Diposting Jumat, 16 Juli 2010 jam 5:59 am oleh The X

Ada berapa banyak sih warna itu sebenarnya?

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 16 Juli 2010 -


Teman saya bilang kalau orang masa lalu tahu kalau warna spektrum cahaya matahari ada tujuh macam. Menurutnya pengetahuan ini mendahului penemuan Newton lewat prismanya. Newton adalah orang yang pertama mengetahui kalau cahaya putih dari matahari sesungguhnya terdiri dari tujuh warna pelangi. Kisah masa lalu yang diceritakan teman saya berusia 3000 tahun sebelum zaman Newton, hebat bukan?

Tidak juga. Ada penjelasan yang lebih sederhana dan lebih masuk akal. Tujuh warna yang dimaksud leluhur teman saya itu tidak lain adalah pelangi. Manusia masa lalu tidak perlu jadi Newton untuk tahu kalau cahaya pelangi ada tujuh. Mejiku hibini u.

Kita cenderung membayangkan kalau warna adalah sifat dari benda : buku itu merah. Namun mustahil memahami apa arti pernyataan sederhana itu kecuali kita memahami alat yang membuat keputusan: mata manusia.

Apa artinya pernyataan buku itu merah? Pada sinar matahari, atau sumber cahaya lainnya, terkandung semua panjang cahaya tampak. Panjang cahaya ini bukan hanya tujuh seperti kata teman saya, ia sangat banyak. Buku menyerap panjang gelombang tertentu dari cahaya tersebut dan menolak yang lain. Panjang gelombang yang ditolak tersebut memasuki mata, dimana ia merangsang fotosel tertentu di retina, tapi tidak semuanya. Campuran khusus panjang gelombang ini merangsang sederetan sinyal syaraf yang bergerak menuju otak, dan otak kita melihat warna yang dipantulkan buku tersebut sebagai merah.

Persepsi “merah” tidak selalu berhubungan dengan sederetan panjang gelombang tertentu. Persepsi visual kita jauh lebih terbatas daripada campuran panjang gelombang yang mencapai mata kita. Mata manusia hanya dapat mengenali beberapa ratus warna dan arsiran, namun semua persepsi ini hanya merupakan hasil dari kombinasi tiga sinyal visual saja.

Sinyal syaraf yang memberi tahu otak warna apa yang anda lihat hanya berasal dari tiga jenis sel sensitif warna di retina. Tiga jenis sel ini dibedakan dengan pigmennya. Tiap pigmen sensitif dengan derajat berbeda panjang gelombang cahaya. Gambar berikut menunjukkan sensitivitas pigmen ini.

Satu pigmen yang diwarnai merah, merespon pada cahaya dengan panjang gelombang terpanjang, sekitar 760 nanometer, bila cahayanya sangat terang. Pigmen ini paling sensitif pada sekitar 600 nanometer. Pigmen yang diwarnai biru, lemah, melihat hingga 380 nanometer dan paling sensitif pada 430 nanometer. Pigmen yang diwarnai hijau, adalah yang paling sensitif pada bagian tengah spektrum yaitu 520 nanometer dan mencapai kedua ujung.

Dalam kondisi normal, warna yang kamu lihat tergantung pada derajat yang dapat dicapai ketiga pigmen ini. dari 690 hingga 760 nanometer, benda terlihat merah, karena hanya pigmen “merah” yang bereaksi pada daerah ini. Cahaya monokrom dari lampu uap sodium, pada 570 nanometer, bertindak pada pigmen “merah” dan “hijau” hampir sama besar; kombinasi ini menghasilkan sensasi yang kita sebut kuning. Kombinasi panjang gelombang yang mencapai pigmen merah dan hijau sama banyaknya menghasilkan kuning. Mentega kelihatan kuning karena ia menyerap cahaya pada ujung pendek panjang gelombang, hingga sekitar 500 nanometer, dan memantulkan sisanya. Saat sisa yang dipantulkan ini mencapai retina kita, ia diterima oleh pigmen hijau dan merah, tapi bukan biru.

Panjang gelombang yang ada pada berbagai bagian spektrum dapat merangsang masing-masing pigmen ini dan karenanya menghasilkan aneka warna. Layar televisi mengandung mosaik hanya dari tiga jenis titik saja: merah (gelombang panjang), biru (gelombang pendek) dan hijau (gelombang medium). Semua warna yang kamu lihat dihasilkan di mata kamu oleh kombinasi ketiga jangkauan panjang gelombang ini.

Memahami ketiga pigmen ini hanyalah awal dari pengetahuan tentang pandangan berwarna. Persepsi warna seringkali tergantung pada panjang gelombang yang dipantulkan oleh lingkungan di sekitar benda tersebut, bukan hanya benda itu sendiri. Mata anda bisa bereaksi terhadap kontras. Selain itu, ada mekanisme, yang sekarang sudah cukup dimengerti, dimana retina bisa memperbolehkan pencahayaan berbeda. Di waktu fajar, sinar matahari tampak merah, dan gambar yang dipotret akan terlihat merah. Tapi retina anda memiliki mekanisme untuk mengkompensasinya ketidak seimbangan pencahayaan tersebut, dan sinar matahari akan tampak normal bagi mata anda.

Penelitian tentang warna masih terus berjalan. Bidang optik ini hidup. Sebagai contoh, baru saja ditemukan kalau mata laki-laki dan perempuan juga berbeda. Perempuan dapat membedakan lebih banyak warna merah daripada laki-laki. Bila laki-laki melihat dua warna pink yang sama, perempuan akan melihatnya berbeda. Satu akan lebih pink dari yang lain. Penemuan lain adalah kalau mata manusia dapat melihat warna yang sesungguhnya tidak ada.

Dalam bidang biologi, Mata manusia sesungguhnya memiliki desain yang buruk namun ada semacam software di otak yang memperbaiki desain buruk mata kita. Mata kita memiliki fotosel yang terbalik. Sangat tidak efektif karena cahaya harus masuk ke retina dalam jalan yang panjang. Ini sebuah tanda evolusi mata manusia yang penuh mutasi dan seleksi alam di masa lalu.

Dalam bidang kimia, studi warna sudah sangat mendalam. Ada sekian banyak fenomena kimia yang dinisbahkan pada warna. Dan ini sangat menarik untuk dipelajari.

Well, kita sudah tau jauh lebih banyak tentang warna dan penglihatan dari pada orang yang hidup 3500 atau 500 tahun lalu, tapi kita masih perlu banyak belajar. Teman-teman yang masih kuliah di MIPA dapat meneliti hal ini untuk tugas akhir. Selain studi warna sangat berwarna warni, ia juga penuh dengan kejutan.

Referensi

Bamfield, P. dan Hutchings, M.G. 2010. Chromic Phenomena : Technological Applications of Colour Chemistry. 2nd Edition. RSC Publishing.

Billock, V. A. dan Tsou, B. H. 2010. Seeing Forbidden Colors. Scientific American, February 2010, pp. 72-78

Dawkins, R. 2009. The Greatest Show on Earth. Free Press.

Jameson, K. A., Highnote, S. M., & Wasserman, L. M. (2001). Richer color experience in observers with multiple opsin genes. Psychonomic bulletin and review, 8, 244-261.

Lehrman, R. L. 1998. Physics the Easy Way. Barron’s Educational Series

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Fans Facebook

Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.