Diposting Rabu, 30 Juni 2010 jam 11:39 pm oleh The X

Gender Ketiga (Bagian 2 dari 2)

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 30 Juni 2010 -


Lanjutan bagian pertama

Cintai dirimu sendiri

Menurut Blanchard, kasus demikian mencontohkan “kesalahan lokasi target erotis,” dimana individual ingin merubah penampilan mereka sehingga mereka lebih menyerupai orang atau benda yang mereka inginkan. Sementara sebagian besar orang mencari target erotisnya dimana saja, autoginefil rentan pada kesalahan strategi pencarian dimana mereka mengidentifikasi objek hasrat mereka dibawah kulit mereka sendiri.

Tidak mengejutkan kalau teori autoginefilia Blanchard memandang transeksual dengan cara yang salah. Jenis kelamin mungkin sebagian darinya, kata mereka, namun identitas mereka kurang berhubungan dengan hasrat yang menyimpang ketimbang perasaan semata kalau mereka wanita yang terjebak dalam tubuh pria. Namun seorang psikolog terkenal masa kini bernama Anne Lawrence — seorang transeksual laki-laki menjadi wanita – mengajukan versi teori Blanchard yang lebih bernuansa. Seperti halnya hubungan yang ber evolusi dari umumnya daya tarik penuh nafsu dan erotis menjadi bentuk cinta yang lebih romantis dan tidak terlalu menonjolkan bentuk seksual, menurutnya, begitu juga autoginefil yang perlahan mengembangkan keterikatan romantis non seksual pada diri mereka sendiri sebagai wanita.

Lawrence mendasarkan teorinya pada kesamaan yang ia temukan pada transeksual MtF heteroseksual dalam kliniknya di Seattle. Sebagian besar cukup maskulin dalam penampilan mereka dan memiliki hidup yang sukses sebagai pria, biasanya dalam profesi yang didominasi pria seperti teknik, bisnis atau sains komputer; seringkali mereka menikah dan punya beberapa orang anak. Menariknya, banyak yang memiliki ciri mirip autistik: mereka tampak lebih tertarik pada “benda” ketimbang orang lain dan memiliki latar belakang hubungan sosial yang buruk. Dan hampir tidak terbedakan, tunjuk Lawrence, mereka memiliki sejarah rangsangan seksual oleh berpakaian seperti lawan jenisnya.

Dalam artikelnya tahun 2007 berjudul Perspectives in Biology and Medicine, Lawrence menulis kalau transeksual MtF heteroseksual yang ia telah lihat “khususnya ingin melakukan operasi ganti kelamin secepat mungkin dan ingin agar alat kelamin baru mereka sebisa mungkin sama dengan alat kelamin wanita yang ia cintai dan khayalkan. Setelah operasi, para transeksual ini bukan hanya merasa lega telah menyingkirkan bagian kelaki-lakiannya, namun juga senang dengan alat kelamin wanita yang mereka miliki dan bersemangat untuk menunjukkannya kepada orang lain (seperti dalam pertemuan kelompok konsultasi transgender).”

Sebaliknya, transeksual MtF homoseksual – yang tertarik pada pria – tidak mengidealkan kelamin perempuan dan “seringkali tampak tak termotivasi atau merasa tidak suka mengenai gagasan untuk melakukan operasi penggantian kelamin,” tulis Lawrence. Sungguh, sebagian besar peneliti setuju kalau ada perbedaan yang bermakna antara transeksual MtF yang gay dan yang lurus – termasuk, mengejutkannya, budaya dimana mereka ada.

Kebudayaan yang Muncul

Pengaruh kebudayaan mungkin aspek yang paling kurang dimengerti dari transeksualitas – sebagian besar karena efek dari budaya sulit ditentukan dan dipelajari. Walau begitu, bukti-bukti menunjukkan kalau faktor-faktor ini sangat mempengaruhi apakah transeksual MtF tertentu cenderung menjadi gay atau lurus.

