Keyakinan
Suka dengan artikel ini?
Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh. Login
Oleh Robert Todd Carrol, 2004
Beberapa keyakinan dapat menghalangi pemikiran kritis. Bila anda yakin anda akan gagal dalam memecahkan sebuah masalah, anda mungkin tidak mau mencoba. Bila anda tidak mencoba, anda tidak akan memberi kesempatan pada diri anda untuk belajar dan mengembangkan bakat anda, termasuk bakat berpikir kritis. Mengejutkannya, sebagian besar penelitian telah menemukan kalau percaya bahwa kecerdasan adalah sesuatu yang dibawa sejak lahir, dan tetap tidak berubah sepanjang hidup karena gen, menghalangi orang dalam beberapa cara yang dapat mempengaruhi kemampuan mereka berpikir kritis. “Salah satu hal terbodoh yang dilakukan orang dengan pandangan kalau kecerdasan itu tetap adalah mengorbankan kesempatan belajar yang penting saat kesempatan tersebut mengandung resiko mengungkapkan ketidakpedulian atau membuat kesalahan” (Dweck 2002: 29). Kenapa? Karena orang yang percaya kecerdasan sepenuhnya tetap lebih cenderung takut gagal dari pada mereka yang memandang kecerdasan adalah potensi yang dapat dikembangkan. Mereka takut gagal karena mereka cenderung mengukur harga diri mereka dengan kecerdasan mereka. Mereka menafsirkan kegagalan sebagai tanda kalau mereka kurang cerdas. Mereka kemudian bermain aman. Orang yang percaya kecerdasan dapat dibentuk cenderung menafsirkan kegagalan sebagai tanda bahwa mereka tidak memiliki keahlian atau pengetahuan tertentu. Bukannya dikalahkan oleh kegagalan, mereka sering terinspirasi untuk mengambil tindakan dan mengambil lebih banyak resiko. Tanpa resiko, belajar itu mustahil. Dweck mengatakan : “Mahasiswa yang percaya kalau kecerdasan mereka tetap, terlalu peduli untuk terlihat pintar sehingga mereka bertindak bodoh..” (2002: 31).
Keyakinan lain yang dapat menutupi berpikir kritis adalah keyakinan kalau hanya orang bodoh yang mesti bekerja keras atau kalau orang cerdas belajar tanpa hambatan (Dweck 2002: 31). Fenomena ini disebut pencacatan diri (Berglas 1990), dan merupakan kecenderungan untuk melakukan hal-hal yang akan mencegah anda dari melihat seolah anda memiliki kemampuan yang rendah, bahkan bila hal ini akan meningkatkan kinerja anda. Saat orang mencacatkan diri, ini artinya mereka lebih peduli pada bagaimana caranya terlihat pintar (atau menghindari terlihat bodoh) daripada berusaha mencapai sesuatu (Dweck 2002: 32). Sayangnya, pencacatan diri adalah sesuatu yang cenderung dilakukan orang cerdas yang percaya dengan kecerdasan yang tetap karena mereka cenderung percaya segalanya mestinya mudah bagi mereka. Moral dari kisah ini tampaknya : Bahkan kalau ada batasan dalam kecerdasan yang diberikan oleh biologi, mempercayai kalau kecerdasan bersifat potensial yang dapat dikembangkan, akan seringkali menjadi perbedaan besar antara dua orang yang sama cerdasnya yang pemikiran kritisnya tidak sama.
Referensi
- Berglas, S. 1990. Self-handicapping: Etiological and diagnostic considerations. In R. L. Higgins (Ed.), Self-handicapping: The paradox that isn’t. Plenum.
- Dweck, C. S. 2002 Beliefs That Make Smart People Dumb. In Why Smart People Can Be So Stupid, ed. Robert J. Sternberg. Yale University Press.
- Urutan Genom Coelacanth Menginformasikan Evolusi Vertebrata Darat
- Misi Kepler NASA: Tiga Planet Berukuran Super-Bumi Ditemukan Dalam Zona Layak Huni
- Teknik Ultra-cepat Menyingkap Prinsip-prinsip Perancangan dalam Biologi Kuantum
- Studi Telur Mengungkap Eratnya Hubungan Evolusi Antara Burung dan Dinosaurus
- Ilmuwan Membentuk Sel-sel Saraf Baru – Langsung di Dalam Otak
- Ilmuwan Temukan Kemungkinan untuk Menciptakan Bahan Bakar dari Karbon Dioksida di Atmosfer
- Metascreen Ultra-tipis: Setahap Mewujudkan Mantel Tembus Pandang ala Harry Potter
- Kehadiran Manusia di Kepulauan Pasifik Sebabkan Kepunahan Massal Burung
- Kehidupan Ditemukan Dalam Ekosistem Terluas di Bumi, Jauh di Kedalaman Kerak Samudera
- Ilmuwan Menghidupkan Kembali Embrio Katak yang Telah Punah
