Diposting Jumat, 2 Juli 2010 jam 6:35 pm oleh Andy Milly

Berpikir Kritis: Fakta dan Argumen

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 2 Juli 2010 -


Banyak orang beranggapan bahwa penilaian kritis hanya cukup didasarkan pada dua hal, yakni: fakta dan opini. Namun sesungguhnya ada satu penilaian kritis lainnya yang seringkali dilupakan orang. Penilaian kritis ini bukan hanya penting dan bermanfaat bagi orang lain, tetapi juga sangat penting dan bermanfaat bagi orang yang melakukannya. Penilaian kritis ini didasarkan pada alasan atau argumen yang kuat.

Kita dapat mengambil contoh dari dunia hukum/pengadilan, di mana seorang hakim dituntut mampu mengambil keputusan dengan tidak sekadar melakukan penilaian sederhana melainkan melakukan penilaian yang didasarkan pada argumen-argumen yang kuat dengan berdasar pada bukti-bukti yang relevan dan logika. Ini berarti bahwa seorang hakim dituntut tidak mendasarkan berbagai penilaian dan keputusannya pada hal-hal subjektif, seperti: emosi, “perasaan”, instuisi, pandangan otoritas, atau pengalaman.

Dengan kata lain hendak dikatakan bahwa penilaian yang didasarkan pada argumen-argumen kuat yang didasarkan pada berbagai bukti dan logika seharusnya digunakan untuk menarik kesimpulan dan argumen-argumen itu seharusnya juga melampaui opini, entah opini kalangan/kelompok tertentu ataupun opini publik/masyarakat. Berbagai fakta yang ada juga bisa digunakan sebagai argumen, dan fakta akan memiliki kekuatan jika disertai oleh argumen-argumen yang logis. Oleh karena itu, fakta pada dirinya sendiri tidak cukup memiliki makna dan fungsi jika tidak ditunjang oleh argumen-argumen yang logis.

Untuk semakin memperjelas dan mempertajam penjelasan di atas maka di bawah tersaji tiga pertanyaan:

1. Mengapa anak malas belajar dan apa penyebab utama sehingga anak tersebut malas belajar? Jawaban yang akan diberikan terhadap pertanyaan ini berkaitan dengan fakta yang terjadi. Artinya, pertanyaan ini berkaitan dengan apa yang benar dan apa yang tidak benar berkaitan dengan penyebab utama kemalasan anak.

2. Apa dan bagaimana langkah (cara) terbaik dalam menangani anak yang malas belajar? Jawaban yang akan diberikan terhadap pertanyaan ini berdasarkan pada alasan-alasan yang baik atau alasan-alasan yang tidak baik berkaitan dengan penanganan terhadap anak yang malas belajar.

3. Cara apa yang akan anda pilih; mendorong anak atau memukulinya sehingga ia menjadi giat belajar? Jawaban yang akan diberikan terhadap pertanyaan ini pasti beragam karena berkaitan dengan perbedaan cara pandang yang dimiliki setiap orang.

Setelah membandingkan ketiga jenis pertanyaan di atas, maka pertanyaan yang kedua termasuk ke dalam penilaian kritis yang harus didasarkan pada berbagai argumen atau alasan yang kuat. Untuk menjawab yang pertanyaan kedua, seorang yang hendak berpikir kritis harus mengemukakan berbagai tolok ukur, seperti: kejelasan, kedalaman, dan konsistensi jawaban terhadap pertanyaan tersebut.

Ketika sebuah pertanyaan membutuhkan jawaban antara cara/langkah yang lebih baik dan cara/langkah yang tidak lebih baik, namun ketika jawaban-jawaban yang diberikan dianggap/diperlakukan semata-mata sebagai opini, maka pada saat itulah orang keliru karena menganggap opini setiap orang memiliki nilai kebenaran yang sama. Artinya, orang beranggapan jika opini setiap orang benar, tetapi hanya sudut pandang setiap orang yang berbeda. Dengan demikian, orang tersebut menganggap semua opini benar dan sudut pandang yang berbeda.

Jika ini terjadi maka sesungguhnya kemampuan menghargai pentingnya tolok ukur yang didasarkan pada akal sehat dengan ditunjang oleh nalar telah sirna, akibatnya kita biasa mendengar pertanyaan-pertanyaan, seperti: Bagaimana jika saya tidak menyukai berbagai tolok ukur itu? Mengapa saya tidak bisa menggunakan tolok ukur saya sendiri? Bukankah saya memiliki hak untuk mengutarakan pendapat saya sendiri? Bagaimana jika pada saat itu saya sedang berada dalam keadaan yang emosional? Bagaimana jika saya suka mengikuti intuisi saya? Bagaimana jika saya tidak percaya pada hal-hal irasional? Pada saat seperti itulah orang tidak mampu membedakan antara memberikan alasan-alasan yang kuat dengan ditopang oleh berbagai bukti relevan guna mendukung pendapatnya, dan semata-mata mengatakan pendapatnya sebagai sesuatu yang benar. Jika ini yang terjadi maka sesungguhnya orang tersebut tidak sedang berpikir secara kritis.

(Andy Milly)

Andy Milly
Seorang yang selalu berupaya berpikir kritis dan bersikap skeptis terhadap berbagai hal.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.