Diposting Senin, 28 Juni 2010 jam 7:00 am oleh The X

Hipnotis dan Ingatan Tertekan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 28 Juni 2010 -


Oleh Robert Todd Carrol, 2004

“Tidak ada yang namanya kepastian mutlak, namun ada jaminan kecukupan untuk kehidupan manusia.”

– John Stuart Mill

Bertentangan dengan apa yang diyakini kebanyakan orang, hipnotis tidak meningkatkan ketelitian ingatan secara nyata. Karena subjek sangat rentan sugesti saat dihipnotis, beberapa negara bagian tidak mengizinkan kesaksian hukum di pengadilan dibuat saat dalam kondisi terhipnotis (Loftus 1980). Pengadilan negeri Minnesota adalah negara bagian pertama yang membuang aturan kalau rekoleksi dalam kondisi terhipnotis dapat dipakai di pengadilan. Hal ini disetujui oleh Asosiasi medis Amerika (AMA). Komite AMA melaporkan kalau “tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ada peningkatan akurasi ingatan saat hipnotis.” Martin Reiser, direktur layanan sains perilaku untuk Departemen Kepolisian Los Angeles tidak setuju. Ia menganggap kalau hipnosis adalah kemampuan manusia yang alami untuk meningkatkan ingatan. Para pendukung hipnotisme mengutip kasus seperti pengemudi bus yang, saat dihipnotis, mengingat sebagian besar nomer plat mobil dari van yang ia lihat. Ini membantu memecahkan kasus penculikan Chowchilla. (Tanggal 15 juli 1976, satu bus penuh berisi anak sekolah dan sopirnya diculik saat mereka pulang dari acara renang.) Lawan menunjukkan fakta kalau orang dapat memiliki ingatan yang jelas saat dihipnotis namun ingatan ini salah dan kalau seseorang yang dihipnotis, karena sangat mudah terpengaruh sugesti, beresiko memakai khayalannya sendiri untuk mengisi celah ingatan. Namun bahkan bila beberapa ingatan hipnotis itu teliti, tidak ada kemungkinan yang signifikan kalau sebuah ingatan itu lebih handal saat dihipnotis daripada tidak.

Lebih kontroversial lagi adalah kasus ingatan tertekan. Beberapa psikolog percaya kalau seseorang dapat mengalami sesuatu yang sangat tidak nyaman dan kemudian segera melupakannya. Bertahun-tahun kemudian pengalaman ini dapat memicu rekoleksi peristiwa mengerikan. Banyak orang melupakan sesuatu dan sengaja menekan ingatannya atas pengalaman yang tidak mengenakkan. Namun semua bukti ingatan mendukung kalau semakin traumatis sebuah peristiwa, semakin mungkin orang tersebut mengingatnya. Satu-satunya pengecualian adalah saat seseorang menjadi tidak sadar atau saat ia terlalu muda untuk memprosesnya dalam bentuk bahasa(Schacter 1996).

Apakah buktinya, kalau ingatan yang ditekan itu teliti? Psikiater San Francisco, Lenore Terr percaya kalau ingatan traumatis dapat “jauh lebih jelas, lebih detil dan lebih tahan lama” daripada ingatan biasa. Ini mungkin benar namun isu nyatanya adalah ketepatan dari ingatan tersebut. Lebih jelas atau lebih detil tidak berarti ingatannya tepat. Mitos ketepatan ingatan tertekan yang jelas adalah landasan dari beberapa karya populer mengenai pelecehan anak oleh mereka yang mengaku ahli seperti Ellen Bass, Laura Davis, Wendy Maltz, Beverly Holman, Beverly Engel, Mary Jan Williams dan E. Sue Blume. Seluruh industri telah dibangun dari histeria yang tidak terhindari dari tuntutan pelecehan seksual pada anak. Ahli terapi yang diharap membantu anak sembuh dari trauma pelecehan anak disewa untuk mewawancara anak untuk menemukan apakah ia dilecehkan atau tidak. Terlalu sering ahli terapi memberikan sugesti kalau anak tersebut dilecehkan dan kemudian sang anak memiliki “ingatan” kalau dia dilecehkan. Tidak ada orang yang rasional akan menemukan orang tua atau perawat yang dapat dikatakan bersalah berdasarkan kesaksian yang disugesti demikian.

