Diposting Kamis, 1 Juli 2010 jam 8:48 am oleh The X

Mengungkap Gejala Depresi Pria

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 1 Juli 2010 -


Untaian debat nature-versus-nurture lebih sulit terselesaikan saat pasien memasuki usia dewasa, dimana gejala depresi mulai memisah dengan jelas berdasarkan gender. Karena wanita jauh lebih mungkin mendapatkan gangguannya dan mengakuinya untuk dirawat, kriteria diagnostik depresi melengkung dengan kuat ke arah gejala perempuan. Kemarahan dan kerisauan yang ada pada depresi laki-laki tidak cocok dengan definisi gangguan tradisional, sehingga pengujian dapat melewatkan pria.

Tidak pula depresi ini sesuai dengan pemahaman tradisional mengenai jenis penyakit yang dapat dimiliki pria; karena alasan ini, kampanye peningkatan kewaspadaan tahun 2003 yang disponsori oleh Istitut Nasional Kesehatan Mental (NIMH) berjudul “Pria Sejati, Depresi Sejati.”

Julie Totten dari Waltham, Mass., dengan jelas mengingat saat kemarahan dan kesensitifan ayahnya yang berusia 54 tahun mungkin merupakan gejala depresi. Waktu itu, tahun 1990, tidak lama setelah saudara laki-lakinya bunuh diri. Ia pergi ke perpustakaan untuk meneliti sebab yang mungkin menyebabkan ia bunuh diri dan ia melihat sebuah artikel mengenai depresi pada pria. “Saat ayah saya sehat, ia orang yang sosial dan senang bergaul, namun ia dapat juga menjadi sangat sensitif dan mudah mengeluh atas apa saja,” katanya. “Saat ia seperti itu, anda belajar untuk memahaminya.” Ayahnya, tampak mengalami apa yang disebut Santayana sebagai amarah yang merentang tipis.

Totten tahu kalai ia akan sulit membujuk ayahnya menemui dokter. Saudara laki-lakinya mencoba bantuan dokter keluarganya beberapa saat sebelum ia mati, namun ia mengeluh hanya pada masalah luar, seperti sakit perut dan berat badan. Dokter menyuruhnya makan lebih banyak. Totten merawat ayahnya dengan penuh hati-hati. Ia membawanya menemui dokternya saat ia merasa kalau ia menderita flu dan menyusun jadwal kedatangan psikiater. Ia di diagnosa mengalami depresi dan mendapat sebuah inhibitor pengasupan ulang serotonin selektif (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor – SSRI), yang terus ia ambil. Sekarang Totten memimpin sebuah organisasi yang disebut Keluarga Kewaspadaan Depresi untuk membantu orang mengenali tanda-tanda depresi pada orang yang mereka cintai dan membawa mereka pada perawatan yang tepat. Ia mengatakan bahwa salah satu kelompok pendukung terbesar dalam organisasi iniadalah para wanita yang membahas bagaimana cara terbaik untuk meyakinkan suami mereka untuk mencari bantuan.

Memang, bagi pria yang depresi, menemui dokter cepat atau lambat bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati. Seperti judul sebuah artikel di jurnal terbaru mengenai tingginya tingkat bunuh diri pada laki-laki, “Wanita minta tolong, sementara Pria Bunuh Diri.” Beberapa peneliti sekarang menyarankan untuk menggunakan sistem rating yang dirancang untuk laki-laki, seperti Skala Depresi Laki-laki Gotland, sebuah kuesioner yang dikembangkan tahun 1999 yang berfokus pada gejala pria. Responden diminta menentukan, sebagai contoh, derajat perasaan risau, kacau, frustasi atau agresivitas.

Bagi anda yang memerlukannya, anda bisa mendownloadnya disini. Gotland Male Depression Scale.

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.