Diposting Kamis, 24 Juni 2010 jam 8:14 am oleh The X

Dunia Kontroversi

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 24 Juni 2010 -


HGP punya banyak implikasi – dan tidak semuanya positif loh. Bagi para kritikus tentunya. NIH membuat orang mulai mengkritik tahun 1991. Pasalnya mereka berusaha untuk mempatenkan beberapa bentuk DNA. Memberi hak paten pada penemu gen tentunya memberikan dorongan ekonomi bari para ilmuan, tapi di sisi lain, hal ini akan membatasi akses pada informasi yang diperoleh dan pemanfaatan penemuan tersebut. Hal ini terutama karena sudah pasti kalau para pemegang hak paten ini adalah perusahaan-perusahaan swasta yang mendanai penelitiannya dan mereka membatasi manfaat nyata yang akan dihasilkan dari penemuan tersebut.

Beberapa ilmuan dan politikus mengkritik kemampuan untuk menghasilkan informasi genetik detil dari manusia yang dapat memberi terlalu banyak kekuatan bagi orang yang mengetahuinya. Sebagian besar negara tidak memiliki hukum yang melindungi warga negara atas penyalahgunaan informasi genetik, misalnya, untuk karyawan dan asuransi.

Tanpa adanya pengobatan resmi yang efektif, pengujian genetik dapat digunakan untuk mencegah orang mendapatkan pekerjaan atau asuransi. Asuransi bahkan dapat membuat pengujian wajib untuk memeriksa klaim. Hukum yang ada belum mampu melindungi privasi seseorang: apakah individu terlindungi saat menyerahkan informasi genetiknya, sementara informasi demikian masih dapat diperoleh dengan mengambil sampel dari kerabatnya sendiri.

Mimpi buruk

Gagasan kalau informasi genetik dapat dipakai untuk mengendalikan nasib seseorang mengingatkan kita pada mimpi buruk umat manusia, seperti yang ditampilkan dalam film Gattaca, tahun 1997. Dalam masa depan yang horor, film ini menceritakan sebuah karakter yang memakai segala cara untuk menutupi identitasnya agar bisa mendapatkan pekerjaan yang sebenarnya tidak boleh ia dapatkan karena DNA nya. Faktanya, kita bahkan tidak perlu melihat pada fiksi ilmiah untuk memperoleh contoh masyarakat dan gerakan yang telah memakai genetika untuk pengendalian sosial.

Contoh yang paling mengerikan adalah Nazi jerman, yang melakukan pembunuhan massal bukan hanya kepada orang Yahudi dan etnis serta kelompok sosial lainnya, namun juga pada orang yang menderita gangguan mental atau sifat lain yang “tidak diinginkan”. Fungsi dari DNA ditemukan hanya satu tahun setelah keruntuhan Nazi tahun 1945, dan kita bisa membayangkan bagaimana seandainya kalau Adolf Hitler dan para jenderalnya mendapatkan pengetahuan ini. (DNA adalah salah satu konsep ilmiah dan teknologi yang berkembang subur pada akhir Perang Dunia II namun untungnya, Hitler, tidak mampu memanfaatkannya. Penemuan lainnya adalah roket, senjata nuklir, radar, komputer dan televisi.)

Nazi adalah contoh gerakan yang disebut eugenik, yang berasal dari akhir abad ke – 19 dan awal abad ke-20. Berdasarkan gagasan kalau masyarakat dapat diperbaiki dengan mendorong “sifat” baik untuk dikembang biakkan sementara sifat “yang tidak diinginkan” ditekan sehingga tidak dapat berkembang biak. Eugenik pernah menjadi gerakan yang subur, salah satu pendukungnya adalah hakim Mahkamah Agung Amerika Serikat Oliver Wendell Holmes, Jr. (1841-1935).

Masalah lain

Adanya eugenik memunculkan ancaman kalau seseorang, atau sekelompok orang, dapat “menjadi tuhan” dengan mempermainkan hidup orang lain. Rasa takut dramatis lainnya dari rekayasa genetik adalah ancaman kalau sebuah virus yang dirancang secara genetik dapat menjadi sangat berbahaya dan mematikan, lalu meyebar kesana-sini.

Ada masalah etika lainnya. Misalnya saja, apakah pantas bagi ilmuan untuk membangun perusahaan swasta untuk tujuan komersil dengan mendapatkan untung atas penemuan yang mereka buat saat mereka bekerja sama dengan badan penelitian yang didanai oleh masyarakat?

Tidak heran, mengapa anggaran untuk HGP di Amerika Serikat mendapatkan alokasi yang kecil terutama pada implikasi etik, hukum, dan sosial (ELSI) dari proyek ini. Badan Kerja ELSI dituntut untuk menyelidiki isu keadilan, privasi, pelayanan kesehatan dan pendidikan. Sementara itu, ada banyak oposisi dalam rekayasa genetika, bioteknologi dan HGP. Dan yang paling mengesalkan dari ini semua, baik individu dan kelompok tertentu, adalah Kloning. Kita akan membahas kloning dalam post mendatang.

The X
Sains adalah sebuah pengetahuan universal, ilmu pengetahuan tidaklah sama dengan pengetahuan dongeng. Kadang, fakta lebih menyakitkan daripada doktrin / pandangan turun temurun.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.