Diposting Rabu, 30 Juni 2010 jam 1:05 am oleh The X

Gender Ketiga (Bagian 1 dari 2)

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 30 Juni 2010 -


Ratu Belfast, Irlandia Utara, adalah “Baroness” Titti Von Tramp, sebuah sosok yang sepenuh tubuhnya berhias dan mengkilap. Tingginya 213 cm dengan memakai tumit stiletto, mengenakan kacamata berwarna couture dan dimahkotai dengan surai platinum sempurna. Di sebarang malam, anda bisa menemukan yang seperti Von Tramp di salah satu nightclub, dengan bibir berwarna strawberry berpose di depan kamera atau di depan penggemarnya atau mungkin membuat wajah sang pengusaha yang sedang duduk merona merah karena elusan jarinya yang berkuku panjang dan kasar di pipi sang pria dan berkata “Anda keren.”

Bagi banyak orang, istilah banci sinonim dengan karakter yang lebih dari hidup yang memuat sebagian besar gay dan alter ego wanitanya yang berlebihan. Namun di semua demografi manusia, ternyata banci sangat beraneka ragam, dan hanya sedikit sekali yang dapat merubah status minoritas mereka menjadi karir yang maju di dunia hiburan.

Bagi individu yang lebih menyatu dengan masyarakat, hiburan malam jauh dari pikirannya dan bukanlah tempat yang mereka inginkan. Lebih jauh, motivasi psikologi untuk berdandan atau bertingkah seperti lawan jenis juga sangat beraneka ragam – banci hanyalah salah satu dari sekian banyak manifestasi dari perilaku lintas gender pada spesies manusia.

Saat para peneliti menjelajah latar belakang budaya, psikologi dan biologis dari transeksualitas dalam segala bentuknya, mereka terus dikejutkan oleh variasi individual yang mereka temukan. Dan banyak ilmuan percaya kalau keanekaragaman yang mengesankan ini memberikan kesempatan berharga untuk mengungkap benang-benang halus yang saling jalin antara jenis kelamin biologis, gender dan orientasi seksual. Faktanya, hanya karena sifat ini sering gagal untuk sesuai dengan jalur yang diramalkan dalam satu individual sehingga para ilmuan sadar betapa berbedanya variabel-variabel ini.

Gender VS Jenis Kelamin

Jenis kelamin biologis mungkin variabel yang paling jelas dari ketiga variabel di jantung sains transeksualitas. Kita semua memiliki seperangkat kromosom yang menentukan apakah kita laki-laki genetik (XY) atau perempuan genetik (XX). Tentu saja, saat kita belajar dari kasus pelari olimpiade Caster Semenya, seorang wanita yang digosipkan memiliki kejanggalan genetik yang membuat tubuhnya memiliki kekuatan seperti laki-laki, jenis kelamin kromosomal tidak selalu jelas. Ada banyak gangguan genetik dimana kromosom seks hilang atau berlebih (misalnya, XYY), dan gangguan kelahiran dapat pula terjadi sehingga bayi yang lahir memiliki kelamin yang meragukan. Namun secara umum, para peneliti yang mempelajari gangguan identitas gender – istilah klinis untuk apa yang kita sebut transeksualitas – tidak melibatkan individu yang memiliki kejanggalan kromosomal atau somatik seperti yang digosipkan pada Semenya.

Transeksual adalah orang yang memiliki kromosom yang normal – yang merasa, secara psikologis, seperti jenis kelamin yang berbeda. Untuk laki-laki yang merasa wanita, kita menyebutnya banci atau bencong, sementara untuk wanita yang merasa laki-laki, kita menyebutnya tomboy.

Hal ini membawa kita pada konsep gender, yang berbeda makna dengan jenis kelamin biologis. Identitas gender adalah perasaan subjektif ‘kejantanan’ atau ‘kewanitaan’. Dalam sebagian besar kasus, laki-laki biologis (genetik) memiliki identitas gender laki-laki, dan perempuan biologis memiliki identitas gender perempuan. Saat perbedaan terjadi antara jenis kelamin biologis seseorang dengan identitas gendernya, disforia gender yang tidak menyenangkan dapat terjadi. Keadaan emosi negatif yang berkepanjangan sering menjadi faktor dalam melakukan operasi perubahan jenis kelamin, yang banyak transeksual pilih untuk lakukan.

Variabel ketiga yang menghubungkan jenis kelamin dan gender adalah orientasi seksual. Sebagian besar laki-laki biologis tertarik pada perempuan biologis, begitupula sebaliknya. Namun fakta kalau homoseksual (dan biseksual) ada – dan, lebih penting lagi, memiliki spektrum keanekaragaman stereotipe yang mengguncang karena luasnya, mulai dari “lesbian lipstik” hingga pria gay yang sangat maskulin – menunjukkan dengan jelas kalau orientasi seksual juga terpisah dari jenis kelamin biologis dan identitas gender. Pantas ditunjuk kalau homoseksualitas sendiri bukanlah perilaku transeksual – pria gay, secara umum, tidak ingin menjadi wanita – selain itu transeksual dapat juga normal ataupun gay.