Semenjak maret 1992, Yayasan Sindrom Ingatan Salah (False Memory Syndrome Foundation) di Philadelphia telah mengumpulkan 2700 kasus orang tua yang melaporkan telah dituduh gara-gara penggalian “ingatan” dalam terapi. FMS Foundation mengklaim kalau kasus-kasus ini memuat sekitar 400 keluarga yang telah dituntut dan diancam karena tuduhan melakukan pelecehan terhadap anak.

Varian dari ingatan non pengalaman ini adalah anggapan kalau seseorang dapat mengingat pengalaman dari kehidupan di masa sebelumnya. Mitos ini telah diajukan mumnya oleh orang yang bermimpi atau di hipnotis yang mengingat pengalaman orang yang hidup di masa sebelumnya. Sebuah contoh klasik dari ingatan salah kehidupan sebelumnya adalah kasus Bridey Murphy. Tahun 1952, Morey Bernstein menghipnotis Virginia Tighe, yang mulai berbicara dalam bahasa Irlandia dan mengklaim kalau ia adalah Bridey Murphy dari Cork, Irlandia, dalam inkarnasi sebelumnya. Saat dalam hipnotis, Tighe menyanyikan lagu Irlandia dan menceritakan cerita rakyat Irlandia, selalu sebagai Bridey Murphy. The Search for Bridey Murphy (Tighe disebut Ruth Simmons dalam buku itu) adalah best seller. Rekaman sesi hipnotis ini diterjemahkan kedalam lebih dari selusin bahasa. Rekaman ini juga laris terjual. Ledakan reinkarnasi di Amerika pun dimulai. Tidak pernah lagi seorang penerbit amerika kehilangan uang karena buku yang membahas reinkarnasi, regresi kehidupan sebelumnya, channeling, hidup sebelum hidup, atau topik sejenisnya yang menghidupkan keinginan manusia untuk hidup selamanya.

Koran-koran mengirim reporter ke Irlandia untuk menyelidiki. Apakah ada seorang berambut merah bernama Bridey Murphy yang hidup di Irlandia pada abad ke-19? Siapa tahu, namun satu koran – Chicago American— menemukannya justru di Chicago pada abad ke-20. Bridie Murphey Corkell hidup di sebuah rumah seberang jalan tempat Elizabeth Tighe dibesarkan. Apa yang Elizabeth laporkan saat dihipnotis bukanlah kehidupan sebelumnya namun masa kanak-kanaknya.

Banyak orang terkesan dengan detil dan kejelasan ingatannya, namun detil ini bukanlah bukti ketepatan. Tighe terlibat dalam sebuah konfabulasi. Sebuah konfabulasi adalah fantasi yang tidak sadar menggantikan peristiwa dalam ingatan. Sebuah konfabulasi dapat berdasarkan sebagian atas fakta atau sepenuhnya merupakan buatan imajinasi. Istilah ini dipakai untuk menjelaskan “ingatan” dari orang yang sakit jiwa, ingatan dari penculikan alien dan ingatan salah yang dibangun oleh ahli terapi atau pewawancara yang ceroboh (Carroll 2003: 81).

Seperti yang dikatakan Martin Gardner “Hampir semua subjek hipnotis mampu mengalami trance mendalam saat berbicara mengenai inkarnasi sebelumnya bila saja sang hipnotis memintanya. Ia akan mengatakan sebebas-bebasnya juga mengenai inkarnasinya di masa depan..” Dalam tiap kasus seperti ini dimana ada pemeriksaan masa lalu yang cukup pada subjek, ditemukan kalau pikiran tanpa sadar subjek saling rajut dengan potongan-potongan informasi yang telah lama hilang yang diperolehnya saat ia kanak-kanak” (Gardner 1977).

Referensi

  1. Carroll, R.T. 2003 The Skeptic’s Dictionary: A Collection of Strange Beliefs, Amusing Deceptions & Dangerous Delusions. Wiley & Sons.
  2. Gardner, M. 1957 Fads and Fallacies in the Name of Science. Dover Publications, Inc.
  3. Loftus, E. 1980. Eyewitness Testimony. Harvard University Press.
  4. Schacter, D.L. 1996. Searching for Memory – The Brain, The Mind, and The Past. Basic Books
The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.