Diposting Kamis, 8 Juli 2010 jam 11:04 pm oleh The X

Bumi yang berbintik-bintik

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 8 Juli 2010 -


Kemarin saya berdiskusi dengan seorang teman tentang pengetahuan orang zaman purba. Dia bilang orang zaman purba itu lebih hebat dari kita. Katanya orang zaman purba udah tau kalau bumi itu berbintik-bintik dan mengitari matahari!

Oke, saya terkesan banget kalau orang purba bisa tau kalau bumi mengitari matahari, tapi sudah saya tunjukkan di sini, bahwa pengetahuan semacam itu tidaklah terlalu sulit diketahui dan tanpa harus meninggalkan pandangan kalau bumi itu datar atau menganggap kalau bumi berotasi. Serius nih, kamu bisa membayangkan sebuah piring yang mengitari matahari, dan piring itu adalah bumi, dan piring itu berputar pada porosnya! Biar lucu, bayangin aja piring yang isinya ayam goreng, berputar seperti piring terbang, di tutup dengan tudung saji, dan bergerak mengitari kamu yang lagi ngiler. Nyam nyam.

Oke dude, kita bahas aja masalah bumi yang berbintik-bintik itu. Let see. Bintik-bintik. Oh ya, bumi emang berbintik-bintik. Awan itu bisa di anggap bintik. Cahaya lampu kota-kota besar juga di anggap bintik. Hoaaaa, orang zaman purba tahu mengenai sains modern! Mereka jauh lebih pintar dari kita!

Tunggu dulu. Kamu mikirnya kejauhan. Saat bicara tentang manusia zaman kuno, kamu harus mengambil sudut pandang orang yang hidup di zaman itu. Bukannya mengambil sudut pandang kita. Kalau ada penjelasan yang sederhana, pilih penjelasan itu. Ini prinsip ilmiah yang namanya pisau cukur Occham.

Sekarang bisa gak sih orang zaman dahulu memikirkan bumi ini berbintik-bintik tanpa harus mengetahui 3000 tahun yang akan datang akan ada listrik yang cahayanya nampak dari luar angkasa? Atau membayangkan kalau awan bisa terlihat dari luar angkasa? Btw, awan itu gak pantas dibilang bintik dong. Bentuknya kan gak bulat. Maksa banget kamu.

Gimana? Bisa? Tentu aja bisa. Jaman dahulu belum ada listrik. Apa yang orang buat waktu malam? Well, seorang pemikir bisa melihat ke langit. Di langit tanpa polusi cahaya, apa yang kamu lihat? Bintik-bintik! Bintang itu loh. semuanya kan bintik-bintik. Orang jaman dulu ada loh yang menyangka kalau bintang itu memang bintik yang menempel di langit. Seperti hiasan gitu. Dan emang mereka menyangka bintang itu perhiasan!

Apa yang ada di luar langit. Well, kalau bintik2 ini menempel di bumi, sudah jelas bumi dari luar bakalan kelihatan berbintik-bintik. Di waktu siang, bintik-bintik ini pindah ke lokasi lain. Ingat, bumi berotasi dan orang zaman dahulu sudah tau kalau bumi berotasi dan bumi berevolusi, tapi tidak tau kalau bumi ini bulat!

So what, apakah ini kereeeen? Saya rasa nggak. Lebih keren fakta ilmiah yang sekarang kita tahu. Bumi itu bulat, bumi gak berbintik, bumi berevolusi, dan bumi juga berotasi.

Tapi teman saya bilang. Ah. Yang dimaksud orang zaman dulu itu mungkin bukan bumi kita, tapi planet lain. Planet lain kan juga mengitari matahari.

Let see. Planet apa yang berbintik-bintik. (Mikir). Umm, Merkurius? Oh ya, merkurius kan punya banyak kawah. Waaaah, inilah bintik-bintik tersebut. Teman saya tersenyum.

Bagus lah, tapi apa kita pilih merkurius atau bumi? Gue sih tetep pilih bumi. Ingat prinsip Occham. Lagian apa sih signifikannya merkurius bagi orang zaman dahulu? Kalau Mars gimana? Kan bintik-bintik. Tapi kenapa gak dibilang kawah-kawah, daripada bintik-bintik? Kan lebih betul kalau dibilang kawah-kawah. Hayoooo.

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.