Diposting Sabtu, 10 Juli 2010 jam 2:29 pm oleh The X

Para ilmuan menemukan petunjuk mengapa gempa Aceh yang pertama lebih mematikan daripada yang kedua

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 10 Juli 2010 -


Anda ingat peristiwa tsunami akhir tahun 2004. Ada “pakar teknologi canggih” yang bilang kalau peristiwa ini dan peristiwa gempa bumi lainnya disebabkan oleh kebejatan moral, penurunan akhlak dan teman saya bilang, panjang bulu kaki, dari penduduk Indonesia. Well, para ilmuan yang kompeten di bidangnya. Yang sungguh-sungguh, yang tidak asal bilang bahwa A berkorelasi langsung dan tidak langsung dengan B, sekarang sudah memberikan hasil penelitiannya.

Para ilmuan ini bertahun-tahun menelitinya dan akhirnya mereka menemukan penyebabnya. Saat itu, tiga bulan setelah peristiwa tsunami, terjadi lagi gempa bumi kedua. Tapi yang kedua ini lebih lemah.

Kedua Gempa tersebut disebabkan oleh sobekan pada segmen dalam celah yang sama. Perbedaannya, yang tersobek tahun 2004 adalah bagian selatannya. Akibatnya gempa lebih besar dan tsunami terjadi. Hal ini tampak terang dalam citra seismik bawah tanah yang disebabkan oleh zona retakan yang kepadatannya rendah daripada endapan sekitarnya. Perbedaan ini dan lainnya menghasilkan sobekan yang jauh lebih panjang dan lebih dekat dengan lantai lautan. Seperti inilah gempa pertama. Tsunami terjadi karena gerakan dasar laut. Gempa yang lebih banyak menggerakkan dasar laut akan menciptakan tsunami yang lebih besar.< p>

Di pagi tanggal 26 desember 2004, gempa bumi dasar laut mulai terjadi di pantai barat Sumatra dan menyebar sekitar 1.200 km ke utara. Tsunami yang disebabkannya menghasilkan gelombang setinggi 30 meter yang menghancurkan pesisir pantai. Karena teknologi peringatan dini kita sangat lemah (salah siapa coba? Petunjuk : ada hubungannya dengan teknologi dan mungkin, pemerintah), akibatnya 230 ribu orang mati dan jutaan orang kehilangan tempat tinggal.

Tiga bulan kemudian, tahun 2005, gempa kuat lainnya terjadi. Gempa ini lebih lemah secara siginifikan dan hanya menghasilkan tsunami kecil yang menelan korban jauh lebih sedikit.

Tim peneliti dari Universitas Southampton di Inggris, Universitas Texas di Austin, BPPT dan LIPI, menemukan petunjuk mengapa kedua gempa ini sangat berbeda. Mereka sibuk bekerja di kapal penelitian bernama Sonne. Para ilmuan heroik ini menggunakan instrumen seismik untuk menjelajahi lapisan endapan di dasar laut dengan gelombang suara. (Ketimbang mengurusi moral dan urusan pribadi orang)

Mereka menemukan sejumlah tampilan aneh dari zona sobekan gempa 2004. Keanehan ini mulai dari topografi lantai laut, bagaimana endapannya berubah dan lokasi gempa kecil susulan setelah gempa utama. Mereka menemukan kalau ujung selatan zona sobekan ini unik. Untuk mengetahuinya, kita harus tahu bagaimana dan mengapa gempa terjadi.

Gempa bawah laut terbesar terjadi di zona subduksi, seperti di bagian barat Indonesia, dimana satu lempeng tektonik menyelusup di bawah lempeng lainnya. Penyusupan (Subduksi) ini tidak terjadi secara halus, tapi pada awalnya menempel lalu meluncur atau menyobek sambil melepaskan sejumlah besar energi yang tersimpan dalam bentuk gempa. Batas lempeng antara Sumatra- Andaman dan Samudera Hindia menempel dan meluncur dalam segmen-segmen. Jenis perbatasan lempeng ini disebut décollement dan merupakan retakan dangkal yang bergerak dari bawah palung ke bawah pulau-pulau ini.

Para peneliti menemukan kalau permukaan décollement memiliki sifat berbeda pada kedua gempa. Pada daerah tahun 2004, décollement dicitrakan secara seismik dari kapal dan menunjukkan refleksi terang yang spesifik. Ini menunjukkan materi berkepadatan rendah yang tentunya mempengaruhi gesekan saat lempeng tadi meluncur. Daerah décollement tahun 2005 tidak memiliki ciri ini dan akibatnya memiliki perilaku berbeda.

Hasil penelitian mereka akan dilaporkan pada jurnal ilmiah Science edisi 9 juli. Peneliti utama paper ini adalah Simon Dean dari Sekolah Sains Bumi dan Samudera Universitas Southampton, yang bermarkas di Pusat Oseanografi Nasional , Southampton (NOC).

“Kedua gempa terjadi di sistem retakan yang sama, berawal pada 30 – 40 kilometer di bawah permukaan laut,” kata Dean. “Hasil penelitian kami akan membantu memahami mengapa bagian dari retakan ini berperilaku berbeda pada saat luncuran gempa yang mempengaruhi kemunculan tsunami. Ini penting bagi mitigasi dan penanggulangan bencana.”

Dengan membandingkan hasil ini dengan zona subduksi lainnya yang ada di dunia, para peneliti yakin kalau daerah gempa Sumatera tahun 2004 memiliki cirinya tersendiri, dan mengatakan kalau daerah ini sangat rawan terhadap tsunami.

“Dengan memahami parameter-parameter yang membuat sebuah daerah menjadi lebih berbahaya dalam hal gempa dan tsunami, kita dapat membahas potensi bencana di ujung lainnya,” kata Sean Gulick, ilmuan dari Institut Geofisika Universitas Texas di Austin. “Kami perlu memeriksa apa yang membatasi ukuran gempa dan sifat apa yang berpengaruh pada pembentukan tsunami.”

Fakta kalau dareah sumber gempa tahun 2004 dan 2005 berada di tempat yang berbeda adalah berita bagus. Bila kedua segmen ini saat itu meluncur serentak, gempa yang dihasilkan akan sebesar 9.3 skala richter, bukannya 9.2. Kecil? Tidak juga. Skala gempa di ukur dalam skala logaritmik. Peningkatan 0.1 sama artinya penambahan sepertiga energi dari sebelumnya. Bila menggunakan analogi. Gempa pertama tahun 2004 setara dengan ledakan 1.8 triliun kilogram TNT. Bila terjadi serentak dengan gempa 2005, maka gempa yang terjadi setara dengan ledakan 2.4 triliun kilogram TNT.

Dana penelitian ini disediakan oleh Yayasan Sains Nasional Amerika Serikat (NSF) dan Konsil Riset Lingkungan Alam Inggris. (mana sumbangan Indonesia?)

Para peneliti yang terlibat adalah Dean, Lisa McNeill, Timothy Henstock dan Jonathan Bull (Universitas Southampton, NOC), Gulick, James Austin Jr. dan Nathan Bangs (Universitas Texas di Austin), Yusuf Djajadihardja (BPPT, Indonesia) dan Haryadi Permana (LIPI).

Referensi

Dean, S.M., McNeill, L.C., Henstock, T.J., Bull, J.M., Gulick, S.P.S., Austin, J.A., Bangs, N.L.B., Djajadihardja, Y.S., Permana, H. 2010. Contrasting Décollement and Prism Properties over the Sumatra 2004-2005 Earthquake Rupture Boundary. Science, 2010; 329 (5988): 207-210

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.