Diposting Kamis, 1 Juli 2010 jam 7:35 am oleh The X

Biokimia dibalik Depresi Wanita dan Pria

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 1 Juli 2010 -


FAKTA CEPAT

  1. Hormon seks estrogen dan testosteron berinteraksi berbeda dengan neurotransmitter yang bertanggung jawab atas perasaan stress dan perasaan tenang. Sebagai hasilnya, pria dan wanita berbeda dalam mengalami depresi dan dalam merespon antidepresan.
  2. Pria cenderung menunjukkan gejala depresi yang sulit dikenali seperti marah dan merasa tidak tenang
  3. Hormon bergejolak dan bergeser sepanjang rentang hidup, membuat pria dan wanita rentan pada depresi dalam waktu yang berbeda.

Biokimia hormon seks di otak sulit dipelajari karena hormon itu sendiri sulit diukur dan pengaruhnya begitu beraneka ragam. Namun ada bukti yang cukup kuat kalau mereka berperan penting dalam fisiologi otak secara kasar. Otak laki-laki cenderung lebih besar dari otak perempuan dan lebih lambat berkembang. Walau para ilmuan belum menemukan mekanisme dibalik penundaan perkembangan pada otak laki-laki, penelitian pada hewan telah menunjukkan kalau testosteron dapat meningkatkan ukuran otak dengan merangsang produksi faktor neurotrofik yang diturunkan dari otak (Brain Derived Neurotrophic Factor – BDNF), sebuah protein yang membantu perkembangan neuron. Pertumbuhan tambahan dapat berarti kalau otak laki-laki memerlukan waktu lebih banyak untuk mencapai kedewasaan sepenuhnya.

Banyak bukti juga menunjukkan adanya hubungan antara hormon seks dengan gangguan mood pada rentang usia. Testosteron dan estrogen memiliki efek berbeda pada neurotransmitter otak, khususnya dalam hipotalamus dan amygdala, dua tempat yang terlibat dalam proses emosi. Sebagai contoh, studi yang dilakukan di Albert Einstein College of Medicine tahun 2001 menunjukkan kalau saat perkembangan awal, testosteron dan estrogen memiliki efek berbeda pada neurotransmitter asam gamma amino butirik (GABA): testosteron merangsang transmisi GABA; estrogen justru menghalanginya.

Efek polarisasi ini membuat satu gender lebih baik dari gender lainnya. Pada masa kanak-kanak, perbedaan ini terbesar pada anak laki-laki. Karena GABA yang beerlebihan berhubungan dengan kejang-kejang pada bayi dan balita, efek peredam estrogen pada GABA tampaknya bersifat protektif, dan anak laki-laki hampir dua kali lebih mungkin dari anak perempuan untuk mengalami kejang. Anak laki-laki juga memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mendapatkan depresi saat anak-anak. Simon Baron-Cohen, seorang psikolog dan direktur Pusat Penelitian Autisme berpendapat kalau kelebihan testosteron saat bulan-bulan pertama perkembangan otak dapat membuat anak laki-laki rentan pada autisme dan gangguan neuropsikiatrik lainnya. GABA, BDNF dan faktor kimiawi lainnya juga melimpah gara-gara testosteron tampaknya berhubungan, atas alasan yang masih belum diketahui, pada gangguan-gangguan ini.

Para peneliti lainnya percaya kalau peran testosteron bersifat tidak langsung, membuat anak laki-laki lebih sensitif pada tekanan lingkungan seperti oksigen pralahir yang rendah, yang kemudian dapat menghasilkan gejala psikiatrik.

Saat puber, keseimbangan gender bergeser, dan anak perempuan menjadi dua atau tiga kali lebih rentan pada depresi daripada anak laki-laki. Para peneliti mengatakan kalau gejolak tingkat estrogen membuat anak perempuan rentan dengan meningkatkan level kortisol, hormon stress, dan dengan ikut campur dalam pasokan serotonin; kurangnya jumlah serotonin pada saat awal hidup dapat membawa pada rasa sakit, rasa takut dan gejala depresi lainnya. Bagi anak laki-laki, testosteron dapat berperan saat ini sebagai pelindung. Dalam sebuah studi yang diterbitkan tahun 2008 oleh Tracy Bale dan rekannya di University of Pennsylvania, testosteron diberikan kepada tikus betina dan membuatnya terlindungi dari gejala mirip depresi, namun hanya saat ia diberikan pada saat dewasa, menunjukkan kalau yang bermasalah bukan hanya hormon yang mana, tetapi juga kapan diberikan.
Hormon : Milikku dan Milik si Dia

Saat anda lihat pada molekulnya, estrogen dan testosteron tampak sama (dalam model ini, atom kelabu gelap adalah atom karbon; atom kelabu terang adalah hidrogen, dan yang merah adalah oksigen). Namun perbedaan struktur yang kecil ternyata berpengaruh besar. Ada reseptor yang berbeda buat estrogen dan testosteron di beberapa daerah otak, termasuk hipotalamus dan amygdala – daerah yang mengatur ingatan, emosi, tidur dan nafsu makan. Dan kedua hormon seks ini bereaksi berbeda dengan molekul lain. Estrogen, misalnya, dapat meningkatkan level hormon stress kortisol, yang dapat menjelaskan tingkat depresi yang tinggi pada wanita.

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.