Di negara Asia seperti Korea, Malaysia, Singapura dan Thailang, kurang dari 5 persen transeksual MtF adalah heteroseksual. Sisanya adalah laki-laki biologis homoseksual, biasanya sangat feminin dalam perilaku maupun penampilan dan tertarik sepenuhnya pada pria. (Mereka biasa disebut kathoey atau bencong di Asia Tenggara). Sebaliknya, rasio gay dengan lurus ini hampir terbalik sempurna di Barat, dimana 75 persen atau lebih transeksual MtF Inggris dan Amerika adalah heteroseksual – tertarik pada wanita – atau biseksual.

Lawrence menerbitkan sebuah hasil penelitian secara online pada bulan Desember 2008 dalam Archives of

Sexual Behavior yang dapat membantu menjelaskan trend ini. Ia melaporkan kalau semakin masyarakat tersebut bersifat kolektivis – yaitu, lebih menghargai norma sosial daripada kebebasan berekspresi individual – semakin besar persentase transeksual MtF homoseksual. Korelasi ini, menurutnya, dapat dihasilkan dari fakta kalau di negara-negara kolektivis, seperti di Asia Tenggara, pria homoseksual yang berpenampilan normal tidak mendapatkan toleransi yang baik – mereka jauh lebih baik berperilaku sebagai wanita dalam peran transgender yang diterima seperti bencong. Pria yang terlalu maskulin untuk berperilaku sebagai wanita, di sisi lain, akan kesulitan bila mencoba melakukan hal tersebut.

Negara-negara seperti Amerika Serikat dan Inggris, di sisi lain, meletakkan lebih banyak nilai pada kebebasan berekspresi individual dan pilihan pribadi dan karenanya lebih toleran pada pria feminin dan transeksual MtF maskulin.

Jelas, ada perbedaan radikal dibalik ekspresi transeksualitas – perbedaan ini melibatkan algoritma kausal elusif pada pengalaman individual, kepribadian, biologi dan kebudayaan.

Para ilmuan yang meneliti di bidang ini telah membuat kemajuan yang berarti, namun banyak yang masih menjadi misteri. Untungnya, dekade terakhir telah melihat transeksualitas semakin “keluar dari rumah” sebagai minoritas seksual. Ada peningkatan tajam dalam jumlah orang dewasa yang dirujuk secara klinis telah mengalami gangguan identitas gender mulai dari tahun 2004 dan masih terus meningkat sekarang. Peningkatan dramatis ini mungkin hasil dari pengaruh penghapusan stigma oleh terpaan media.

Film seperti Boys Don’t Cry (1999) dan Transamerica (2005) menawarkan penggambaran transeksual yang simpatis, dan subjek gangguan identitas gender masa kanak-kanak telah dihadirkan di New YorkTimes, tayangan ABC berjudul 20/20 dan pada acara Oprah Winfrey Show.

Saat transeksual terus menjadi lebih terbuka mengenai pengalaman mereka, para ilmuan menyadari kalau perilaku lintas gender tidak hanya sebuah ekspresi mengesankan dari variasi manusia namun juga daerah kaya informasi untuk mempelajari masalah halus dalam seksualitas. Tidak ada tempat lain dalam sifat kita sebagai manusia dimana biologi, gender dan orientasi seksual bertemu kecuali pada transeksualitas, dan seperti telah kita lihat, seringkali pertemuan ini berliku-liku.

Diterjemahkan dari Scientific American Mind, Juni 2010.

Bacaan lanjut

  1. Deogracias, J.J. et al. October 2007. The Gender Identity/Gender Dysphoria Questionnaire for Adolescents and Adults. Journal of Sex Research, Vol. 44, No. 4, pp. 370–379.
  2. Lawrence, A. Autumn 2007. Becoming What We Love: Autogynephilic Transsexualism Conceptualized as an Expression of Romantic Love. Perspectives in Biology and Medicine, Vol. 50, No. 4, pp. 506–520.
  3. Roughgarden, J. 2009. Evolution’s Rainbow: Diversity, Gender and Sexuality in Nature and People. University of California Press.
  4. Zucker, K. J. October 2009. The DSM Diagnostic Criteria for Gender Identity Disorder in Children. Archives of Sexual Behavior.
The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.