapa bagian itu ada dan mengambil bentuk demikian. Sebagai masalah sekunder, sebuah deskripsi fungsional akan, karena ini kausal, memungkinkan seseorang menurunkan kemampuan non fungsional lain sistem pula.

Aturan Keputusan, Mesin Pencari, dan Ingatan

Baru-baru ini, beberapa peneliti ingatan telah menyelidiki hubungan antara desain sebuah sistem ingatan yang diberikan dan fungsi adaptifnya. Para ilmuan yang mengambil pendekatan ini telah menemukan bahwa banyak tampilan desain sistem ingatan yang tampaknya acak dapat dipahami dengan mempertimbangkan masalah apa yang membuatnya dirancang untuk menyelesaikannya (J. R. Anderson, 1989, 1991; J. R. Anderson & Milson, 1989; Babey, Queller, & Klein, 1998; Glenberg, 1997; Hampton et al., 1995; O’Keefe & Nadel, 1978; Nadel, 1994; Rozin, 1976; Sherry, 1997; Sherry & Schacter, 1987; Suddendorf & Corballis, 1997; Tulving, 1995b). Kami berpendapat kalau kemajuan lebih jauh dapat dibuat dengan mempertimbangkan masalah apa yang prosedur tersebut yang menggunakan data dari sistem ingatan dirancang untuk selesaikan. Lagi pula, apakah sebuah organisme dapat diuntungkan dari masa lalunya tergantung bukan hanya pada desain sistem ingatannya, namun juga pada aspek arsitektur kognitif yang berinteraksi dengan sistem ini: mekanisme belajar, sistem inferensi, aturan keputusan dan mesin pencari.

Disini, kami berfokus pada proses kognitif yang menggunakan informasi yang disimpan untuk membuat penilaian dan keputusan. Dari sudut pandang desain, ada hubungan erat antara aturan keputusan, proses pemanggilan, dan sistem ingatan. Untuk sebuah aturan keputusan yang menggunakan informasi yang disimpan untuk bekerja, ia memerlukan mesin pencari: program yang dirancang untuk merespon pada aktivasi sebuah aturan keputusan dengan mencari dan menentukan informasi dalam sistem ingatan organisme yang relevan secara potensial dengan keputusan yang akan dibuat, dan mengirimkan apa yang mereka temukan pada penyangga masukan yang mengumpan aturan keputusan tersebut.

Walau begitu, semakin banyak informasi yang disandikan organisme, semakin sulit merekayasa sebuah sistem yang dapat mengirimkan informasi yang tepat pada aturan keputusan yang tepat pada saat yang tepat sementara tidak secara serentak membanjirinya dengan informasi yang tidak relevan. Apa yang penting adalah merancang sebuah kesesuaian antara isi informasi yang disimpan dan mekanisme yang memerlukannya (Nadel, 1994).

Aturan keputusan memerlukan mesin pencari yang “berselancar di jaringan” untuk isi yang pantas. Isi mana yang pantas tergantung pada masalah adaptif yang aturan keputusan tersebut dirancang untuk pecahkan: Pemilihan pasangan memerlukan informasi berbeda daripada pemilihan makanan atau teknik menghindari predator. Berbagai aturan keputusan akan memerlukan berbagai mesin pencari, dan anda dapat menduga kalau mesin pencari ini dirancang untuk menarik struktur data berdasarkan isinya. Dimana beberapa tugas dapat memerlukan informasi spesifik isi dari ingatan episodik semata atau dari ingatan semantik semataa, tugas lain mungkin memerlukan informasi spesifik isi dari kedua sistem ingatan ini. Karenanya, saat tiba pada pengambilan, disosiasi antara sistem ingatan mungkin tidak mutlak; sebagai masalah desain, seseorang mungkin menemukan kebebasan untuk beberapa tugas dan aktivasi bersama pada tugas lain. Ini menyarankan kalau, saat tiba pada pemanggilan, keluasan dimana seseorang dapat menemukan kebebasan fungsional antara sistem ingatan akan mencerminkan persyaratan informasional dari aturan keputusan yang diaktifkan.

Dalam artikel ini, kami berkonsentrasi pada (semacam) fungsi ingatan episodik dan semantik, dan aturan keputusan yang mengaksesnya. Dalam melakukannya, kami berfokus pada penelitian oleh Klein dan koleganya yang menjelajahi kondisi dimana ingatan episodik dan semantik dapat diambil oleh aturan keputusan yang membuat pertimbangan sifat.

