Diposting Kamis, 1 Juli 2010 jam 9:08 am oleh The X

Perbedaan Pria Wanita dalam Pengobatan Depresi

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 1 Juli 2010 -


Sama pentingnya dengan mendapatkan diagnosa untuk memastikan pria dan wanita mendapatkan perawatan yang sesuai dengan gender mereka. Telah lama, ahli klinis menganggap pengobatan psikiatrik memiliki efek yang sama pada kedua jenis kelamin. Namun 10 tahun lalu Susan Kornstein, seorang psikolog dari Virginia Commonwealth University, menerbitkan sebuah studi yang menunjukkan kalau pria tidak merespon sebaik wanita pada SSRI, kelas antidepresan yang memuat Prozac, Zoloft dan Lexapro.

“Ini menyebabkan perdebatan,” ingat Kornstein, belum lagi beberapa kemarahan, karena percobaan klinis yang membawa pengakuan FDA pada SSRI hanya melibatkan pria saja. “Para peneliti tidak ingin berurusan dengan kesulitan dalam mengendalikan siklus menstruasi,” kata Kornstein, sekarang direktur dari Institut Kesehatan Mental Wanita di universitas tersebut, sehingga mereka mengeluarkan wanita dari percobaan dan tidak mempertimbangkan kalau respon perempuan pada penyakit ini bisa jadi berbeda.

Namun penelitian Kornstein dan lainnya mengungkapkan sebuah celah gender yang nyata untuk efisiensi SSRI. Beberapa studi terbaru menunjukkan kalau pengobatan resep ini – 17 juta orang sudah mendapatkannya antara 2003 dan 2006, menurut CDC – bekerja paling bagus pada saat ada estrogen. Sebuah studi tahun 2008 yang diterbitkan dalam jurnal Psychoneuroendocrinology menemukan kalau SSRI sentralin (Zoloft) tidak berpengaruh pada tikus betina yang tidak menghasilkan estrogen. Obat ini malah memperkuat gejala mirip depresi, bila disertakan dengan perawatan estrogen. Saat Kornstein melakukan studi lanjutan tahun lalu, ia menemukan kalau pasien perempuan juga lebih mungkin daripada pasien laki-laki untuk mengalami remisi setelah perlakuan SSRI, bahkan walaupun depresi pasien perempuan secara rata-rata lebih parah.

Bertentangan dengan itu, studi terbaru Kornstein menemukan kalau pria merespon lebih baik pada antidepresan seperti imipramin (Tofranil) dan buproprion (Wellbutrin) yang mentarget neurotransmitter dopamine dan neropinephrine bukannya serotonin. Beberapa tahun lalu para peneliti dari NIMH dan Yale University menerbitkan hasil penelitian yang menjelaskan mengapa. Mereka menggunakan scan PET untuk mengukur tingkat protein transporter serotonin – target SSRI – pada pasien laki-laki dan perempuan yang telah menerima antidepresan di masa lalu namun sekarang tidak memakai lagi. Walau wanita muda menunjukkan pengurangan 22 persen transporter serotonin dalam bagian otak kunci, pasien laki-laki menunjukkan tidak adanya perbedaan dari orang yang sehat, menunjukkan kalau bagi pria, depresi tidak berurusan dengan masalah kekurangan serotonin.

Peneltian yang mendukung hasil ini adalah penemuan kalau wanita merespon berbeda pada antidepresan pada saat yang berbeda dalam hidupnya – yang kemudian pada gilirannya, menunjukkan mengapa wanita lebih mungkin mendapatkan depresi. Kornstein menemukan kalau, seperti pada pasien laki-laki, wanita pasca manopause tidak merespon SSRI sebaik wanita yang lebih muda dan memiliki hasil yang lebih baik dengan antidepressan yang mentarget pada norepinephrine dan dopamine. Selain itu, para peneliti Yale menemukan bahwa tidak seperti wanita yang lebih muda (dan seperti pria), wanita pasca menopause yang depresi tidak menunjukkan pengurangan tingkat transporter serotonin.

Penemuan-penemuan ini diikuti dengan bukti pada hewan yang menunjukkan pengaruh estrogen pada kesehatan mental pada usia yang berbeda – dari puncak di masa dewasa yang secara permanen merubah jalur stress otak hingga pada lenyapnya estrogen di saat menopause yang berpengaruh besar pada rangkaian otak dan pada respon wanita pada pengobatan.

Titik Set yang Berbeda

Otak manusia bekerja dengan zat kimia yang sama, namun pria dan wanita memproduksinya dalam jumlah yang berbeda – sebuah celah yang dapat menjadikan gender seseorang bisa merugikan. Di bawah adalah citra otak yang dibuat para peneliti dari Kanada yang menggunakan tomografi emisi positron (PET) untuk melacak produksi serotonin, sebuah neurotransmitter perangsang mood, pada 15 pria dan wanita.


Baris atas menunjukkan pasangan otak yang “dipotong” yang diambil dari dua subjek penelitian – satu pria dan satu wanita, keduanya sehat dan tidak depresi. Otak laki-laki membuat serotonin dengan lebih cepat. Baris bawah menunjukkan produksi serotonin pada dua orang yang sama setelah mereka melakukan diet rendah protein tanpa asupan asam amino tritophan. (Ditemukan pada kalkun, produk susu dan beberapa jenis ikan, tritophan adalah balok penting serotonin.) Dalam kondisi menantang ini, kedua orang memperlambat produksi serotonin mereka, namun pria tetap lebih cepat. Variasi gender dalam jumlah sirkulasi serotonin ini tampaknya menjelaskan kenapa antidepresan seperti Prozac yang mengangkat tingkat serotonin lebih efektif pada wanita.

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.