Diposting Sabtu, 3 Juli 2010 jam 1:19 pm oleh The X

Bisakah Bulan Kehilangan Cahayanya?

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 3 Juli 2010 -


Bulan kehilangan cahayanya dan disatukan dengan matahari. Pernyataan ini memiliki dua bagian utama. Bulan kehilangan cahaya dan bulan dikumpulkan dengan matahari. Secara logika, pernyataan ini hanya benar bila kedua-duanya benar. Istilah logikanya adalah konjungsi. Pernyataan ini salah atau tidak sesuai fakta ilmiah jika bulan tidak dapat kehilangan cahaya, tapi bisa dikumpulkan dengan matahari. Pernyataan ini juga salah jika bulan dapat kehilangan cahaya tapi tidak bisa dikumpulkan dengan matahari. Pernyataan salah lainnya tentunya kalau kedua anak kalimat sama-sama salah. Sekarang kita periksa kemungkinan salah pertama.

Dapatkah bulan kehilangan cahayanya tapi bisa dikumpulkan dengan matahari?

Pertama, adalah fakta ilmiah kalau bulan tidak menghasilkan cahayanya sendiri. Ia semata memantulkan sinar dari matahari. Jadi, setiap saat, bulan memiliki bagian yang siang, dan bagian yang malam. Dan ini tergantung pada posisi matahari. Kita dapat melihat bulan hanya dari bumi (kecuali anda seorang astronot) dan saat bulan mengelilingi bumi, posisinya terhadap matahari ikut berubah. Ini mengapa kita melihat berbagai macam fase bulan.

Orang yang hidup di masa prasejarah sudah memahami ini. Orang yunani bahkan lebih jauh telah menemukan kalau bumi bulat berdasarkan bayangan bumi di bulan saat gerhana bulan. Jika bumi bisa punya bayangan di bulan, tentunya mustahil kalau bulan itu adalah sumber cahaya. Ambil contoh lampu anda sekarang. Apakah ada bayangan anda di sana? Tentu tidak. Karena justru lampu itulah yang memberi sinar dan bayangan muncul di daerah yang tidak menghasilkan cahaya. Jadi mengetahui kalau bulan bukan merupakan sumber cahaya, bukanlah sebuah keajaiban ilmiah. Ia sesuatu yang cukup logis untuk dipikirkan oleh orang yang punya banyak waktu melihat ke angkasa. Dan orang di masa prasejarah punya banyaaaak sekali waktu untuk melihat ke angkasa. Mereka tidak disibukkan oleh televisi, internet, dan segala jenis hiburan. Lampu juga belum ada.

Karena bulan bukan sumber cahaya, dapatkah ia kehilangan cahaya? Mungkin saja. Tapi tahukah kamu seperti apa benda yang tidak menghasilkan cahaya yang kehilangan cahaya sepenuhnya?

Untuk menjelaskan hal ini, kita menggunakan istilah ilmiah. Namanya Albedo. Albedo adalah besaran yang menunjukkan banyaknya persentase cahaya yang dipulangkan sebuah benda saat benda tersebut terkena cahaya dari sebuah sumber. Kalau benda tersebut mengambil semua cahaya yang datang kepadanya, maka albedo benda tersebut nol. Bila benda tersebut mengembalikan, artinya kehilangan, seluruh cahaya yang ia dapatkan, maka albedonya satu.

Kita dapat melihat benda yang bukan sumber cahaya bila benda tersebut kehilangan cahaya yang mengarah kepadanya. Cahaya tersebut tidak dapat diserapnya, itu mengapa ia kehilangan. Dan karena ia kehilangan cahaya itulah, kita dapat melihat benda tersebut. Benda bukan sumber cahaya yang memiliki albedo satu, berarti ia sangat terang dan reflektif. Seperti cermin. Benda yang albedonya nol, sangat gelap. Gelaap sekali. Gelap sempurna. Lubang hitam contohnya. Ia menyerap seluruh cahaya yang mengenainya. Apakah lubang hitam kehilangan cahaya? Tidak sama sekali.