Fakta Cepat

Saat gender dan jenis kelamin tidak menyatu :

  1. Transeksualitas mewujud dalam banyak ragam. Psikologi dibaliknya bervariasi, namun sebagian besar transeksual merasa tidak senang dengan tidak sesuainya jenis kelamin biologis dan identitas gender mereka
  2. Dengan mempelajari transeksualitas, para ilmuan menyadari kalau jenis kelamin biologis, identitas gender dan orientasi seksual adalah tiga hal yang berbeda dan bersifat independen.
  3. Kebudayaan juga mempengaruhi orang yang menjadi transeksual – dan tidak selalu dapat diramalkan. Dalam kebudayaan tradisional, misalnya, orang dapat menjadi transeksual sebagai cara untuk memenuhi norma sosial yang ada.

Dengan mengurai tiga konstruksi yang berkaitan namun berbeda ini (biologi, gender dan orientasi seksual), para ilmuan mulai memahami lebih baik fenomena transeksualitas, sebuah istilah yang didefinisikan oleh Asosiasi Psikologi Amerika sebagai “identifikasi lintas gender yang kuat dan menetap serta ketidaknyamanan yang menetap dengan jenis kelamin biologis dirinya sendiri.” Penemuan mereka mengungkapkan kalau bahkan dalam masyarakat transeksual sendiri terdapat begitu banyak keanekaragaman. Sebagai contoh, laki-laki biologis yang mengalami disforia gender, dan karenanya “merasa” seperti perempuan, namun bisa jadi ia gay atau lurus untuk masalah orientasi seksual.

Dan melebihi campuran dan pencocokan yang terjadi antara jenis kelamin, gender dan orientasi seksual, sejumlah besar faktor budaya dan psikologis tampak berada dibalik atau mempengaruhi transeksualitas. Para ilmuan baru saja mulai menjelajahi pengaruh-pengaruh yang tampak tiada habisnya ini.

Pikiran dan Gender

Walaupun keadaan mental dapat beraneka ragam antara transeksual, sebagian besar melaporkan kalau mereka mengalami disforia gender – perasaan tidak senang atas ketidak cocokan jenis kelamin biologis dengan identitas gender. Contoh yang bagus adalah disforia gender pada kasus Chaz, yang nama sebelumnya adalah Bono Chastity, anak perempuan yang merasa laki-laki dari artis terkenal Sonny dan Cher. Setelah sebagian besar hidupnya saat dewasa dinikmati sebagai seorang lesbian, Bono mengumumkan di pertengahan tahun 2008 kalau ia pada kenyataannya adalah transeksual dan memulai transisi dari lesbian bernama Chastity menjadi laki-laki lurus bernama Chaz. Chaz sama cantiknya dengan pacarnya, Jennifer, saat Chastity belum melakukan transisi, setelah metamorfosis fisik Bono, mereka dipandang tidak lagi melalui hubungan homoseksual.) Sebagai transeksual perempuan menjadi laki-laki (FtM), Chaz telah membuang payudaranya dan melakukan terapi testosteron, yang membuat suaranya jatuh satu oktaf penuh dan juga memiliki kemampuan untuk ereksi.

“Gender terletak diantara kedua telinga anda, bukan diantara kedua paha anda,” kata Bono saat wawancara dengan ABC dalam acara Good Morning America tahun 2008. “Saat anak-anak, sudah sangat jelas. Saya merasa seperti anak laki-laki… Saat saya semakin dewasa, saya semakin bingung, karena mendadak muncul tekanan yang lebih banyak untuk menyesuaikan identitas gender saya. Dan karenanya banyak FtM memilih bergabung dalam masyarakat lesbian hanya karena inilah yang masuk akal.”

Hampir semua transeksual FtM memiliki kisah yang sama – mereka sangat homoseksual (tertarik pada wanita). Transeksual Laki-laki ke perempuan (banci – MtF), di sisi lain, merupakan kelompok yang jauh lebih beraneka ragam, dalam hal orientasi seksual maupun psikologi dibalik transeksualitas mereka.

Pada akhir tahun 1980an, psikolog dari University of Toronto bernama Ray Blanchard mengajukan teori “autogynefilia,” dimana ia berpendapat kalau transeksual MtF heteroseksual (yaitu, laki-laki biologis yang tertarik dengan wanita namun ingin berubah identitas pula menjadi perempuan) pada kenyataannya terangsang secara seksual oleh pikiran mereka sendiri yang merasa sebagai perempuan. Sebagai contoh autogynefilia, pertimbangan kasus seorang transeksual laki-laki menjadi perempuan bernama Nancy Hunt. Dalam memoarnya, Mirror Image (Holt et al, 1978) beliau menulis “Saya sangat tertarik dengan gadis,” tulis Hunt. “Saya mempelajari rambut mereka, pakaian mereka, penampilan tubuh mereka. Dan saya melihat banyaknya perbedaan antara kita. Saya disaat yang sama sayapun terangsang – Saya ingin memiliki mereka, bahkan saya ingin menjadi mereka. Dalam fantasi saya di malam hari, saat saya onani atau berkhayal menjelang tidur, saya menggabungkan kedua dorongan ini, memimpikan seks namun dengan diri saya sendiri sebagai seorang gadis.”

Bersambung ke Bagian Kedua

Sumber : Scientific American Mind, Juni 2010

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.