Diposting Selasa, 29 Juni 2010 jam 10:19 am oleh The X

Wanita dan Obat-obatan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 29 Juni 2010 -


Oleh Emily Anthes

Kecanduan telah lama dipandang sebagai penyakit pria. Pria jauh lebih mungkin memakai zat adiktif dan sebagian atas alasan itu, penelitian pada kecanduan selama berpuluh tahun hanya memuat pengguna laki-laki.

Karenanya, ketergantungan obat lebih banyak diketahui pada pria daripada wanita, dan program dan pusat perawatan dibuat berdasarkan kebutuhan pria.

Namun terdapat petunjuk kalau celah gender ini tertutup, saat obat-obatan dan alkohol juga menjadi lebih sering dikonsumsi oleh remaja putri dan wanita dewasa. Ketergantungan alkohol telah meningkat pada wanita dalam dekade-dekade terakhir, namun tidak pada pria, sebagai mana hasil penelitian psikolog Richard A. Grucza dari Washington University

in St. Louis tahun 2008.

Dan terbalik dengan trend masa lalu, remaja putri sekarang mencoba mariyuana, alkohol dan rokok lebih sering daripada remaja putra, menurut survey terbaru dari National Survey on Drug Use and Health. Sementara itu survey menunjukkan kalau penggunaan obat-obatan ilegal pada remaja putri dan wanita meningkat dari 5.8 persen menjadi 6.3 persen antara tahun 2007 hingga 2008 sementara pada remaja putra dan pria justru menurun dari 10.4 menjadi 9.9 persen.

Lebih dari itu, literatur mengenai kecanduan pada perempuan terus bertambah dan menunjukkan kalau mereka jauh lebih mirip dengan laki-laki dalam hal kecanduan. Wanita malah lebih rentan terhadap penyalahgunaan zat dan efeknya, karena hormon seks perempuan mempengaruhi rangkaian hadiah di otak, yang kemudian mempengaruhi respon wanita pada obat-obatan. Studi menyarankan adanya perlakuan obat baru untuk kecanduan dan tip praktis untuk wanita agar dapat berhenti.

Jenis kelamin yang lebih lemah?

Walau para ilmuan telah mempelajari penggunaan obat-obatan pada wanita dalam skala kecil sejak tahun 1970an, kemajuannya relatif mandek sebelum 1994, saat National Institutes of Health memberi mandat pada sebagian besar penelitian klinis melibatkan wanita dan minoritas.

Saat penelitian pada perbedaan gender dipercepat besar-besaran, ditemukan petunjuk kalau remaja putri dan wanita lebih rentan terhadap kecanduan dan penyalahgunaan obat-obatan daripada pria. Para ilmuan menemukan kalau wanita lebih cepat beranjak pada penggunaan obat-obatan secara besar dan lebih cepat mendapatkan kerusakan fisik dan sosial yang menyertainya. Bahkan tikus betinapun secara obsesif lebih cepat kecanduan obat-obatan daripada tikus jantan.

Hormon reproduksi tampaknya berada di balik kerentanan ini. Peneliti membuang ovarium tikus betina sehingga tikus ini tidak lagi menghasilkan estrogen dan menemukan kalau hal ini menyebabkan mereka tidak lagi punya kecenderungan untuk mencari stimulan seperti kokain dan amfetamin. Selain itu, dengan memberikan estrogen kepada tikus betina yang ovariumnya sudah dibuang tetap dapat membuat sang tikus kembali kecanduan. Tahun 2004, ilmuan syaraf Jill B. Becker dari University of Michigan at Ann Arbor dan rekan-rekannya melaporkan kalau perlu enam hari bagi tikus tanpa ovarium untuk mulai mengekspos dirinya sendiri pada kokain – dalam percobaan ini, tikus tersebut memasukkan hidungnya sendiri pada sebuah lubang. Bertentangan dengan itu, tikus yang mendapatkan suplemen estrogen memulainya hanya dalam empat hari saja.

Para peneliti yakin kalau estrogen menambah tingkat kecanduan dengan merangsang jalur penghargaan di otak, memperkuat rasa melayang yang disebabkan oleh obat-obatan tersebut. Pemberian estrogen pada tikus yang ovariumnya dibuang meningkatkan drastis level dopamin, sebuah neurotransmitter yang terlibat pada persepsi penghargaan seperti makanan, seks dan obat-obatan.