Nah, bila anda dapat melihat bulan, berarti bulan memiliki albedo yang bukan nol. Fakta ilmiahnya, albedo bulan adalah 0.12. Dengan kata lain, bulan kehilangan 12% dari semua cahaya yang mengenainya. Bulan mengambil 88% sisanya. Menelannya, dan menyimpannya di pusat bulan, sebagai panas bulan (kalau di bumi namanya panas bumi)

Sekarang, kalau bulan kehilangan cahayanya, apa artinya? Ia akan sangat terang, terang benderang. Albedonya 1. Jaaaaauuuh dari yang namanya gelap. Tapi ada loh, orang yang mengira kalau “Ketika Bulan Kehilangan cahayanya” berarti bulan itu menjadi gelap gulita tanpa kelihatan satupun.

Kita sudah tunjukkan kalau itu mustahil berdasarkan fakta ilmiah. Tapi bila ia memaksa kalau bulan itu gelap gulita karena kehilangan cahayanya, berarti dia punya satu anggapan dasar yang salah. Anggapan ini adalah bulan itu sumber cahaya.

Yup, saya baru bilang kalau orang masa lalu cukup cerdas untuk mengatakan bahwa bulan bukan sumber cahaya. Tapi tidak semua loh. Ada juga yang lebih terbelakang dan mengira kalau bulan sumber cahaya. Dan karenanya, kalimat “ketika bulan kehilangan cahayanya” berarti bulan menjadi gelap gulita. Cahaya yang ia pancarkan habis, lenyap, tidak bersisa. Ia kehilangan semua cahayanya.

Tapi ada anggapan lain, selain mengatakan kalau bulan sumber cahaya. Anggapan lain ini berbeda dengan pemahaman kita tentang sumber cahaya yang lebih tua, anggapan ini adalah teori melihat.

Aristoteles dulu percaya kalau benda yang terang merubah udara sehingga kita dapat melihat. Benda tertentu tidak dapat merubah udara, sehingga kita tidak dapat melihatnya. Nah, apa artinya ini? Ini artinya sumber cahaya tidak lain adalah benda yang dapat merubah udara lebih hebat dari pada yang bukan sumber cahaya. Keduanya memiliki semacam energi, hanya saja matahari lebih kuat energinya daripada bulan. Teori ini aneh dan sudah gugur sekarang. Sekarang kita tahu kalau ada dua macam benda, benda yang mengirimkan cahaya, dan benda yang menyerap cahaya. Diantara kedua ujung ini, ada tak terhitung benda dengan derajat penyerapan cahayanya sendiri. Benda hitam sempurna, menyerap seluruh cahaya dari sumber cahaya. Benda cermin sempurna, membuang seluruh cahaya yang datang kepadanya.

Jadi, apa kesimpulan dari pernyataan “Ketika bulan kehilangan Cahayanya”?

Kesimpulannya adalah : Bulan menjadi sangat terang, ia menghamburkan semua cahaya yang datang padanya. Bila hamburan tersebut teratur, maka bulan akan terlihat seperti cermin. Kamu bisa bercermin di bulan. Waw. Kalau hamburan tersebut kasar, dan memang permukaan bulan itu kasar banget, maka bulan akan terlihat terang benderang. Ia memantulkan cahaya yang datang kepadanya kesana kemari.

Sekarang apakah mungkin kalau bulan kehilangan cahaya tapi ia gelap? Mungkin. Bila bulan dianggap sebagai sumber cahaya. Tapi bulan bukan sumber cahaya. Jadi ia tidak mungkin gelap kalau kehilangan cahayanya.

Ada alternatif lain selain bulan harus sumber cahaya? Ada. Yaitu dengan menganggap bulan itu memiliki kekuatan yang mampu merubah udara. Dan kita juga tau kalau teori ini sudah gagal total, hampir setengah milenium lalu. Ia sama gagalnya dengan teori kalau bumi ini datar.

