Diposting Senin, 5 Juli 2010 jam 11:20 pm oleh The X

Pendekatan pribadi untuk berhenti merokok akan jadi kenyataan dalam 3 hingga 5 tahun lagi

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 5 Juli 2010 -


Sebuah pendekatan pribadi untuk terapi berhenti merokok dengan cepat berkembang. Bukti baru dari Pusat Medis Universitas Duke dan Institut Nasional Penyalahgunaan Obat (NIDA) menemukan kalau menyatukan informasi mengenai make-up genetik individu dengan kebiasannya merokok dapat menentukan terapi pengganti nikotin mana yang akan bekerja paling efektif.

“Dalam tiga hingga lima tahun lagi, masuk akal kalau kita sudah memiliki sebuah tes yang praktis untuk memilih terapi berhenti merokok,” kata Jed Rose, Ph.D., direktur Pusat Penelitian Nikotin dan Berhenti Merokok Universitas Duke. “Ia dapat dipakai dokter untuk memandu seleksi perlakuan dan dosis yang tepat untuk tiap perokok, dan meningkatkan taraf keberhasilan berhenti merokok.”

Statistik menunjukkan 70 persen dari 46 juta perokok di AS mengatakan kalau mereka ingin berhenti, namun untuk sukses menghilangkan kebiasaan ini ternyata terbukti tidak gampang. Dalam laporan sebelumnya, kurang dari lima persen saja perokok yang berhenti atas inisiatif sendiri dan tanpa bantuan medis dapat berhasil tidak merokok dalam satu tahun kemudian. Tingkat berhenti merokok jangka panjang pada perokok yang bertopang pada intervensi farmakologis juga mengambang di bawah 25 persen.

Penelitian ini, yang diterbitkan pada jurnal Molecular Medicine edisi juli-agustus 2010, meneruskan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rose dan George Uhl, MD PhD, kepala penelitian neurobiologi molekuler di NIDA. Setelah melakukan scan genom dari 520 ribu penanda genetik yang diambil dari sampel darah para perokok dalam beberapa usaha berhenti merokok, mereka menemukan pola genetik yang tampaknya mempengaruhi seberapa baiknya individu dalam merespon perlakukan berhenti merokok tertentu.

Penelitian sekarang berfokus pada penggabungan informasi dari penanda genetik individual (SNP) tersebut, menjadi sebuah angka yang mewakili “skor keberhasilan berhenti merokok”. Skor dan ketergantungan nikotin perokok, diperoleh lewat kuesioner sederhana, membantu meramalkan kemungkinan individual untuk berhenti, dan juga apakah perban nikotin dosis tinggi dan dosis rendah dapat bekerja dengan baik.

Dalam percobaan, 479 perokok yang merokok sedikitnya 10 batang per hari dan ingin berhenti dikategorikan berketergantungan tinggi atau rendah berdasarkan tingkat ketergantungan nikotinnya. Perokok di tiap kelompok kemudian secara acak disuruh memakai dua perban nikotin harian yang memberikan dosis tinggi (42 mg) dan dosis standar (21 mg). Perban dipakai selama dua minggu setelah saat mereka berhenti merokok, dan dosis nikotin dikurangi secara bertahap dalam 10 minggu setelah tanggal berhenti mereka. Partisipan diberikan rokok tanpa nikotin dalam dua minggu sebelum tanggal berhenti untuk meminimalkan efek balik potensial dari perban nikotin dosis tinggi. Fase perlakukan berlangsung selama 12 minggu totalnya.

DNA disarikan dari darah partisipan dan dipakai untuk menentukan skor genetik kesuksesan berhenti merokok. Enam bulan kemudian, para peneliti mampu menentukan mana perokok yang lebih sukses dan mana yang gagal berdasarkan perban dosis tinggi dan dosis rendahnya.

“Skor genotip ini adalah bagian yang menentukan keberhasilan. Di masa datang skor ini akan membantu kita membuat keputusan perlakuan awalnya,” kata Rose. “Orang yang memiliki ketergantungan nikotin tinggi dan skor genetik rendah tampak memperoleh manfaat dari perban nikotin dosis tinggi, sementara orang yang ketergantungannya rendah pada nikotin lebih baik dengan perban standar.”

Studi lebih lanjut diperlukan untuk mereplikasi hasil ini, dan memperluas penelitian untuk memuat terapi lainnya seperti verenicline (Chantix, Pfizer) dan bupropion hydrochloride (Zyban, Glaxo SmithKline). Namun potensi dari penelitian ini signifikan bagi masa depan kita, kata Rose.

“Sekarang tidak ada algoritma perlakuan yang memberi tahu seorang dokter atau perokok perlakuan mana yang bekerja lebih baik untuk mereka,” kata Rose. Ini yang kita coba lakukan. Kita ingin merancang dan menyediakan panduan informatif pada dokter untuk meningkatkan kesuksesan berhenti merokok pasiennya.”

Studi ini adalah hasil kerja sama antara seorang penyelidik yang didukung oleh Program Penelitian Intramural Institut Kesehatan Nasional (NIH), Institut Nasional Penyalahgunaan Obat, dan Universitas Duke yang mendapatkan dana dari Philip Morris USA. Perusahaan ini tidak memiliki peran apapun dalam merencanakan atau melakukan penelitian, analisa data ataupun publikasi hasil.

Drs. Uhl dan Rose terdaftar sebagai pemegang hak paten atas penanda genomik yang membedakan perokok yang sukses berhenti dan yang tidak dalam data tersebut untuk percobaan klinik lainnya. Bila anda tertarik untuk membaca hasil penelitiannya langsung, anda bisa langsung download di sini Molecular Medicine

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.