Diposting Rabu, 30 Juni 2010 jam 11:59 pm oleh The X

Depresi Pada Pria dan Wanita

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 30 Juni 2010 -


Oleh Erica Westly

Bagi Emily Dickinson, ia adalah “melankolis yang menetap.” Bagi sastrawan George Santayana, ia adalah “kemarahan yang membentang tipis.” Perubahan frase menyertai emosi yang berbeda, namun kedua penulis ini menjelaskan gangguan yang sama: depresi.

Keragamannya lebih pada masalah perbedaan sastra atau filsafati; ia juga mencerminkan fakta kalau yang satu adalah seorang wanita, dan satunya lagi adalah pria.

Ahli terapi telah lama tahu kalau pria dan wanita mengalami penyakit mental yang berlainan. Namun saat ahli klinis merancang Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, buku panduan yang mereka gunakan untuk mendiagnosa penyakit psikologi, mereka sengaja menjadikan deskripsi penyakit yang ada netral dari gender.

Bukti masa kini bertumpuk bahwa dengan mengabaikan masalah gender, ahli klinis telah memperlakukan pasien mereka dengan tidak baik. Kenyataannya, saat semakin banyak peneliti menyelidiki perbedaan jenis kelamin dalam depresi dan penyakit mental lainnya, kesimpulan yang tidak dapat dihindari adalah bahwa gender mempengaruhi setiap aspek gangguan ini – dari gejala yang dirasakan pasien hingga respon mereka pada perawatan pada gangguan ini sepanjang hidup seseorang.

Depresi adalah gangguan psikologi yang paling umum di dunia, mempengaruhi lebih dari 150 juta orang, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), atau sekitar 4 persen populasi dewasa global. Di Amerika Serikat, kemunculannya lebih banyak – 48 juta orang, atau 19 persen populasi dewasa, sebagaimana dilaporkan dalam survey terbaru yang dilakukan oleh Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. (Persentase yang tinggi di Amerika Serikat ini kemungkinan lebih disebabkan oleh kesadaran yang lebih tinggi akan adanya gangguan ini.)

Perbedaan yang paling jelas antara depresi laki-laki dan perempuan adalah frekuensinya. Studi populasi menunjukkan kalau wanita dua kali lebih mungkin tepengaruh ketimbang pria. Sebagai hasilnya, penelitian mengenai depresi dan gender secara historis telah berfokus pada mengapa wanita lebih rentan terhadap stress – walaupun, untuk alasan yang umumnya berhubungan dengan kenyamanan, sebagian besar studi obat-obatan anti depresan merekrut subjek laki-laki saja.

Penelitian yang lebih baru, walau begitu, mulai memasuki perbedaan yang lebih mendalam. Mungkin yang paling penting, dan paling sering disalah artikan orang dari kedua gender, adalah perbedaan gejala yang ditunjukkan oleh wanita dan pria. Pada wanita, emosi utama depresi umumnya kesedihan. Bagi pria, lebih mungkin untuk marah atau mudah tersinggung, sering disertai dengan kekacauan.

Sebagai hasilnya, banyak wanita dan pria, termasuk pria yang depresi, salah memandang kalau depresi laki-laki merupakan frustasi dan kekacauan yang umum bukannya gangguan yang serius yang memerlukan intervensi. Pria yang depresi juga lebih jarang mencari bantuan daripada wanita yang depresi, dan mereka juh lebih mungkin untuk melakukan bunuh diri. Menurut CDC, rasio bunuh diri laki-laki dibanding perempuan adalah empat banding satu.

Pertanyaan besarnya adalah apakah variasi ini hanya semata masalah biologi atau budaya. Beberapa peneliti percaya kalau kimia otak depresi sama pada pria dan wanita namun norma sosial tidak membiarkan pria menunjukkan kesedihan, sehingga mereka tampak seringkali kesulitan menunjukkan gejala mereka. “Mereka akan mengatakan, ‘Saya tidak bertindak seharusnya,’ atau ‘Saya terus bertengkar dengan pacar saya,’ bukannya mengatakan ‘Saya sedang sedih’,” kata Sam Cochran, direktur konseling di University of Iowa dan pengarang buku-buku psikologi laki-laki. “Namun saat kita melewatinya, gejala ini kurang lebih sama dengan pasien perempuan.”

Cochran dan lainnya yang menekankan pentingnya pengaruh budaya terus meningkat dalam minoritas. Sekumpulan bukti yang terus bertambah menunjukkan kalau perangkat biologi pria dan wanita yang berbeda memiliki pengaruh nyata pada mood dan perilaku – termasuk kerentanan mereka pada depresi dan gangguan psikologis lainnya. Mungkin tidak mengherankan, perbedaan ini muncl dari zat dasar yang menentukan gender sejak pertama kalinya : hormon seks. Memahami efek hormon ini di otak mungkin satu-satunya jalan untuk memastikan kalau setiap pasien depresi mendapat perawatan yang tepat.

Mesin Mood

Mulai di rahim dan terus tumbuh hingga dewasa, hormon seks, terutama testosteron dan estrogen, berperan penting dalam perkembangan otak, dan kemudian dalam mood – dan bukan hanya pada menyetel tahapan utama kehidupan : reproduksi.

Pria dan wanita membuat setiap hormon dalam jumlah yang beraneka ragam. Testosteron, yang dibuat di testis pada pria, dan estrogen, yang dibuat di ovarium pada wanita, adalah hormon seks yang paling aktif, namun pria juga membuat sedikit estrogen dan wanita juga membuat sedikit testosteron di organ seks mereka dan kelenjar adrenal. Hormon gender lain ini berperan vital pula bagi mereka. Testosteron membantu wanita mengatur menstruasi dan mempertahankan kepadatan tulang, massa otot dan libido; estrogen membantu pria mengatur cairan dalam saluran reproduksinya.

Produksi hormon seks beragam sepanjang rentang hidup. Tingkat hormon dapat bergejolak dari hari ke hari dan bahkan dari jam ke jam. Namun secara luas, keluaran memuncak pertama kali pada saat bayi dan masa kanak-kanak awal dan kembali pada tahun-tahun pra remaja, dipicu oleh kelenjar hipotalamus dan pituitari dan menandai tibanya saat puber. Tingkat hormon seks menurut secara bertahap di masa remaja akhir hingga awal atau pertengahan usia 50an, saat wanita memasuki masa menopause, setelah produksi estrogen menurun drastis dan pria memasuki masa yang disebut dokter sebagai masa andropause, ditandai oleh penurunan testosteron yang tidak setajam penurunan estrogen pada wanita. Pada pria dan wanita, para ilmuan telah menghubungkan tingkat penurunan hormon di masa tua dengan penurunan kognitif dan hilangnya ingatan.

Bersambung ke bagian dua

Sumber : Scientific American Mind, juni 2010

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.