Eksperimen-eksperimen ini menggunakan paradigma pengutamaan dan sebuah tugas keputusan yang memerlukan pemanggilan pengetahuan sifat. Hasilnya menunjukkan kalau pengambilan ingatan episodik dan semantik adalah mandiri dalam beberapa konteks keputusan namun tidak pada yang lain. Mereka lebih jauh menunjukkan kalau dimana pemanggilan adalah mandiri tergantung dalam cara-cara tertentu dalam isi informasi yang diambil. Situasi dimana kemandirian runtuh menunjukkan kalau pengutamaan pengetahuan seseorang tidak semata efek samping dari penyebaran aktivasi syaraf atau semacam tampilan insidental dari desain sistem: Namun, ia adalah komponen fungsional dari sebuah mekanisme keputusan yang dirancang untuk menggunakan informasi dari satu sistem ingatan untuk menggantikan syarat batas pada informasi yang diambil dari yang lain (hipotesis jangkauan).

Mengapa Penilaian Sifat?

Kami percaya kalau sistem ingatan semantik dan episodik ber evolusi untuk memecahkan banyak masalah berbeda dan bahwa mereka di akses oleh banyak jenis aturan keputusan. Walau begitu, dalam menguji sebuah teori, kita harus mulai dengan domain masalah yang tunggal dan spesifik. Kami memulainya dengan masalah menilai sifat kepribadian.

Penilaian sifat adalah tempat yang bagus untuk memulai atas lima alasan. Pertama, membuat penilaian sifat melibatkan kategorisasi dan, seperti dikatakan oleh Jackendoff (1987), “Kemampuan mengkategorikan lah yang memungkinkan penggunaan pengalaman sebelumnya untuk memandu penafsiran pengalaman baru, karena tanpa kategorisasi, ingatan tidak berguna” (p. 135). Jika sistem ingatan dan mekanisme yang menggunakannya memiliki tampilan saling kunci, maka memutuskan apakah sebuah kategori sifat cukup menjelaskan seseorang adalah jenis tugas dimana seseorang harus menemukan tampilan ini.

Kedua, mengkategorikan orang – baik diri sendiri dan yang lain – sebagai “baik”, “jahat”, “bersahabat”,”agresif”, dan seterusnya, adalah aspek penting dalam hidup manusia. Orang secara otomatis mengkondensasi kerumitan tindakan manusia kedalam sejumlah dimensi kepribadian yang terbatas yang memiliki keabsahan prediktif (Funder, 1995; Funder & Sneed, 1993; Kolar, Funder, & Colvin, 1996) dan menggunakan penilaian ini dalam memutuskan bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Penilaian ini sangat teliti, bahkan saat mereka dibuat dengan cepat dan berdasarkan informasi yang sangat terbatas (Funder & Sneed, 1993). Lebih jauh, kompetensi seseorang dalam hal ini berkembang dalam ketiadaan instruksi eksplisit (lebih seperti belajar bahasa pertama kali), ketimbang kerumitan inheren dari tugas ini (pertimbangkan apa saja yang diperlukan untuk membuat program komputer yang dapat menyimpulkan motivasi dan tujuan dari tindakan dan menggunakan kesimpulan ini untuk membuat penilaian sifat).

Bersama-sama, fakta ini – ada di mana-mana, kerumitan, kecepatan, ketelitian, otomatis, dan kompetensi tanpa tuisi – menyarankan kalau arsitektur kognitif manusia mungkin telah meng evolusikan permesinan komputasional yang terkhususkan untuk melakukan penilaian sifat kepribadian.

Ketiga, bukti dari primatologi, paleoantropologi, dan studi pemburu-pengumpul modern memusat pada gambaran leluhur pemburu-pengumpul manusia sebagai berusia lama, sangat sosial, dan hidup dalam kelompok sosial yang relatif stabil: kondisi yang membantu evolusi permesinan yang bagus dalam menyarikan informasi kepribadian yang teliti dan menggunakannya untuk meramalkan perilaku. Studi primata menyarankan kalau kemampuan ini purba secara filogenetik: Simpanse dan bonobo juga menyetel perilaku sosial mereka dengan jalan yang mencerminkan kepribadian dari berbagai interaktan (de Waal, 1982; de Waal & Lanting, 1997). Silsilah manusia dan kera besar dipandang telah berpisah 5 – 10 juta tahun lalu, sehingga ada waktu yang sangat panjang dimana seleksi dapat menspesialisasi dan mengembangkan mekanisme yang membangkitkan penilaian ini.

