Diposting Kamis, 1 Juli 2010 jam 9:22 am oleh The X

Perbedaan Pria Wanita dalam Gangguan Mental

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 1 Juli 2010 -


Beberapa peneliti berpendapat kalau banyak, bila tidak semua, penyakit mental mempengaruhi pria dan wanita secara berbeda. Untuk contoh pada kecanduan, lihat artikel disini.

Schizophrenia

Gangguan ini menyerang pria dan wanita dalam jumlah yang sama namun dengan cara yang berbeda. Pasien perempuan lebih mungkin merasakan rasa takut dan depresi; pasien laki-laki lebih mungkin menunjukkan apati dan fungsi sosial yang buruk. Studi menunjukkan kalau pria schizophrenia lebih mungkin mengalami penurunan kognitif, seperti kesulitan berbahasa. Perbedaan fisik tampak pula. Studi terbaru dari psikolog Harvard University, Jill Goldstein menemukan kalau hipotalamus, sebuah daerah otak yang terlibat dalam proses emosi, membesar pada pasien schizophrenia perempuan, namun tidak pasien laki-laki.

Gangguan Stress Pasca Trauma (PTSD)

Wanita tampak lebih rentan pada penyakit ini: mereka dua kali lebih mungkin mengalami PTSD ketimbang pria, walaupun pria empat kali lebih mungkin mengalami peristiwa traumatis, menurut sebuah studi tahun 2008 yang diterbitkan dalam Annals of General Psychiatry. Wanita penderita PTSD lebih mungkin daripada pria untuk menarik diri dan bersembunyi, seperti dilaporkan baru-baru ini dalam British Journal of Psychiatry, namun laki-laki penderita PTSD biasanya dicirikan oleh perilaku yang sensitif dan memaksa. PTSD lebih mungkin berhubungan dengan depresi pada wanita dan ketakutan pada pria.

Gangguan Bipolar

Pria dan wanita memiliki kemungkinan yang sama untuk mengalami gangguan bipolar, namun pria cenderung menunjukkan tandanya lebih awal, dengan titik mulai rata-rata pada usia 22 dibandingkan wanita pada usia 26. Wanita, walau begitu, cenderung tenggelam lebih dalam dari pria dan lebih sering mengalami siklus antara depresi dan mania. Para peneliti percaya antidepresan dapat menghambat efek siklus cepat ini, yang menjelaskan mengapa ia lebih sering terjadi pada wanita: depresi mereka lebih parah, sehingga lebih mungkin mencari pengobatannya. Efek samping kognitif gangguan ini juga berbeda berdasarkan gender. Studi tahun 2009 dalam Psychological Medicine menemukan kalau gangguan bipolar berhubungan dengan penurunan ingatan jangka pendek pada pria namun tidak pada wanita.

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.