Diposting Rabu, 7 Juli 2010 jam 11:15 am oleh The X

Keanekaragaman Hayati Pegunungan Dasar Samudera Atlantik

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 7 Juli 2010 -


Para ilmuan baru saja kembali dari sebuah petualangan memburu hewan-hewan langka dan lebih dari 10 spesies baru. Mereka baru saja bertualang selama enam minggu di atas kapal RRS James Cook di Samudera Atlantik. Petualangan ini memberi kesan mendalam bagi mereka karena telah mengubah secara drastis pandangan mereka tentang kehidupan laut dalam di Samudera Atlantik.

Salah satu kelompok hewan yang mereka amati dan berhasil mereka tangkap diyakini merupakan mata rantai evolusi yang hilang antara hewan bertulang belakang dan hewan tak bertulang belakang (antara vertebrata dan invertebrata).

Para ilmuan juga dikejutkan dengan penemuan keanekaragaman hayati dan keanekaragaman habitat di lokasi yang hanya terpisah beberapa mil saja. Menggunakan teknologi terbaru mereka melihat banyak sekali spesies yang selama ini dikira langka.

Para ilmuan ini berpartisipasi dalam program penelitian MAR-ECO tahap akhir. Ini adalah program penelitian internasional yang merupakan bagian dari Sensus Kehidupan Laut di daerah Pegunungan dasar laut Atlantik tengah antara Islandia dan Azores.

Proyek ini dipimpin oleh para ilmuan dari Universitas Aberdeen di Inggris dan diikuti oleh para ilmuan dari 16 negara. Selain Aberdeen, badan lain yang ikut serta dari Inggris adalah Universitas Newcastle dan Pusat Oseanografi Nasional.

Para peneliti telah menghabiskan waktu 300 jam dalam kapal selam. Kapal selam yang mereka gunakan adalah tipe ROV (Remotely Operated Vehicle), jenis kapal selam yang dikendalikan justru dari kapal yang ada di permukaan laut. Kapal selam ini bernama Isis yang mencatat rekor sebagai ROV yang paling dalam menerobos kegelapan samudera. Isis mampu stabil hingga kedalaman 3600 meter.

Dengan menggunakan Isis, para ilmuan melakukan inventarisasi dataran, tebing dan lereng pegunungan dasar lautyang membelah Samudera Atlantik menjadi dua bagian, samudera atlantik barat dan atlantik timur. Mereka berfokus pada dua daerah – perairan beku di utara Arus Teluk dan perairan hangat di selatannya.

Professor Monty Priede, direktur Laboratorium Samudera Universitas Aberdeen mengatakan: “Kami terkejut melihat betapa berbedanya hewan yang hidup di bagian barat pegunungan dengan di sisi lainnya padahal mereka hanya terpisah puluhan mil saja. Di barat, tebing menghadap ke timur dan di timur, tebing menghadap ke barat. Topologinya sama, seperti cermin, namun itu saja yang sama.

Di Timur Laut, teripang adalah hewan dominan di daerah dataran, sementara di daerah tebing, yang dominan adalah spons, koral dan jenis kehidupan lain yang aneka warna.

Di Barat Laut, tebingnya hampir kosong kehidupan. Datarannya hanyalah rumah dari cacing acorn enteropneust laut dalam. Hanya ada beberapa spesimen di sini. Dan asalnya dari Samudera Pasifik dan sudah dikenal oleh sains sejak lama. Cacing ini adalah anggota kelompok kecil hewan yang dekat dengan mata rantai evolusi yang hilang antara hewan bertulang belakang dan invertebrata. Cacing-cacing ini makan di dasar samudera lalu pergi begitu saja dengan meninggalkan jejak berbentuk spiral. Mereka tidak punya mata, tidak punya alat indera atau otak yang jelas namun ujungnya punya kepala dan ujung satu lagi punya ekor. Bentuk tubuhnya adalah bentuk tubuh hewan bertulang belakang primitif. Ada jenis yang bisa berenang, tapi sangat kasar.

Saat ekspedisi berakhir, kami menemukan tiga spesies berbeda dengan warnanya sendiri-sendiri. Ada yang pink, ada yang ungu dan ada yang putih. Dan perbedaannya juga terletak pada bentuknya. Dengan menggunakan ROV kami menangkap masing-masing sampel yang nantinya akan dikirim ke para ilmuan di bidangnya untuk penelitian lebih lanjut.”

Teripang atau holothularian, biasanya terlihat merangkak luar biasa lambatnya di dataran dasar samudera, namun disini kami juga menemukannya di lereng terjal, celah sempit dan bahkan batu yang menghadap ke pegunungan dasar samudera.”

Para ilmuan juga dikejutkan oleh para teripang perenang yang sangat gesit dan merekamnya dalam video. Profesor Priede mengatakan “Ekspedisi ini benar-benar mengubah cara pandang kami mengenai kehidupan dasar laut di Atlantik. Ia menunjukkan kalau kita tidak dapat sekedar meneliti apa yang hidup di pinggir samudera saja, tapi kita juga harus meneliti hewan yang hidup di tebing dan lembah di tengah Samudera. Dengan teknologi terbaru dan navigasi yang canggih, kami dapat mencapai lokasi tersebut dan menemukan hal-hal yang tidak pernah kami duga.”

Dr Andrey Gebruk, dari Institut Shirshov, Moskow, mengatakan :”Kami terkejut melihat spesies-spesies yang kami kira langka ternyata melimpah ruah di Pegunungan tengah Atlantik dan bahkan ada beberapa spesies baru yang kami temukan saat kami melakukan penyelaman terakhir sebelum pulang.”

Dr Dan Jones dari Pusat Oseanografi Nasional, Southampton, meneliti dasar laut seluas lima hektar dengan sangat teliti dan mengatakan : “Kami berhasil menyelesaikan survey video paling detil mengenai kehidupan laut dalam yang pernah dilakukan. ROV Isis dengan teknologi canggihnya memberi kita potensi untuk lebih jauh lagi menyibak misteri lingkungan dasar laut.”

Dr Ben Wigham dari Universitas Newcastle yang telah dari awal proyek ini, empat tahun lalu, ikut serta mempelajari biologi hewan yang hidup di pegunungan dasar laut. “Kami tertarik dalam meneliti bagaimana cara makan hewan ini di dasar laut yang jelas sangat langka dengan makanan” katanya. “Perbedaan yang kami temukan dalam keanekaragaman spesies dan jumlah individu mungkin berhubungan dengan bagaimana mereka mampu memproses dan membagikan pasokan makanan bersama. Kami jelas melihat indikasi bahwa ada perbedaan antara daerah utara dan selatan pegunungan ini.”

Jika anda penasaran dan ingin melihat apa saja spesies yang mereka temukan di dasar samudera Atlantik, kunjungi saja situs mereka http://www.coml.org/. Saat ini para ilmuan sedang menyusun laporan dan sedang mengupload foto dan video disana, jadi sering-seringlah berkunjung.

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.