Jadi, fakta ilmiahnya adalah bulan kehilangan cahaya, berarti dia akan terang benderang. Sekarang pertanyaannya, bisakah bulan kehilangan cahaya? Mungkin anda menduga kalau albedo 12% di atas hanya pada bulan biasa, bukan bulan purnama. Ups, anda salah. Setiap saat bulan albedonya 12%. Saat purnama, sinar yang 12% sepenuhnya nyampe ke bumi, itu kenapa kamu melihatnya terang. Pada saat bulan separuh, ga semuanya sinar yang dipantulkan bulan nyampe ke bumi, Cuma separuhnya aja (itu kenapa disebut bulan separuh).

Adakah sebuah fenomena alam menjadikan bulan kehilangan cahaya seluruhnya? Umm, mari kita lihat benda paling terang di tata surya. Benda yang tidak menghasilkan cahaya sendiri loh. Benda paling terang di tata surya adalah Enceladus. Albedonya 99%. Bayangkan! Kalau bulan kita diganti dengan enceladus, woooow, keren tuh. Kenapa albedo Enceladus bisa nyampe segitu besar? Itu karena permukaannya seluruhnya tertutupi dengan salju dan es. Sudah sangat terang, padat gak ada udara lagi, itu mengapa ia punya albedo luar biasa. Selain itu, permukaannya juga halus. Permukaannya halus karena selalu di sapu oleh air yang keluar dari air mancur di beberapa tempat. Air ini kemudian segera menjadi salju dan es, lalu menutupi kalau ada bagian-bagian yang agak cekung atau meruntuhkan bagian yang agak menonjol.

Bisakah bulan seperti Enceladus? Ya bisa kalau anda mau mengangkut air sebanyak banyaknya ke bulan sehingga permukaan bulan penuh dengan salju. Tapi itu sepertinya ga masuk akal kan? Seperti turunnya salju di Sahara. Atau kamu mau menutup bulan dengan cermin semuanya? No no, itu semestinya alami. “Ketika bulan kehilangan cahayanya” harus terjadi secara alami. Kalau di buat orang, bisa saja bukan ramalan toh.

Nah, bisakah secara alami bulan seperti itu? Well, kalau bulan ada air lalu di geser ke orbit Yupiter atau Saturnus. Enceladus bisa memiliki salju karena ia berada jauuuuuh banget dari matahari. Ia berada di orbit Saturnus. Apa bisa bulan nyasar sampe kesana?

Ya nggak dong. Bulan punya orbit. Ia terikat dengan bumi dalam sepasang sistem planet – satelit. Agar bulan bisa kabur dari bumi, harus ada massa besar yang menariknya. Kalau mau ia menjauh dari matahari ke arah orbit Saturnus, massa itu harus sedemikian besar dan berada di orbit Neptunus.Tapi dari mana massa itu datang? Bintang lain? Ah, sudah anggap aja ada. Tapi masalahnya, saat bulan tertarik ke orbit Saturnus, ia akan bertemu dengan cincin asteroid. Ia akan dibom oleh meteor-meteor raksasa sehingga ia hancur berderai. Bulan ga bakalan nyampe ke orbit Saturnus. Dia bakal habis.

Eh, tapi bisa aja bulan di tutup ama salju atau es. Kan bulan punya kutub es. Menurut penemuan tahun 1998, di kutub bulan ada deposit es seluas 1850 km persegi. Hayoo.

Bener tuh. Di bulan ada deposit es, tapi ia tercampur dengan batuan bulan. Bukannya seperti es atau salju di puncak gunung. Nggak. Salju di bulan meresap kebatuan sana sini. Ia gak mungkin bisa menumpuk menjadi seperti di Enceladus, yang licin mulus. Lagi pula, anggap saja ada tumpukan es di dalam bulan. Bagaimana ia keluar? Tumbukan oleh meteor? Tidak. Tumbukan meteor akan menghasilkan panas yang membuat salju tersebut langsung menguap dan lenyap ke luar angkasa. Bulan malah semakin banyak mendapat cahaya. Ia kian hitam karena ditonjok.

Kalau di dekatkan ke matahari bagaimana? Anak kalimat kedua mengatakan kalau bulan disatukan dengan matahari. Nah, ini bagian kedua dari anak kalimat pernyataan ini, untuk itu kita membahasnya di post lain. Silakan kesini.

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.