Tinggi Hormon

Pada mamalia betina, estrogen tidak bertindak sendiri. Rekan hormonalnya, progesteron, tampak melawan kemampuan estrogen untuk memberikan kecenderungan kecanduan. Tahun 2006, tim penelitian Becker melaporkan kalau pemberian estrogen dan progesteron sekaligus pada tikus betina yang tidak memiliki ovarium tidak mempercepat proses kecanduan kokain. Ini menunjukkan kalau progesteron mungkin merupakan penawar bagi pengaruh pencarian kesenangan estrogen.

Penelitian yang lebih baru lagi membenarkan kalau respon wanita pada obat-obatan beraneka ragam sepanjang siklus menstruasi, dimana tingkat estrogen dan progesteron secara alami turun naik. Tahun 2007, studi ahli biologi syaraf klinis Suzette M. Evans dari Columbia University dan New York State Psychiatric Institute bersama rekan-rekannya menemukan kalau stimulan menjadi lebih nikmat bagi wanita saat fase folikular yang didominasi estrogen, yang mencakup sekitar dua minggu dari onset periode wanita hingga ia berovulasi, daripada fase luteal setelah ovulasi, saat tingkat estrogen maupun progesteron sama-sama tinggi.

Persepsi wanita pada penghargaan jenis lain – seperti uang, makanan dan seks – juga bervariasi pada siklus menstruasinya. Studi tahun 2007 oleh para peneliti NIH menscan otak wanita menggunakan MRI fungsional saat mereka bermain mesin slot. Mereka menemukan kalau rangkaian penghargaan wanita lebih aktif saat mereka menang jackpot saat fase yang diatur estrogen dari siklus mereka daripada saat fase dominan progesteron setelahnya. Aliran dan gejolak hormon perempuan karenanya memiliki pengaruh yang luas pada persepsi kesenangan dan hadiah, mempengaruhi motivasi wanita untuk terlibat dalam beraneka ragam perilaku.

Cara Cerdas untuk Berhenti

Dengan meningkatkan level progesteron secara buatan pada wanita akan membuat rasa tinggi yang mereka dapatkan dari obat-obatan. Dalam studi tahun 2006, tim peneliti Evan memberikan progesteron kepada 11 perempuan pengguna kokain saat tingkat hormon ditubuh mereka secara alami masih rendah. Wanita yang berpartisipasi melaporkan kalau mereka merasa “ketinggian” yang mereka peroleh berkurang dibandingkan pada saat mereka melakukan hal yang sama pada waktu siklus yang sama tanpa tambahan progesteron. (Sebaliknya, progesteron tidak mempengaruhi pengalaman subjektif pada perokok kokain laki-laki yang diwakili oleh 10 orang pecandu dalam penelitian ini, walaupun para ilmuan tidak tahu penyebabnya.) Bila progesteron dapat melemahkan rasa dari obat-obatan, ia mungkin membantu merawat kecanduan pada wanita – sesuatu yang sedang diuji Evans dalam masalah kecanduan kokain pada perempuan.

Semacam pembetulan kimiawi, dengan melihat pada kalender, dapat membantu wanita berhasil dalam berhenti merokok, minum atau menggunakan obat-obatan. Dalam sebuah studi tahun 2008, Sharon S. Allen, dokter medis keluarga dari University of Minnesota Medical School, dan rekan-rekannya meminta 202 orang perokok perempuan untuk mencoba berhenti merokok pada bagian kedua siklus mereka – saat tingkat progesteron mereka tinggi – dan yang lain melakukan hal yang sama di awal siklus mereka. Hasilnya mengesankan : 34 persen wanita di kelompok bertama tidak merokok 30 hari kemudian dibandingkan hanya 14 persen saja yang mencoba berhenti merokok saat tingkat progesteron mereka rendah. “Saat wanita merokok di awal siklus mereka, mereka mendapat lebih banyak tendangan dari nikotinnya, lebih nikmat mungkin, sehingga lebih sulit untuk berhenti,” jelas Allen. Dalam campuran hormon, kimiawi otak dan keinginan ini – seperti dalam banyak bagian kehidupan – waktu yang tepat adalah segalanya.

Wanita akan lebih mungkin berhasil berhenti merokok bila mereka mulai mencoba di hari dimana tingkat progesteron mereka tinggi.
Sumber : Scientific American Mind, Juni 2010

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.