Dengan kedalaman waktu dan konsekuensi kebugaran positif yang akan menumpuk dari perubahan desain apapun yang memperbaiki kemampuan pemiliknya untuk meramalkan perilaku, kita dapat menduga aturan keputusan yang membuat penilaian sifat, dan juga database ingatan yang menyimpan informasi yang digunakan oleh aturan keputusan ini, untuk menjadi target seleksi. Sungguh, kami menduga kalau semacam fungsi paling penting dari ingatan episodik berhubungan dengan interaksi sosial, yang tergantung (sebagian) pada penilaian sifat.

Keempat, ada sejumlah besar literatur mengenai penggunaan ingatan dalam penilaian sifat, termasuk banyak studi neuropsikologis yang menunjukkan disosiasi dalam mengingat pengetahuan sifat episodik dan semantik (misalnya Damasio, Tranel, & Damasio, 1989; Klein, Loftus, & Kihlstrom, 1996; Tranel & Damasio, 1993; Tulving, 1993a). Pada manusia, aturan keputusan yang membuat penilaian sifat dikenal mengakses baik sistem ingatan episodik maupun semantik (lihat dibawah). Paradigma pengutamaan memungkinkan seseorang secara sensitif menjelajah akibat-akibat bila ini terjadi, dan sebuah sistem model yang baik menjelaskan akibat ini secara detil telah dikembangkan oleh Klein dan Loftus (1993b). Hal ini membuat penilaian sifat adalah domain yang bagus untuk memeriksa bagaimana aturan keputusan berinteraksi dengan sistem ingatan episodik dan semantik dan untuk menguji hipotesis mengenai kondisi dimana kemandirian akan, dan tidak akan ditemukan.

Kelima dan terakhir, masalah komputasional yang muncul dalam penilaian sifat adalah sebuah saat dari kategori masalah yang lebih luas yang melibatkan fungsi adaptif dari apa yang kami sebut ingatan inseptif dan turunan. Ingatan inseptif adalah representasi dunia yang disimpan dengan disandikan pada insepsi mereka (saat dimana mereka pertama kali di alami). Banyak ingatan episodik diingat pada penilaian sifat tampaknya inseptif. Sebuah ingatan turunan adalah representasi tingkat yang lebih tinggi yang diturunkan dari penyimpanan ingatan insentif namun secara komputasional diubah untuk memasok informasi dalam sebuah bentuk yang meminimalkan kebutuhan pemprosesan lebih jauh oleh aturan keputusan yang menggunakannya. Ingatan semantik menggunakan banyak database ingatan turunan, seperti rangkuman sifat yang diingat oleh aturan keputusan yang menilai apakah seseorang bersahabat, jahat atau baik. Kami berpendapat bahwa ingatan inseptif dan ingatan turunan ada karena mereka berguna, bukan untuk tujuan berbeda.

Karena sebuah masalah besar telah diketahui mengenai bagaimana ingatan inseptif dan turunan berinteraksi dalam penilaian sifat, domain ini memberikan point konkrit pada entri untuk mempertimbangkan apa yang kita yakini sebagai kelas yang lebih umum dari masalah manajemen informasi yang melibatkan pertukaran antara kecepatan dan akurasi. Menurut hipotesis lingkup, sebuah paket kecepatan plus akurasi yang hebat dapat direkayasa menjadi sebuah sistem keputusan dengan bersama mengaktifkan ingatan turunan dan ingatan inseptif yang berkontradiksi dengannya. Karenanya, walau kami menguji hipotesis lingkup dalam domain penilaian sifat, kami yakin ia berlaku lebih umum dan menutup artikel ini dengan sebuah tinjauan bukti yang menyarankan kalau tampilan desain ini ditemukan dalam aturan keputusan dalam sejumlah domain berbeda.

Menilai diri sendiri

Terdapat literatur yang berlimpah mengenai bagaimana orang menilai sifat mereka sendiri (untuk tinjauan, lihat Babey et al., 1998; Bem, 1972; Hampson, 1982; Kihlstrom et al., 1988; Kihlstrom & Klein, 1994; Klein

& Loftus, 1993b; Schneider, Hastorf, & Ellsworth, 1979; Wyer & Gordon, 1984). Bila anda ingin menyelidiki proses kognitif yang mengakses ingatan semantik dan episodik, ini adalah daerah yang kaya. Sebagian besar teori penilaian sifat menganggap kalau individu memiliki (atau pernah memiliki) database pengalaman dimana penilaian sifat dapat dibuat. Setiap subjek potensial memiliki database pengalaman yang besar mengenai diri mereka sendiri, yang memuat pengetahuan reaksi ia sendiri terhadap sejumlah besar situasi sosial. Untuk alasan ini, seseorang dapat menguji hipotesis tanpa khawatir kalau subjek semata tidak memiliki ingatan yang relevan mengenai topik.

Dibawah kami memeriksa hubungan antara ingatan episodik, ingatan semantik dan tipe tertentu proses kategorisasi/keputusan – penilaian sifat diri sendiri (misalnya Kihlstrom & Klein, 1994, 1997; Klein & Loftus, 1990, 1993a, 1993b; Klein, Babey, &Sherman, 1997; Klein, Loftus, & Burton, 1989; Klein, Loftus, &

Kihlstrom, 1996; Klein, Loftus, & Plog, 1992; Klein, Loftus, Trafton, & Fuhrman, 1992; Klein, Sherman, & Loftus, 1996; Lord, 1993; Schell, Klein, & Babey, 1996). Sebagai contoh, saat seseorang bertanya, “Apakah kamu baik?” apakah algoritma kategorisasi mengunjungi sebuah perpustakaan ingatan pribadi, menghitung jawaban dari episode apapun yang dapat diaktifkan oleh situasi yang ada? Atau apakah banyak jawaban pada kelas pertanyaan ini sebelumnya telah dihitung dan disimpan dalam sebuah database rangkuman sifat yang abstrak? Yaitu, apakah sebuah prosedur “melihat” mengaktifkan sebuah representasi dalam bentuk rangkuman – sebuah entri pada judul “diri sendiri” dalam ensiklopedia ingatan semantik? Atau apakah keduanya terjadi secara sejajar? Bila sebuah rangkuman representasi di aktifkan, apakah episode terkait dari sebuah sistem ingatan otobiografis teraktivasi? Bila ya, apa jenis episode yang diperiksa, mendukung bukti atau menyanggah? Sebagai contoh, saat anda ditanya “Apakah kamu baik?” apakah terjadi pengingatan utama episode yang mewakili insiden khusus dimana kamu baik – atau tidak baik?

Kami pertama memeriksa temuan dari studi populasi normal maupun klinis yang memusat pada kesimpulan bahwa ingatan semantik sifat kita sendiri dan ingatan episodik yang memuatnya disimpan secara tipikal dan diingat secara mandiri satu sama lain. Kami kemudian menjelaskan kondisi yang diduga menyebabkan kemandirian ini runtuh, dan melaporkan eksperimen yang menunjukkannya.

Ingatan Episodik dan Semantik Pribadi

Masing-masing dari lima sistem ingatan sejauh ini sudah diajukan dan dipandang memediasi pengambilan, representasi dan pengingatan berbagai jenis pengetahuan dan keterampilan. Dengan hipotesis, sistem prosedural memediasi pengkondisian dan pengambilan keterampilan, sistem representasional perseptual mendukung identifikasi objek hanya berdasarkan pada informasi spesifik modalitas mengenai bentuk dan struktur ingatan primer (kerja, jangka pendek) adalah sebuah penyangga yang membuat informasi sementara dapat diakses pada mekanisme yang menyebabkan pemahaman bahasa dan bentuk inferensi tertentu, sistem ingatan semantik mengantung pengetahuan umum tentang dunia, dan sistem ingatan episodik menciptakan masa lalu pribadi (misalnya Markowitsch, 1995; Schacter & Tulving, 1994; Tulving, 1983, 1995b;Tulving & Schacter, 1990; Weiskrantz, 1987).

Bersambung ke bagian kedua : Ingatan Episodik

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.